Alternatif Metode Dakwah Melalui Pemberdayaan Masyarakat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 04 Mei 2011 07:53 WIB

Yogyakarta- Dakwah tidak hanya dilakukan dengan ceramah tetapi banyak metode yang bisa dilakukan. Salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat. Demikian disampaikan Kepala Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KPI-UMY), Dr. Nawari Ismail, M.Ag dalam diskusi terbatas ‘Dahwah dan Upaya Pemberdayaan Masyarakat atau Komunitas Khusus’ di Kampus Terpadu UMY (3/5).

Menurutnya dakwah dapat dilakukan dengan berbagai hal dan bidang. “Salah satunya melalui metode pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dapat dikatakan sebagai dakwah yang dilakukan melalui tindakan di dalam kehidupan masyarakat,”jelasnya.

Pemberdayaan tidak hanya berdasarkan kehendak tetapi juga memberdayakan dirinya sendiri. “Misalnya memberdayakan masyarakat dalam salah satu komunitas tersebut untuk bisa meningkatkan ekonominya dengan kemauan yang kuat. Sehingga nantinya kelompok masyarakat tersebut mampu memberdayakan dirinya sendiri.”tuturnya.

Kemudian terkait dengan komunitas atau masyarakat khusus dalam penuturannya yaitu masyarakat yang memiliki subkultur atau budaya khusus. “Misalnya nelayan, pemulung atau bisa juga komunitas punk.”tuturnya.

Dalam pemaparannya kemiskinan dapat terjadi sebagai akibat adanya struktural yang ada. “Salah satunya akibat dari kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak memihak masyarakat miskin, sehingga diperlukan upaya untuk pemberdayaan masyarakat.”tegasnya.

Terkait dengan pemberdayaan masyarakat, dalam kesempatan tersebut Ketua Majelis Pemberdayan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Dwi Kuswantoro membedakan beberapa istilah pemberdayaan. “Pemberdayaan sebagai partisipasi, pemberdayaan sebagai demokratisasi, pemberdayaan sebagai capacity building atau pembangunan kapasitas, pemberdayaan melalui perbaikan ekonomi serta pemberdayaan melalui individu,”ujarnya.

Selain itu Dwi juga menambahkan adanya beberapa dimensi utama dari proses pemberdayaan. “Mulai dari dimensi psikologis, budaya, social, ekonomi, organisasi dan politik,”tegasnya.

Shared:
Shared:
1