Menggebrak Program di Awal Syawal, MPM Selenggarakan Pelatihan Pertanian Terpadu

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 30 Agustus 2012 17:19 WIB

 

LAMONGAN. Beberapa hari setelah hari raya Iedul Fitri 1433 H, Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah langsung melakukan pelatihan pertanian terpadu dan kewirausahaan di Lamongan, khususnya para petani binaan Muhammadiyah di Kecamatan Solokuro dan Laren(Selasa, 28/08/2012).

 

Menurut Ahmad Ma’ruf dalam sambutan pembukaan, pelatihan tersebut adalah tindak lanjut pelatihan yang sebelumnya diselenggarakan di Malaysia. Karena itu kebanyakan peserta pelatihan, selain merupakan para petani dari kedua kecamatan, beberapa peserta adalah para Tenaga Kerja Indonesia yang pulang dari Malaysia.

 

Ahmad Ma’ruf menambahkan, untuk membuktikan bahwa acara tersebut banyak diikuti oleh para TKI, pembaca kalam ilahi dibawakan oleh Zainul Muttaqin, TKI yang baru pulang dari Malaysia. Zainul Muttaqin sendiri adalah TKI yang berasal dari desa Dadapan, Kec. Solokuro. Hadir dalam acara pelatihan ini, Miftah, ketua Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah Bandar Sun Way, Malaysia.

 

Pelatihan ini diikuti oleh ratusan peserta. Menurut ketua panitia, Drs. Mundi, peserta undangan sebenarnya hanya 300 orang, tetapi diluar dugaan peserta yang ikut hadir lebih membludak lebih dari 300 orang. Dibuktikan dengan jumlah kursi yang disediakan panitia tidak mampu menampung jumlah peserta, beberapa diantaranya berdiri dibelakang dan samping ruangan. Tempat acara berada di Gedung Dakwah Muhammadiyah Solokuro tampak penuh dihadiri peserta.

 

Dalam materi pembuka pelatihan, Said Tuhuleley, ketua MPM, menyampaikan bahwa spirit pemberdayaan yang dilakukan Muhammadiyah dilandasi oleh spirit Al-Maun. Muhammadiyah sekarang tidak lagi hanya berfokus kepada pengembangan amal usaha seperti Rumah Sakit dan lembaga pendidikan, tetapi juga langsung kepada ekonomi ummat, terutama pada masyarakat marginal.

 

Petani menurut ketua MPM ini adalah salah satu pihak yang sering dikorbankan dalam pembangunan, ditengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi, banyak diantara para petani yang justru semakin miskin. Menjadi petani bukan lagi pekerjaan yang menjanjikan. Bahkan  tidak sedikit petani yang justru kekurangan pangan. Padahal pangan menurutnya adalah persoalan yang sangat penting, sampai saat ini beras dan garam berasal dari impor. Cara pandang selama ini hanya bertolak pada ketahanan pangan, bukan kedaulatan pangan. Ketahanan pangan akan cukup hanya dilakukan dengan impor. Negara yang menggantungkan pangan kepada impor akan berbahaya bagi masa depan bangsa itu.

 

Petani sudah tidak lagi dianggap sebagai profesi. Pada daerah dibasis-basis pertanian, petani kebanyakan justru terbelit kemiskinan. Di Lamongan salah satunya, akibat kemiskinan tidak sedikit petani yang pergi menjadi TKI.

 

Pulang menjadi TKI bukan lantas persoalan selesai setelah para TKI memiliki uang yang cukup, setelah beberapa waktu pulang menjadi TKI, mereka kembali miskin karena tidak bisa mengelola keuangan. Untuk itulah mengapa MPM mendampingi para petani sekaligus para mantan TKI di Lamongan.

 

Untuk memaksimalkan pelatihan, MPM mengajak serta para konsultan. Beberapa diantaranya Dr. Bambang Suwignyo sebagai pakar peternakan dari UGM dan Ir. Syafii Latuconsina sebagai pakar pertanian. Melengkapi pemberdayaan, PP Aisyiyah melalui PW Aisyiyah Jawa Timur melakukan pendampingan terhadap ibu-ibu para petani dan TKI. Pada pelatihan tersebut, hadir dua orang fasilitator daerah yang telah berhasil mengembangkan pertanian terpadu. Ardianto dari Balai Diklat MPM di Sawangan, Magelang, dan Triyana dari Selo, Boyolali. Di Boyolali bahkan, model pertanian terpadu MPM telah dijadikan model PNPM Mandiri.

 

Malam sebelum acara, rombongan Tim MPM PP Muhammadiyah sudah hadir dilokasi, tim yang dipimpin oleh ketua MPM ini menginap di rumah salah satu TKI, di Payaman. Kehadiran tim MPM sejak awal ini menjadikan pelaksanaan acara dapat dilakukan secara maksimal dan tepat waktu. 

Shared:
Shared:
1