Jangan Gunakan Tafsir Keagamaan untuk Kepentingan Politik Sesaat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 03 Maret 2019 20:00 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL –  Ahmad Syafi’i Maarif atau yang kerap akrab di sapa Buya Syafi’i mengingatkan agar para ulama, elit politik dan umat untuk tidak menghadirkan Islam dengan bahasa yang melangit. Menurutnya agama Islam yang diturukan Allah SWT ke bumi melalui Nabi Muhammad SAW adalah untuk membangun peradaban bukan melakukan kebiadaban.

Hal itu sampaikan Buya Syafii Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2005 dalam acara Ngobrol Bareng Buya di Masjid Al- Muhtar Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Sabtu (3/3). Acara yang di gagas oleh Keluarga Mahasiswa Islam ISI Yogyakarta ini membedah tema “Membedah Carut-marut Keberislaman di Indonesia”.

Mengutip ayat Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 107, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam,”. Buya Syafii menuturkan, bahwa rahmat itu bukan hanya untuk manusia saja, tetapi untuk semua termasuk alam, binatang dan tumbuhan.

Buya Syafii juga mengingatkan ulama, elit politik dan umat kembali ke konsep dasar ajaran agama sehingga tidak menggunakan tafsir keagamaan untuk kepentingan politik sesaat yang menguntungkan pihak-pihak tertentu.

“Kita tidak perlu atau bahkan ikut-ikutan menggunakan tafsir keagamaan Islam untuk kepentingan politik, apalagi tafsiran-tafsiran ada itu beragam dan datang dari berbagai negara dan wilayah yang belum tentu mengacu pada observasi,”jelasnya.

Buya Syafii berpesan, agar umat Islam memahami ajaran Islam secara mendasar dan memahami Al-Qur’an dengan kesucian dan kejernihan hati. Karena sesungguhnya Al-Qur’an akan mudah dipahami jika manusia mempunyai dua hal, pertama akal (pikiran) yang waras, kedua hati yang suci.

“Kalau kedua hal itu terpenuhi, gampang bagi kita (umat Islam) dan tidak terpengaruhi oleh tafsiran-tafsiran yang sebagian besar dilatar belakangi oleh kepentingan politik sesaat. Kalau sudah itu yang terjadi, Maka Islam dan bahkan Al-Qur’an bisa menjadi kepentingan politik yang merubah tasfirnya,” pesannya.  

Soal politik Buya menyinggung, bahwa politik sebetulnya bertujuan baik, yaitu untuk menciptakan kemakmuran bersama menegakkan keadilan, wujudkan keadilan bersama yang demokrat dan pluralisme sesungguhnya.

Dengan mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 41, Buya Syafii mengingatkan agar para elit pemimpin, ulama dan umat yang diberi kedudukan di bumi benar-benar mengamalkan ayat tersebut.

 “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang maruf dan mencegah dari yang mungkar, dan kepada Allahlah lembali urusan”.

Jika ayat itu diamalkan betul, kata Buya Syafii manusia akan benar-benar bertaqwa, dimana taqwa bisa menjaga diri dari kehancuran agama atupun bangsanya.

Di hadapan para mahasiswa dan alumni ISI Yogyakarta  yang kebanyakan bergelut di bidang kesenian, Buya Syafii juga mengajak agar para seniman mengambil peranan keIslaman dan mengingatkan elit politik akan persoalan bangsa.

Dengan mengutip kata bijak Rusia, Buya Syafii berkata “Kalau politisi gagal mengurus bangsa seniman harus turun tangan membereskannya,” ujarnya.  

Di akhir sesi Buya Syafii optimis betul bahwa kecarut-marutan keberislaman yang terjadi di Indonesia hanya karena kesalahan dasar dalam memahami Islam dan Al-Qur’an tidak sampai kepada konflik yang berdarah-darah dan terjadi peperangan terjadi di Timur Tengah. Buya Syafii optimis bahwa Islam yang sudah tersebar di semua negara masih sangat mungkin memimpin peradaban dunia. (Andi)  

 

Shared:
Shared:
1