Berangkat Haji Bermodal Empat Set Kursi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 03 Mei 2019 12:03 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) pada bulan April lalu merilis waktu tunggu antrean haji di Indonesia untuk 34 provinsi di Indonesia. Dalam rilis tersebut, Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan waktu tunggu antrean paling lama, yakni 39 tahun, dan untuk yang paling pendek adalah 11 tahun bagi Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Maluku.

Fakta tersebut menunjukkan tingginya animo umat muslim Indonesia dalam menggenapkan rukun Islamnya. Meski demikian, tidak semua orang yang memiliki modal uang bisa melaksanakan rukun islam yang kelima ini. Hal ini tidak jauh beda dengan yang dirasakan oleh Mu’ammal Hamidy, mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur periode 2000-2005.

Dalam suasana serba kekurangan, Mu’ammal Hamidy beserta istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga lebih sering menjalani hidup ‘prihatin’ (hidup sederhana), malah terkesan sangat sederhana. Berdua Ia menempati rumah yang sangat sederhana milik sang istri, hidup dengan gaji Rp 400,-hasil dari menjadi Guru di Pesantren Persis di Bangil dan Pengelola Majalah Al-Muslimun.

Kekurangan dalam hal ekonomi tidak melunturkan semangatnya dalam menuntut ilmu. Setelah pada tahun 1968 lulus dari Universitas Pesantren Islam (UPI) di Bangil, kemudian pada tahun 1969 Ia dikirim oleh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) untuk melanjutkan studi di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Jam’iah Islamiyah Madinah, dan mendapat gelar Licence (Lc) pada tahun 1972. Kemudian pada tahun 1980 diangkat menjadi da’i Atase Agama Kedubes Saudi Arabia.

Setelah sekain lama memendam keinginan untuk bisa melaksanakan Ibadah Haji, Mu’ammal Hamidy beserta istri akhirnya pada tahun 1983 harusnya sudah bisa berangat ke Tanah Suci Mekkah, namun terganjal pada urusan visa. Uang yang selama ini Ia tabung sebagai bekal dan ongkos untuk berhaji kemudian diinfaqkan, yaitu dirupakan dalam barang empat set meja kursi guru untuk Perguruan Muhammadiyah di Bangil.

Bertamuke rumah Allah SWT bukan hanya karena adanya uang, tapi juga membutuhkan restu dari pemilik rumah tersebut. Kegagalan naik haji pada tahun 1983 menjadi sebuah berkah tersendiri, tepat setahun setelah itu. Mu’ammal Hamidy beserta istri berangkat haji dengan gratis, diundang oleh Wizaratul Hajji Saudi sebagai pemandu ziarah jama’ah haji Indonesia.

Pasca berhaji, jejak pria kelahiran Lamongan 1940 di Persyarikatan Muhammadiyah terus menanjak. Pada tahun 1983 Ia terpilih menjadi Ketua Bagian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bangil, pada tahun 1985-1990 terpilih menjadi Ketua PCM Bangil, 1990-1995 terpilih menjadi Ketua Mejelis Tarjih PWM Jatim, dan pada Musyawarah Wilayah (Musywil) PWM Jatim ke-12 di Magetan terpilih sebagai wakil Ketua PWM Jatim periode 2000-2005. Sebelumnya pada tahun 1995-2000  Ia menjabat sebagai Pembina Bidang Ekstern PWM Jatim.

Sumber : Buku, Siapa dan Siapa ’50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur’

Shared:
Shared:
1