Haedar: Sikap Suka Mengklaim Menghambat Kerja Peradaban

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 27 Februari 2019 18:25 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Memberikan pidato dalam Rembug Nasional yang diadakan oleh Gerakan Suluh Kebangsaan, Rabu (27/2) Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa tindakan mengklaim paling berjasa dan paling berjuang menjauhkan dari tujuan peradaban.
 
"Bicara peradaban membutuhkan waktu lama. Negara ini milik bersama, bukan milik satu golongan. Maka klaim siapapun akan mengingkari visi para pendiri bangsa dan menimbulkan kesenjangan antar golongan," ujar Haedar.
 
Haedar menyinggung gejala komunalisme akhir-akhir ini yang semakin sektarian, saling menegasikan dan cenderung tidak mampu menerima perbedaan.
 
Terkait dengan tema "Api Islam untuk Peradaban Indonesia Masa Depan" dalam acara yang diselenggarakan di Ballroom Singosari Grand Sahid Jaya Jakarta Pusat tersebut, Haedar menuturkan umat Islam Indonesia harus melihat pada tiga hal, yaitu diri keadaan umat Islam, politik, dan rancang bangun Indonesia ke depan.
 
"Dari sisi umat Islam dan politik, kita harus punya cukup waktu untuk menghasilkan konsensus dari banyak versi tafsir karena penyederhanaan membuat kita saling tuding. Di kalangan umat islam sendiri perlu dialog dan tidak merasa paling memperjuangkan Islam. Tidak boleh ada saling klaim Islam dan Indonesia, karena milik semua," pesan Haedar.
 
Sementara itu Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD menyatakan bahwa Gerakan Suluh Kebangsaan lahir digagas oleh beberapa tokoh politik dan agama yang bertujuan pada politik kebangsaan dan bukan politik praktis, serta menggalang dan mengeratkan persatuan. Inti utama yang dibawa oleh Gerakan Suluh Kebangsaan adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang timbul setelah pilpres 17 April mendatang.
 
“Kami meyakini Indonesia merdeka karena juga oleh api islam, sehingga islam itu bersatu, merangkul non-Islam untuk berpikir dan berjuang bersama. Islam maju kalau apinya dibangun, persoalan sekarang adalah banyak yang memakai abunya Islam yaitu penampilan saja, bukan apinya,” ungkap Mahfud.
 
“Kita ingin mengingatkan kembali sebagai bangsa bahwa dulu berjuang bersama-sama. Islam berjuang tanpa pikiran diskriminatif. Itulah api Islam, digunakan untuk menghidupkan sanubari persatuan dan kebersatuan, sekarang ada gejala api yang membakar di mana-mana, bukan api Islam, tapi perpecahan. Kita mengingatkan,” ungkap Mahfud.
 
Dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Puan Maharani, acara Rembug Nasional melibatkan tokoh-tokoh kunci berbagai gerakan ormas dan kepemudaan lintas agama. Selain Haedar, beberapa narasumber juga hadir memberikan pandangannya seperti Masykuri Abdullah, Aceng Zakaria, Asep Saifuddin dan Hamdan Zoelfa. (Afandi)
Shared:
Shared:
1