Empat Wejangan Haedar Nashir untuk PP Pemuda Muhammadiyah Periode 2018-2022

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 29 Desember 2018 11:44 WIB
MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Melantik jajaran baru Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah masa bakti 2018-2022, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berikan empat buah wejangan sebagai bekal gerak perjuangan PP Pemuda Muhammadiyah.
 
Pertama, dalam ranah organisasi PP Pemuda harus mengingat bahwa PP Muhammadiyah adalah organisasi induk sehingga fokus gerakannya adalah membantu misi utama Muhammadiyah seperti menciptakan pusat-pusat keunggulan, hingga dakwah komunitas dan gerak sosial yang membawa pencerahan.
 
"Bukan sekadar menjadi orang Islam yang moderat, tapi juga as syuhada'u alan-nas, menjadi saksi perubahan. Konsekuensinya kita butuh kerja produktif dan suasana yang progresif. Muhammadiyah sudah memiliki modal sebagai organisasi Islam modern terbesar di dunia," ungkap Haedar di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah.
 
Kedua, dalam ranah keumatan PP Pemuda harus senantiasa membawa semangat moderasi dan kebersamaan umat Islam yang telah menghadiahkan kemerdekaan bagi Republik Indonesia.
 
"Perjuangan Islam untuk negeri ini tidak terhitung dan tak terbilang. Bahkan pada saat kritis sehari setelah proklamasi, umat Islam menentukan integrasi Republik Indonesia melalui Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo.
 
"Sudah saatnya pihak yang menstigma umat Islam sebagai sumber radikalisme dan disintegrasi menghilangkan hal tersebut," imbuhnya.
 
Ketiga, dalam ranah kebangsaan PP Pemuda patut berjuang menghidupkan ruh dan dasar negara yang mulai goyah melalui gerakan politik kebangsaan, bukan politik praktis.
 
"Kerja ini tidak populer dan mengharu biru. Yang diperlukan adalah bagaimana menanamkan jiwa kebangsaan untuk menyegarkan kembali bahwa Indonesia ini punya dasar dan visi yang merdeka, bersatu dan adil dan makmur dan punya philosophie grondslaag yang bernyawa dan berjiwa," lanjutnya.
 
Terakhir, dalam ranah global PP Pemuda sudah waktunya membawa kosmopolitanisme Islam. Haedar mencontohkan peran itu dimaksimalkan seperti saat PP Muhammadiyah bertemu dengan Duta Besar Republik Rakyat Thiongkok (RRT) di Gedung PP Muhammadiyah, Jumat (28/12).
 
"Kami sarankan agar RRT sebagai negara besar perlu punya cakrawala dan paradigma yang baru sesuai semangat Asia-Afrika, yaitu kekuatan adidaya jangan diproduksi untuk neo-kolonialisme dan neo-imperialisme. Lakukan pendekatan konflik tanpa kekerasan," ungkapnya.
 
"Ini harapan saya untuk PP Pemuda Muhammadiyah agar progresif, berakhlak mulia, dan membawa kemajuan bagi bangsa, negara dan persyarikatan," pungkas Haedar. (Afandi)
Shared:
Shared:
1