Djarnawi Hadikusumo, Sosok yang Merdeka Sejak dalam Pikiran

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 26 Februari 2019 14:05 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL -- Angkat peran tokoh Muhammadiyah yang jarang terangkat jasanya ke ruang permukaan publik, Program Doktor Politik Islam dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) adakan Seminar Serial Tokoh Muhammadiyah untuk Bangsa pada Selasa (26/2) di Ruang Pertemuan Sidang Pasca Gedung Kasman Singodimejo, Kampus Terpadu UMY.

Pada serial yang pertama, sekaligus tanda dimulainya seminar serial tokoh bangsa mengangkat tokoh "KH. Djarnawi Hadikusumo, Muhammadiyah, Islam dan Kebangsaan”.

Gunawan Budiyanto, Rektor UMY mengapresiasi acara yang rencananya akan rutin diselenggarakan dua bulan sekali ini. Menurutnya, acara seperti ini perlu digalakan sebagai upaya penyadaran sejarah bagi generasi muda persyarikatan dan bangsa dalam menatap masa depan peradaban bangsanya, dengan tidak melupakan masa lalunya.

"Sejarah tidak bisa membugkam gelora semangat kader Muhammadiyah dalam perjuangannya pada alur sejarah bangsa Indonesia,” tutur Gunawan.

Hal ini disebabkan karena peran sentral tokoh Muhammadiyah dalam perjuangan di konteks kebangsaan diimbangi dengan dialog lintas tokoh bangsa. Maka, rantai dialog dan nalar tokoh Muhammadiyah akan terus menjalar dan tidak bisa dibendung, karena memang hal tersebut disajikan oleh fakta sejarah.

Serial pertama ini menghadirkan Ahmad Syafi'i Ma'arif (mantan murid asuh Djarnawi Hadikusumo di Mu'allimin, juga sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah priode 1998-2005), Chamamah Suratno (Ketua 'Aisyiyah priode 2000-2010) dan Busyro Muqoddas (Ketua PP Muhammadiyah), serta acara ini dimoderatori oleh Zuly Qodir (Dosen Ilmu Politik di Pascasarjana UMY).

Mengenang sikap sang guru ketika belajar di Mu'allimin dulu, Syafi'i Ma'arif mengungkapkan bahwa, Djarnawi Hadikusmo sebagai sosok guru yang cakap dan cerdas. Dibuktikan dengan peguasaan bahasa asing yang dimiliki oleh gurunya tersebut lebih dari lima bahasa asing.

 "Memang beliau kurang sedikit humoris kalau di kelas, beda dengan pak AR,” kenang Buya Syafi'i.

Ia menambahkan, selain sebagai seorang guru, Djarnawi juga sebagai politikus yang kompeten. Sosok yang merdeka sejak dalam pikiran, yang dekat dengan semua kalangan. Sang guru juga merupakan sosok nasionalis, yang dalam kiprah politiknya pernah menjabat sebagai ketua umum di Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Hal ini tidak aneh, karena kecenderungan politik tokoh Muhammadiyah saat itu tidak memiliki ikatan hanya dengan satu partai saja.

Ideolog Persepektif Gender dan Sosok yang Merdeka

Menyambung yang disampaikan Syafi'i Ma'arif, Chamamah Suratno yang juga tetangga KH. Djarnawi Hadikusumo di Kampung Kauman menceritakan, dirinya banyak belajar persepektif gender di Muhammadiyah melalui interaksinya dengan Djarnawi Hadikusumo.

"Terkait urusan keperempuanan di Muhammadiyah, Bapak Djarnawi bisa dikatakan sebagai tokoh yang hampir mengetahui segalanya tentang itu,” ungkapnya.

Ia menganggap bahwa, ketokohan Djarnawi Hadikusumo selain sebagai ideolog di bidang politik juga sebagai ideolog persepektif gender di Muhammadiyah. Namun untuk pendapat yang kedua ini perlu untuk diperdalam lagi sumber yang bisa dirujuk, mengingat masih minimnya catatan atau cerita terkait hal ini.

Sementara itu, Busyro Muqoddas dalam pemaparannya mengatakan bahwa, Djarnawi Hadikusumo sebagai politikus yang berkarakter, serta memiliki sikap egaliter yang tinggi. Semua sikap yang dimiliki tersebut merupakan hasil bentukan dari lingkungannya, tidak lain adalah Muhammadiyah.

"Karakter Pak Djarnawi jauh dari sikap permisif-pragmatis, tidak menjadikan Muhammadiyah sebagai alat batu loncatan pribadi maupun nepotism,” ucap Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini.

Sehingga, sikap politik Djarnawi tidak menyelisihi bahkan kental corak kebangsaannya yang berbasis pada komitmen substansi ideologi pancasila.

Meski demikian, alur kehidupan Djarnawi Hadikusumo masih jarang diekspose publik. Baik sebagai sumber inspirasi dalam penelitian atau pengungkapan karakter Djarnawi sebagai tokoh yang bisa diambil gagasannya oleh masyarakat luas. (a'n)

Shared:
Shared:
1