Peran 'Aisyiyah dalam Konteks Keindonesiaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 22 Desember 2018 15:22 WIB

Oleh: Siti Noordjannah Djohantini

Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah

‘Aisyiyah resmi berdiri pada 19 Mei 1917, sedangkan Muhammadiyah sebagai gerakan induknya lahir pada 1912. Namun, embrionya (‘Aisyiyah) sudah ada pada 1914. Semangat yang melatarinya, pertama, mengemban misi dakwah untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan, dan kedua melaksanakan misi dakwah untuk memajukan umat dan bangsa. Artinya, ‘Aisyiyah menjalankan misi dakwah amar ma’ruf nahi munkar,sebagaimana  misi dakwah Muhammadiyah

Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan memahami nilai-nilai ajaran Islam tidak hanya sebagai ritual ibadah danpengetahuan, tetapi juga terefleksi dan teraktualisasi dalam realitas kehidupan umat dan masyarakat yang mencerahkan. Aisyiyah sebagai gerakan dakwah yang berupaya mengajak umat untuk kembali kepada Alquran dan Sunnah dengan pembaruan atau tajdid yang membawa pada kemajuan hidup seluruh umat manusia. Dalam rangka menggerakkan dakwah melalui pergerakan perempuan, maka didirikanlah ‘Aisyiyah. 

Di antara kepeloporan ‘Aisyiyah dalam peran keindonesiaan ialah ikut menjadi bagian dari penyelenggaraan Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928. Peran penting tersebut dilakukan melalui Siti Hajinah dan Siti Moendjiah menjadi anggota Komite Kongres Perempuan Indonesia dua di antara sembilan anggotakomite  yang juga sebagai narasumber pada Kongres Perempuan Pertama yang bersejarah tersebut. Namun jauh sebelum Kongres yang bersejarah tersebut, ‘Aisyiyah  telah berkiprah dalam usaha-usaha dakwah yang memiliki fungsi atau peran mencerdaskan dan memajukan kehidupan perempuan bangsa Indonesia.

Peran Dakwah Pembaruan

Gerakan ‘Aisyiyah dalam menjalankan misi dakwah dan tajdid teraktualisasi dalam beberapa aspek dan langkah antara lain : Pertama,dakwah yang membawa pembaruan. Sejak awal berdiri, ‘Aisyiyah melaksanakan misi dakwah dengan memperbarui (tajdid) atas paham atau alam pikiran keislaman dari pemikiran yang statis (jumud) ke pemikiran yang baru. Pembaruan pemikiran tersebut untuk membebaskan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya saat itu yang berada dalam penjajahan dan ketertinggalan atau keterbelakangan. Usaha-usaha Aisyiyah tersebut bersifat dakwah keagamaan yang mencerahkan,  yang mengeluarkan umat dari kegelapan pada cahaya kebenaran (takhrij mina-dhulumati ila-nuur) sebagaimana risalah Nabi Muhammad.Dengan dakwah pencerahan Islam menjadi agama yang berkemajuan (din al-hadlarah) serta umat Islam atau bangsa menjadi golongan yang unggul atau khayra ummah sebagaimana spirit Al-Quran Surat Ali Imran 104. Dakwah pencerahan dan berkemajuan itu termasuk dalam mengangkat martabat perempuan dari belenggu paham keagamaan dan budaya yang memandang perempuan rendah dan terdiskriminasi.

‘Aisyiyah bergerak dengan komitmen pada nilai-nilai bahwa perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama untuk menggerakkan dan mengembangkan dakwah, termasuk dalam beramal shaleh dalam kehidupan tanpa diskriminasi (QS Al-Nahl: 97). Program dan kegiatan-kegiatan Aisyiyah saling melengkapi dengan apa yang sudah diperankan oleh  Muhammadiyah. Aisyiyah hadir dengan misi Islam yang membawa kemajuan bagi perempuan Indonesia, sebagai gerakan perempuan Islam untuk menjadi rahmatan lil-‘alamim.

