Cak Nun: Hadirnya Muhammadiyah Karena Azas Kebermanfaatan dan Kebaikan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 28 Februari 2019 14:57 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SLEMAN -- Muhammadiyah hadir bukan untuk berkompetisi saling mengalahkan, tapi Muhammadiyah hadir karena azas kebermanfaatan dan kebaikan.

Hal tersebut disampaikan Emha Ainun Najib atau sering disapa Cak Nun, Kamis (28/2) di Auditorium Abdulkahar Mudzakir Universitas Islam Indonesia dalam Dialog ‘Kebangsaan Islam, Kebangsaan dan Perdamaian’.

Kompetisi di era globalisasi adalah suatu zaman yang tidak terelakan, karena memang kontruksi globalisasi adalah persaingan. Hal ini menyebabkan azas kebermanfaatan dan kebaikan kehilangan tempatnya.

"Kebermanfaatan dan kebaikan di zaman globalisasi tergusur posisinya dengan azas kompetisi dan azas sailing mengalahkan,” tambah Cak Nun.

Cak Nun memandang hal ini bukan sebagai tolak ukur kemajuan kemanusiaan, karena nilai dasar kemanusiaan azas utamanya adalah kemanfaatan dan kebaikan.

Mengutip perintah Al Qur'an, bahwa posisi Al Qur'an dan manusia adalah mentadaburi bukan memberikan interpretasi sepihak yang akhirnya memuncul tafsir-tafsir pesanan yang digunakan sebagai alat legitimasi dari perbuatan manusia yang bisa jadi perbuatan tersebut tidak benar.

"Karena tafsir akan memunculkan kompetensi antar kemampuan menafsir, padalah melihat Al Qur'an adalah suatu kemanfaatan dan kebaikan,” jelasnya.

Maka perlu untuk kembali mengobarkan azas kebaikan dan kebermanfaatan yang merupakan fitrah manusia. Cak Nun mencontohkan salah satu organisasi yang berazas seperti itu adalah Muhammadiyah, contoh kongkritnya adalah ketika Muhammadiyah memilih ketua umumnya.

"Azas kemanfaatan yang dicontohkan oleh organisasi Muhammadiyah adalah dalam pemilihan ketuanya yang tidak didasari pangkatnya. Meski professor dan tingkat akademik lainnya, melainkan azas kebermanfaatannya,” tutup Cak Nun. (a'n)

Shared:
Shared:
1