Islam dan Etika Welas Asih sebagai Basis Gerakan Kemanusiaan Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 09 April 2019 13:33 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — “Pertolongan Moehammadijah b/g. P.K.O. Itoe, boekan sekali-kali sebagai soeatoe djaring kepada manoesia oemoemnja, soepaja dapat menarik hati akan masoek kepada agama Islam atau Perserikatan Moehammadijah, itoe tidak, akan tetapi segala pertolongannja itoe semata-mata karena memenoehi kewadjiban atas agamanja Islam.”

Catatan tersebut bisa ditemukan di Alamanak Moehammadiyah yang diterbitkan oleh Hoofdbesture (HB) Muhammadiyah bagian Taman Poestaka pada tahun 1929, halaman 120-122.

Sikap humanitarian Muhammadiyah juga didukung sejarah lain, tepatnya ketika Gunung Kelud meletus pada 20 mei 1919. Kiyai Sudja’ yang merupakan anggota inti Muhammadiyah kala itu setelah berkompromi dengan KH. Ahmad Dahlan untuk melakukan aksi kemanusiaan, membantu korban letusan gunung.

“Kiyai Syudja’ setelah berdialog dengan KH Ahmad Dahlan saat itu meminta untuk kepada semua anggota Muhammadiyah dan masayrakat umum lainnya untuk mengumpulkan makanan, untuk disalurkan kepada Korban letusan Gunung Kelud, 1919,” ungkap Budi Setiawan, Ketua Lembaga Penangulangan Bencana (LPB) Pimpinan Pusat (PP) Muhamamdiyah pada Senin (8/4) saat menerima kunjungan rombongan Universitas Kebangsaan Malaysia ke Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta.

Gerakan kemanusiaan oleh Muhammadiyah dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa sikap tolong-menolong yang dilakukan tanpa memandang etnis, agama, dan latar belakang politik. Melainkan bersumber dari ajaran Islam, dan mengedepankan nilai kemanusiaan yang ada. Termasuk dalam membangun kerjasama, Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang inklusi bagi semua pihak ketika melakukan kerja kemanusiaan.

Menurut Budi, kerjasama dengan pihak lain merupakan etos kerja kolektif kolegial. Karena ketika menyoal kemanusaiaan, sekat yang harus dihilangkan. Semua saling bersatu-padu membangun harmonisasi perjuangan untuk mengentaskan persoalan yang mendera kemanusiaan. Pengetahuan tentang kesatuan hidup manusia adalah sebuah pengetahuan yang amat besar yang meliputi bumi dan kemanusiaan.

Seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah ketika memberikan pertolongan kepada korban konflik sosial yang terjadi di Rohingya, Myanmar. Menurutnya, pertolongan tersebut diberikan bukan semata-mata karena yang menjadi kobran adalah muslim. Pertolongan yang diberikan Muhammadiyah juga pernah diberikan kepada korban Gempa Bumi di Nepal pada tahun 2015, yang mayoritas warganya adalah beragama Budha.

Munir Mulkhan, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ditempat terpisah menyampaikan, gerak inklusi Muhammadiyah ini yang menyebabkan pada masa awal banyak menarik perhatian tokoh pergerakan dengan berbagai latar belakang pemikiran.

Termasuk didalamnya ada Kiai Misbah yang juga dikenal sebagai Kiai Merah yang merupakan aktivis gerakan sosial kiri, Dokter Soetomo yang tertarik pada Muhammadiyah karena sebagai gerakan modern, tapi bukan Darwinis melainkan gerakan humanis berbasis etika welas asih, dan Soekarno, Presiden pertama RI yang tertarik pada Muhammadiyah karena paradigma rasional dan kemodernan welas asih. (aan)

Shared:
Shared:
1