Tanwir Diharapkan Menjadi Solusi Tengahi Kecarut-marutan Bangsa

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 07 Februari 2019 12:39 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG Muhammadiyah hadir bukan di ruang hampa, kehadirannya merubah kondisi masyarakat menuju kepada pencerahan dan berkemajuan. Kini, peran pencerahan kembali ditagih bangsa yang di rundung kekarut-marutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Malik Fajar, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam acara Sarasehan Kebangsaan pra-Tanwir, Kamis (7/2) di Komplek kampus terpadu UMM.

"Gerakkan Muhammadiyah tidak boleh pasif, ditengah banyaknya problematika bangsa." Ungkapnya

Dalam urutan kesejarahan perjalanan Muhammadiyah, hadirnya selalu menjadi jalan tengah diantara gerakan yang ekstrim kanan maupun kiri. Persoalan yang kurang lebih sama juga dihadapi umat Islam, dimana agama lebih cenderung dimaknai sebagai pandangan hidup yang menyusahkan.

Dewan Pertimbangan Presiden sekaligus Mantan Ketua PP Muhammadiyah Abdul Malik Fadjar mengatakan bahwa TanwirMuhammadiyahmenjadi instrumen acuan gerakan muhammadiyah hasilnya akan memunculkan khittah.“Seperti Khittah Denpasar, Khittah Surabaya, Khittah Ponorogo, Khittah Ponorogo, dsb”, ujarnya.

Mantan Rektor UMM ini mengatakan bahwa kehidupan beragama yang mencerahkan yang diangkat tema ini sangat mengena bagi Muhammadiuah dalam membaca kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Beragama sekarang ini jadi ribet, tidak mencerahkan,” ujarnya. Menurutnya ini yang harus dikembalikan kepada ruh Islam berkemajuan.

“Atas dasar itulah di mana ada Muhammadiyah harus mengambangkan kehidupan beragama yang Islam yang mencerahkan, menyenangkan, memberdayakan dan mencerdaskan” kata dia.

Melihat perilaku keagamaan yang dipraktekkan umat saat ini. Malik Fajar menganggap sebagai tahap pubertas umat beragama. Karena memandang persoalan di kehidupan sehari-hari hanya hitam atau putih, halal atau haram. Hal ini menyebabkan peran agama menjadi sempit, pandangan keagamaan seperti ini yang memiliki kecenderungan untuk memperdalam dan mempertajam perbedaan.

"Agama bukan cuma ngurusi pakai atau tidak berpeci, berjenggot atau tidak berjenggot." Katanya.

Maka, Tanwir yang akan diadakan Muhammadiyah diharapkan rumusan yang bisa untuk menengahi karut-marut bangsa Indonesia dan umat Islam.

Merujuk Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) Muhammadiyah, Tanwir dalam satu periode minimal diselenggarakan sekali. Menjadi menarik, pemilihan waktu diselenggarakannya Tanwir selalu memilih momen ketika karut-marut bangsa.

"Hasil Tanwir selalu ditunggu, karena sering bertepatan dengan tahun-tahun sulit. Dari itu gagasan yang dibahas dalam Tanwir menjadi menarik untuk ditunggu." Pungkas Malik Fajar.(aan/dzar)

Shared:
Shared:
1