Nasyiatul Aisyiyah Diharap Hidupkan Literasi dan Dakwah Digital

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 02 April 2019 13:16 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, TASIKMALAYA -- Zaman terus bergulir dengan segala perubahan yang menyertainya. Adalah sebuah keniscayaan bagi perempuan untuk senantiasa melek perubahan agar tak tergilas oleh perubahan itu sendiri. Hal tersebut dibahas dalam seminar “Peran Perempuan dalam Membangun Karakter Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0” pada Ahad (31/3) di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS). Seminar yang digelar oleh Pimpinan Daerah (PD) Nasyiatul Aisyiyah (NA)  Kota Tasikmalaya ini dihadiri oleh anggota NA se-Priangan Timur.

Diyah Puspitarini, Ketua PP NA menyampaikan tentang peran perempuan Muhammadiyah sejak pertama kali muncul. Para pendiri Aisyiyah telah dengan cerdas membaca perubahan, bahwa perempuan harus melek baca dan tulis.

“Nyai Walidah meminta kepada KH Ahmad Dahlan untuk membuat sebuah forum pengajian khusus perempuan, dimana di sana perempuan belajar pula baca tulis. Maka dibentuklah pengajian Sopo Tresno pada 1915, sebagai cikal bakal pendirian Aisyiyah yang akhirnya berdiri dua tahun kemudian, yaitu 1917,” ungkap Diyah.

Pada Kongres Perempuan I dikenal sosok Siti Munjijah dan Siti Hajinah sebagai dua orang utusan Aisyiyah yang turut andil dalam sejarah pembentukan organisasi perempuan pertama di Indonesia. Kongres yang jatuh pada 22 Desember 1928 pada akhirnya dinobatkan sebagai Hari Ibu.

Setelah terbentuk Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi Aisyiyah muda, maka kiprah perempuan Muhammadiyah semakin nyata terlihat.

“Pada masa kini, Nasyiatul Aisyiyah makin concern dalam meneguhkan gerakannya. Kami mengadakan Pashmina (Pelayanan Remaja Sehat Milik NA) sebagai gerakan dalam menjaga kesehatan fisik dan mental generasi muda yang kian apatis terhadap lingkungan dikarenakan sikap individual yang kian mencuat seiring terbaliknya kondisi semenjak adanya gadget, yaitu yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Kami juga mengawal masalah stunting (gizi buruk) agar menjadi masalah negara,” jelasnya.

“Di samping itu, kami telah mengembangkan NA hingga ke luar negeri. Insya Allah sebentar lagi akan ada PCNA Penang di Malaysia. Ini bukan PC Internasional. PCI adalah, jika yang menjadi anggotanya adalah orang Indonesia yang ada di luar negeri untuk  atau bekerja. Jika anggotanya adalah warga setempat, maka disebut PC saja,” jelasnya lagi.

Ade Kartini,  Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) NA Jawa Barat juga menyebutkan, Nasyiah Jawa Barat telah mengusung beberapa program terkait perempuan yang harus melek perubahan. “Kami memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana dakwah. Misalnya, kami membuat website pwnajabar.or.id yang murni dikelola oleh nasyiah,” kata dia.  

Sebagai turunannya, setiap PDNA juga diharapkan memiliki website sendiri sebagai upaya menghidupkan literasi dan dakwah digital. (Syifa)

Sumber : Hidayah NU

 

Shared:
Shared:
1