Membangun Peradaban yang Rahmatan Lil Alamin

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 10 Mei 2019 09:51 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL-- Menjelaskan perihal Pencerahan Berfikir Secara Kefilsafatan Dalam Risalah Kenabian, Musa Asy'arie menekankan bahwa, orang berakal atau ulul albab harus cerdik menempatkan antara kecerdasan intelektual dan wahyu yang turun sebagai guide manusia, baik di dunia dan akhirat.

Menurutnya, membangun peradaban yang rahmatan lil alamin ialah dengan cara menempatkan kesadaran berfikir sebagai pondasi untuk selalu mengingat kekuasaan Tuhan. Karena berfikir merupakan implementasi dari perintah yang banyak disebutkan dalam Al Qur'an. Maka sebagai konsekuensi keberimanan, manusia ketika melakukan tindakan selain dilandasi dengan kitab suci al Qur'an sebagai wahyu penuntun, juga harus dilandasi akal untuk berfikir.

"Pelibatan akal untuk berfikir dan wahyu sebagai penuntun adalah mutlak dalam upaya membangun peradaban yang rahmatan lil alamin. Tidak boleh dilakukan secara parsial, atau memilih salah satu dari dua hal tersebut,” ungkapnya dalam acara Pengajian Ramadhan 1440 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis (5/10) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menambahkan, berakal merupakan landasan beramal dan beribadah. Karena dalam beribadah disyaratakan adanya kesadaran akal, serta dalam beramal juga harus berlandaskan kesadaran akal, sehingga amal yang dilakukan bernilai.

Selain dua komponen tersebut, bangun rancang untuk pembangunan peradaban yang dikontruksi oleh agama Islam (al Qur'an dan Sunnah) juga dengan melibatkan hati. Kejernian dan kebersihan hati sebagai komponen dalam pembangunan peradaban serta memahami fakta realitas terdapat dalam al Qur'an surat al Hajj ayat 46.

"Dalam persepektif Islam, membangun peradaban bukan hanya mengunakan rasio, tapi juga harus melibatkan hati yang jernih,” tambahnya.

Merujuk pada realitas historis, pengunaan atau pelibatan hati dalam pembangunan peradaban ini telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Kecerdasan yang Rasulullah miliki merupakan sebuah oase ditengah panasnya pengembaraan mencari kebenaran bagi para pemikir. Sehingga upaya perbaikan yang dilakukan oleh seorang muslim adalah berpangkal pada kearifan dan kebijaksanaan yang telah Rasulullah ajarkan atau pun lakukan.

Kejernihan hati yang dipadukan dengan kecerdasan berfikir akan menciptakan pemikir yang setiap perbuatan selalu inheren dengan perkatan dan tidak bercerai diantara keduanya. Dengan adanya hal ini, maka penerapan sunnah Nabi bagi seorang muslim bukan hanya pada dimensi formil dan permukaan, misalkan sebatas meniru cara berpakaian saja. Seharusnya juga meniru keteladanan Nabi dalam kecerdasan berfikir menjadi suatu yang pokok atau fundamental. (a'n)

Shared:
Shared:
1