Kedua, gerakan melalui pendidikan.Aisyiyah sejak awal menaruh perhatian pada dunia pendidikan dengan menyelenggarakan pendidikan yang modern, bukan pesantren tradisional yang jamak dijumpai pada masa itu. Diawali dengan pendirian sekolah yang dinamakan Mu’allimin dan Mu’allimaat tahun 1918, yang keduanya baru saja pada 6 Desember 2018 merayakan Milad 1 Abad. Aisyiyah kemudian mengembangkan pendidikan seperti yang dilakukan Muhammadiyah, yang bagi dunia perempuan kala itu termasuk hal baru.

Pendidikan yang dirintis Muhammadiyah dan Aisyiyah ialah sistem pendidikan modern yang memadukan agama dengan ilmu pengetahuan dan etos kemajuan. Sejak awal, ‘Aisyiyah memandang pentingnya memberikan bekal nilai-nilai dasar kepada anak-anak, termasuk yang masih berusia dini. Sejak 1919, ‘Aisyiyah mendirikan kelompok bermain atau Taman Kanak-Kanak yang disebut Fröbel..Dalam perkembangan selanjutnya, TK itu menjadi Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Busthanul Atfhal (TK-ABA). Jadi, sejak awal berdirinya, ‘Aisyiyah mengamati bagaimana keadaan masyarakat, kemudian memahami bahwa di dalam diri anak-anak mesti ditanam sedari dini nilai-nilai akhlak yang baik, akidah, kemanusiaan, kebersamaan, dan lain-lain. Sekarang, terdapat lebih dari 20 ribu unit taman kanak-kanak yang dimiliki ‘Aisyiyah. Penyelenggaan pendidikan aisyiyah dari Taman Kanak-Kanak sampai tingkat Perguruan Tinggi, salah satunya Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Masih tentang pendidikan. pada 1922, ‘Aisyiyah merintis tempat shalat khusus bagi perempuan. Namanya, Mushala ‘Aisyiyah di Kauman, Yogyakarta. Pendirian itu juga melalui refleksi atas nilai-nilai yang ada di masyarakat. Mushala bukan hanya tempat untuk menyelenggarakan shalat berjamaah, tetapi juga (tempat) berkumpulnya para remaja dan kaum perempuan umumnya untuk mendapatkan pendidikan. Jadi, di sana mereka tidak hanya untuk (menunaikan) shalat, tetapi juga dididik, semisal mengaji Alquran atau berdiskusi tentang persoalan sosial kemasyarakatan. 

Setahun kemudian (1923), ‘Aisyiyah menyelenggarakan kegiatan belajar membaca dan menulis huruf Arab dan Latin. Ini berkembang menjadi sekolah yang namanya Maghribi atau AMS Maghribis School. Pada 1926, diterbitkan pula majalah Suara ‘Aisyiyah. Terbit tiap sebulan sekali dengan menampilkan materi-materi yang berkaitan dengan Islam dan sosial kemasyarakatan. Lalu, pada 1930 di Bukittinggi, Sumatra Barat, diselenggarakan Kongres ke-19. Hasilnya (dari kongres itu), diputuskanlah bahwa (‘Aisyiyah) mengadakan kursus bahasa Indonesia—yang sudah dikukuhkan sebagai bahasa persatuan dalam Kongres Sumpah Pemuda tahun 1928. 

Apa maknanya? Kiai dan Nyai Ahmad Dahlan menaruh perhatian yang besar terhadap generasi penerus, baik itu laki-laki maupun perempuan. Anak-anak mesti ditanamkan dengan nilai-nilai ajaran Islam, dan juga potensinya dikembangkan, dididik, agar bisa menjadi kader-kader yang baik di masa depan. Dengan pendidikan-lah, mereka bisa melihat dunia. Dengan pendidikanlah, mereka bisa memahami nilai-nilai ajaran Islam untuk kemudian menjadi lentera yang memandu mereka dalam hidup bermasyarakat, berjuang, berkehidupan dalam konteks kebangsaan. 

