Pandangan Visioner Tokoh Muhammadiyah Mengenai Perspektif Gender

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 27 Februari 2019 10:29 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA—Unsur pembangun Muhammadiyah yang paling menonjol adalah dari tokohnya, pandangan visioner mereka melahirkan gagasan yang segar dan menjawab tantangan umat disetiap zamannya.

Hal tersebut disampaikan Chamamah Soeratno, KetuaUmumPimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000-2005 dan 2005-2010 pada Selasa (26/2).

Termasuk peran Muhammadiyah dalam mendorong kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia.

“Meski sudah ada tokoh bangsa dari kalangan perempuan. Namun modernitas perempuan Indonesia baru benar-benar hadir dan dirasakan saat adanya Muhammadiyah,” ungkap Chamamah pada acara Seminar Serial tokoh Muhammadiyah untuk Bangsa di Gedung Pascasarjana Kasman Singodimejo kampus Terpadu UMY

Beranjaknya perempuan Indonesia kearah yang lebih modern,tidak lepas dari pandangan visioner para tokoh Muhammadiyah mengenai perspektif gender, sekat kelas sosial antara laki-laki dan perempuan dalam pandangan para tokoh Muhammadiyah seakan menjadi bias.

Tercermin dari sikap pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan dalam memberikan pendidikan bagi kaum perempuan yang  Ia mulai dari sekelilingnya. Pandangan Dahlan terkait keperempuanan kemudian melahirkan gerakan Perempuan Islam, ‘Aisyiyah pada tahun 1919. Sebuah gerakan Perempuan Islam yang progresif dan aktif sampai sekarang, serta menjadi organisasi Perempuan Islam yang berhasil dalam pengelolaan di bidang pendidikan.

“Muhammadiyah menjadi organisasi Islam yang berhasil mendorong hilangnya sekat kelas antara laki-laki dan perempuan,” tuturnya.

Perempuan kelahiran Kampung Kauman, Yogyakarta ini merasa sangat beruntung bisa berada di organisasi Islam yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Pandangan modernitas perempuan yang digagas oleh Muhammadiyah terlebih di bidang pendidikan, ‘Aisyiyah sebagai organisasi otonom (Ortom) Muhamamdiyah menjadi bukti akan hal itu.

“Selain pendidikan anak usia dini, ‘Aisyiyah juga memiliki perguruan tinggi,” ucap Perempuan alumni Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Prancis ini.

Ia menjelaskan, pandangan persepektif perempuan juga bisa dirasakan bukan hanya dari KH. Ahmad Dahlan, tapi generasi penerusnya. Ia menyebut salah satunya dalah tentangganya sendiri sekaligustokoh Muhammadiyah, Djarnawi Hadikusumo.

“Pak Djar, itu sosok yang memahami betul peran gender. Ia memberikan keluwesan kepada istrinya untuk bisa aktif di Organisasi, padahal Bu Sri (Istri Pak Djar) memiliki sembilan anak,” jelasnya.

Chamamah berpesan kepada generasi muda, khususnya kaum perempuan untuk selalu memiliki keyakinan bahwa gender bukan halangan dalam semangat menggali ilmu. (a'n)

Shared:
Shared:
1