Muhammadiyah sebagai Pelopor Pendidikan yang Memadukan Agama dan Pengetahuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 02 Mei 2019 12:21 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Berdirinya Sekolah Dasar (SD) yang berjumlah (1128), Madarsah Ibtidaiyyah (MI) 1768, Sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) 1179, Madrasah Tsanawiyah (MTs) 534, Sekolah  Menengah Umum (SMU) 509, Sekolah Menegah Kejuruan (SMK)  249, Madrasah Aliyah (MA) 171 dan 143 Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah bentuk optimisme dan sumbangsih  Muhammadiyah untuk bangsa. 

Sumbangsih Muhammadiyah itu tentu tidak terlepas dari kiprah KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sekaligus peletak dasar yang mempelopori pendidikan modern di tanah Kauman, Yogyakarta. Berawal dari transformasi sosial menuju transformasi intelektualnya, Ahmad Dahlan memulai pendidikan dari guru mengaji. Kemudian setelah pulang dari Makkah yang kedua, beliau baru mendidirkan Madrasah Diniyah Islamiyah di Kauman pada 1 Desember 1911.

Terinspirasi organisasi Budi Utomo yang didirikan oleh kaum intelektual hasil pendidikan Barat, Ahmad Dahlan kemudian tertarik. Dimana saat itu Ahmad Dahlan yang termasuk pengurus Budi Utomomemberi penerangan masalah agama kepada para pengurus, bahkan bisa mengajar agama Islam pada siswa Kweekschool di Jetis, walaupun diluar jam sekolah dan bagi siapa yang mau.[1]

Organisasi Budi Utomo telah menginspirasi Ahmad Dahlan yang saat itu disela kesibukannya memeberikan pelajaran agama di sekolah Belanda, kemudian menggembakan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah menjadi sekolah yang menggunakan sistem Barat, memakai meja, kursi dan papan tulis, diberi pelajaran umum dan pelajaran agama di dalam kelas.

Pada waktu itu anak-anak santri Kauman masih merasa asing pada pelajaran dengan sistem sekolah. Di sini nampaklah pengaruh modernisasi dalam bidang Pendidikan Islam, dari sistem pondok yang hanya diajarkan pelajaran agama Islam dan diajar secara perseorangan menjadi secara kelas dan ditambah dengan pelajaran umum.

Ahmad Dahlan mempunyai keyakinan bahwa jalan yang harus ditempuh untuk memajukan masyarakat Islam Indonesia adalah dengan mengambil ajaran dan ilmu Barat.  Sebagaimana nasehat beliau tentang belajar, bahwa pelajaran terbagi atas 2 bagian. Belajar Ilmu (pengetahuan dan teori) dan belajar amal (mengerjakan dan mempraktekan). Semua pelajaran harus dengan cara sedikit demi sedikit, setingkat demi setingkat.

Dari peranan Ahmad Dahlan itulah Muhammadiyah hadir menjadi pelopor pengembangan pendidikan yang memadukan studi agama dan studi ilmu pengetahuan. Setidaknya ada dua sumbangan utama Muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan agama modern. Di satu sisi, Muhammadiyah berjasa merintis perumusan metodologi dan kurikulum pendidikan dan pengajaran yang menintegrasikan pengetahuan agama dan ketrampikan pekerjaan (vocation).

Pada waktu itu di Kauman Yogyakarta, pelajaran keagamaan dipahami semata sebagai bekal kehidupan rohani dan tidak memiliki hubungan atau pun relevansi dengan ketrampilan dan profesionalisme. Dengan mengadopsi sitem pendidikan di sekolah Belanda, Ahmad Dahlan mempelopori penyelenggaraan pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi kehidupan akhirat, tetapi juga mempersiapkan siswa dengan ilmu pengetahuan yang akan berguna bagi kehidupan dunia.

Di sisi lain, Muhammadiyah juga ikut berjasa meletakkan contoh awal penyelenggaran pengajaran agama dengan sistem klasik di mana siswa dididik berdasarkan kelompok-kelompok sesuai tingkat pengetahuannya. Di masa itu –dan masih banyak di praktikkan hingga sekarang—metode pengajaran agama adalah kegiatan individu (dikenal dengan metode sorongan) di mana seorang siswa belajar secara individual pada guru. Ahmad Dahlan bahkan sudah mencita-citakan Muhammadiyah memiliki universitas-universitas yang maju sebagai tempat peresemaian ilmuwan-ilmuwan muslim. (Andi).

Sumber:

(1). Amin Abdullah, Fresh Ijtihad (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2019) Bab Rekontruksi Pendidikan Muhammadiyah

(2). Majelis Kewirausaahaan PWM DIY, Ensiklopedi Muhammadiyah, (Yogyakarta, LPPM UMY, 2015) hlm. 23

(3).Yusron Asrofi, Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta : Yogyakarta Offset, 1983) hlm. 51

Shared:
Shared:
1