Muhammadiyah, Ketokohan dan Narasi Pembebasan Kaum Perempuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 05 April 2019 09:48 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL — Narasi baru tetang para tokoh Muhammadiyah perlu digarap lebih mapan, sehingga pecahan-pecahan susunan narasi sejarah tokoh Muhammadiyah terkodifikasi dalam narasi yang utuh sebagai khazanah pengetahuan generasi yang akan datang.

Narasi pembebasan yang digaungkan oleh Muhammadiyah sejak awal berdirinya, menjadi gagasan yang selalu segar untuk dibahas serta selalu menemukan momentum di setiap zaman dan keadaan. Narasi pembebasan yang dimulai oleh KH. Ahmad Dahlan ketika menghayati Surat al Ma’un, yang kemudian berkembang dengan tambahan penguatan keilmuan yang berasal studi kasus lapangan.

Seperti yang disampaikan oleh Siti Aisyiyah, Badan Pengurus Harian (BPH) Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta dalam Seminar Kemuhammadiyahan dan Kebangsaan, yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Doktor Politik Islam, Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UM) (4/4), di Gedung Pascasrajana UMY.

“Tafsir yang dilakukan Ahmad Dahlan adalah tafsir amali, terapan dan transformasi,” ucap Siti.

Narasi tersebut berhasil menelurkan gagasan-gagasan besar yang ditransformasi oleh para muridnya. Murid-murid tersebut yang menjadi tokoh pembebasan Muhammadiyah bukan hanya dilakukan oleh kelompok laki-laki saja, melainkan kelompok perempuan juga memiliki peran besar dalam narasi dakwah pembebasan yang dilakukan oleh Muhammadiyah.

Feminisme ‘ala Ahmad Dahlan

Hal ini menjadi peneguhan bahwa peran laki-laki dan perempuan dalam dakwah adalah sama, seperti yang dicontohkan KH. Ahmad Dahlan ketika melakukan pembebasan atas penindasan yang terjadi terhadap perempuan. Inisiatif pembebasan terhadap belengu penindasan kepada permpuan bukan dilakukan sendiri olehnya, melainkan mengikutsertakan peran Istirnya, Nyai Siti Walidah. Dengan mengumpulkan perempuan-perempuan disekitarnya untuk belajar.

“Pembebasan yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan terhadap penindasan yang terjadi kepada perempuan adalah melalui penguatan pendidikan, dan pembentukan organisasi. Sehingga dogma yang ada di abad 20 tentang perempuan bahwa, ‘Surgo nunut, neroko katut’ bisa dipangkas habis melalui gerkan pembebasan melalui ilmu pengetahuan,” terang Aisyah.

Ahmad Dahlan, ketika melakukan road show dakwah ke beberapa daerah dan beberapa instansi juga sering menyertakan para perempuan yang menjadi santri dirumahnya saat itu. Tersebut nama, Munjiyah Ketua ‘Aisyiyah yang pernah memimpin selama lima periode, setiap periodenya adalah satu tahun ketika itu (1932-1936). Munjiyah tercatat sebagai satu-satunya perempuan yang berbicara diatas mimbar ketika Ahmad Dahlan dan beberapa tokoh rapat Muhammadiyah di Kediri.

Alumni Madrasah Diniyah dan Qismul Arqa’ ini berhasil memukau peserta yang hadir. Ia juga termasuk perwakilan ‘Aisyiyah ketika merumuskan Kongres Perempuan yang pertama, di dalam kongres tersebut Munjiyah berpidato mengangkat tema “Derajat Perempuan”. Munjiyah dalam pidatonya menekankan bahwa, perempuan dan laki-laki Islam itu masing-masing berhak berkemajuan dan berkesempurnaan.

Selanjutnya ada nama Siti Bariyah binti Hasyim bin Isma’il Ketua Pertama ‘Aisyiyah yang  memimpin selama tujuh periode (1917-1929). Beliau termasuk salah satu murid ‘kinasih’ di rumah Ahmad Dahlan. Selain di rumah Dahlan, Siti Bariyah juga merupakan alumni dari Neutraal Meisjes School. Karena tempat belajarnya di sekolah non pesantren ini, Siti Bariyah sering diminta oleh KH Ahmad Dahlan untuk mengisi pengajian di beberapa instansi dengan mengunakan bahasa Belanda.

“Ibu Bariyah pandai bahasa Belanda, ia juga orator handal yang sering diajak Kiyai Dahlan untuk ‘Touring Dakwah’,” ungkap ‘Aisyiyah.

Melimpahnya tokoh-tokoh Muhammadiyah yang belum banyak diketahui khalayak umum termasuk di internal Muhammadiyah sendiri, Hilman Latief mengatakan perlu untuk membuat narasi baru tetang ketokohan para tokoh Muhammadiyah. Narasi tersebut sebagai upaya untuk mengenalkan tokoh-tokoh tersebut kepada generasi masa kini dan akan datang.

“Perlu membuat narasi baru tentang tokoh Muhamamdiyah. Karena di Muhammadiyah bukan hanya ada KH. Ahmad Dahlan, melainkan masih banyak tokoh lain yang sejarahnya terpecah-pecah dan perlu dikodifikasi,” pungkas Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UMY. (a'an)

Shared:
Shared:
1