Muhammadiyah Terus Konsisten Lakukan Peran Kebangsaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 15 Februari 2019 15:33 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, BENGKULU -- Dinamika kebangsaan yang bersifat umum kemudian yang menyangkut lima tahunan sering kali menguras energi. Posisi Muhammadiyah sudah berada di garis persatuan dalam menghadapi isu kehidupan berbangsa dan beragama. 
 
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada Pidato Iftitah sidang Tanwir Muhammadiyah 2019 di Auditorium Kampus IV Universitas Muhammadiyah (UM) Bengkulu, Jumat (15/2). 
 
"Dinamika kebangsaan yang bersifat umum kemudian yang menyangkut lima tahunan yang sering kali menguras energi kita. Agenda ini selalu menjadi fokus Muhammadiyah dari zaman kolonial sampai sekarang ini," kata Haedar.
 
Haedar mengatakan, Muhammadiyah akan tetap melaksanakan peran kebangsaan lewat-lewat silaturrahim komunikasi politik, lobby yang dilakukan dari Pimpinan Pusat kebawah.
 
"Dari metode itu kita bangun hubungan yang seksama dengan spirit Amar Maruf Nahi Mungkar," ujarnya.
 
Dalam menghadapi dinamika politik praktis Muhammadiyah sudah memilih pintu yang elegan yakni secara elegan tidak memainkan politik praktis tapi mendorong kader-kadernya berkiprah di politik praktis. 
 
"Dalam proses transisi selalu ada tuntutan lebih tetapi tidak apa-apa tugas kita adalah bagaimana kedepan semakin mendorong proses ini secara lebih teratur, tetapi pada saat yang sama kader kita juga menjadi orang yang tangguh dan tidak gampang menyerah. Disamping itu kita dorong kader-kader  profesional kita," jelas Haedar.
 
Menurut Haedar, Muhammadiyah harus melakukan usaha sinergi yang luar biasa. 
 
"Disamping kita bersyukur bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bertumbuh luar biasa. Kita bangga sampai ke pelosok-pelosok Muhammadiyah dengan AUM-nya dapat mengembangkan aset yang luar biasa. Jangan sampai merasa kecil yang sering membuat kita kehilangan kebanggaan dan kehilangan rasa syukur. Padahal potensi Muhammadiyah itu luar biasa tetapi disaat yang sama kita perlu muhasabah," pungkas Haedar.  (Syifa)
Shared:
Shared:
1