Ketiga, usaha di bidang kesehatan dan sosial. Dunia kesehatan juga menjadi konsen dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sejak awal. ‘Aisyiyah juga memiliki amal usaha dalam bidang kesehatan, semisal berbagai klinik dan rumah-rumah sakit. Saya kira, inilah makna dari Islam berkemajuan, di mana organisasi perempuan (Aisyiyah) memiliki kesempatan yang sama dalam berkiprah di jalan dakwah amar ma’ruf nahi munkar melalui segala lini kehidupan.  Kini ‘Aisyiyah telah memiliki klinik dan rumah sakit lebih dari 125 yang tersebar di berbagai daerah. Bila jumlah itu digabungkan dengan yang dimiliki Muhammadiyah, maka bisa menjadi 500 unit lebih. Di samping sebagai aset, itulah modal sosial kami untuk kepentingan dakwah keumatan dan kebangsaan. 

Pemberdayaan ekonomi perempuan juga menjadi konsen Aisyiyah, melalui Bina usaha Ekonomi Keluarga (BUEKA), UMKM, Koperasi, dan Sekolah Wirausaha Aisyiyah. Pada intinya, bahwa kehadiran ‘Aisyiyah berada dalam perspektif Islam berkemajuan, membawa misi rahmatan lil ‘alamin. Perkembangan sejarah yang kami lalui telah satu abad belakangan ini. Kami terus mengembangkan pelbagai layanan keagamaan dan sosial. 

Aisyiyah dalam gerakan ksehatan dan sosial mempraktikkan Al-Ma’un (QS Al-Ma’un 1-7). Melalui Al-Ma’un lahir pilantrofi Islam dalam bentuk Rumah Sakit, Poliklinik, Panti Asuhan, dan usaha-usaha pemberdayaan masyarakat yang membawa pada kemajuan hidup kahir dan batin. Al-Ma’un merupakan praksis teologi pembebasan bagi kaum dhu’afa-mustad’afin yang lemah dan tertindas atau dilemahkan. Al-Ma’un membuktikan bahwa Islam sebagai agama amaliah yang mencerahkan yaitu membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan mereka yang tidak beruntung dalam kehidupannya.

Peran Keindonesiaan

Kehadiran ‘Aisyiyah memiliki peran yang sangat strategis dalam kehidupan kebangsaan atau keindonesiaan. Mengapa? Karena, ‘Aisyiyah menjadi salah satu inisiator terselenggaranya kongres itu bersama dengan organisasi-organisasi lain, semisal Wanita Taman Siswa, dan lain-lain. Dalam Buku Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang karya Susan Blackburn (hlm. xi) disebutkan beberapa di antaranya, yakni ‘Aisyiyah, Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Poetri Boedi Sedjati, Wanito Sedjati, Darmo Laksmi, Roekoen Wanodijo, Jong Java, Wanita Moelyo, dan Wanita Taman Siswa.

Ada dua tokoh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang menjadi pembicara dalam kongres itu, yakni Siti Hajinah dan Siti Moendjijah. Bukan hanya mengisi, tetapi juga memotori terselenggaranya kongres tersebut. Uraian yang disampaikannya juga pembahasannya luar biasa. Beliau-beliau berbicara tentang bagaimana seharusnya kesetaraan perempuan, persatuan,  keadilan untuk perempuan, bagaimana mencegah pernikahan anak di bawah umur sesuatu yang kini hangat lagi sebagai isu yang relevan di tengah masyarakat.Mencegah atau menghentikan perkawinan anak Itu diletakkan dalam konteks perlindungan terhadap hak-hak perempuan, terutama hak mendapatkan pendidikan.  Pendidikan itu penting supaya mereka tidak terjebak pada pernikahan anak. 

Putusan MK (Mahkamah konstitusi) tanggal 13 Desember 2018 yang menyatakan bahwa perkawinan anak, khususnya perempuan berusia 16 tahun, bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Usia minimal perempuan menikah 18 tahun.Putusan MK menyatakan, Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang mensyaratkan usia minimal perempuan menkah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun bersifat diskriminatif.Dalam hal ini, ikhtiar Aisyiyah dalam pencegahan pernikahan anak kami tekankan lewat jalur kultural, yakni mencegah pernikahan anak melalui pendidikan, penguatan keluarga, dan menyadarkan tentang kesehatan reproduksi. Harapannya, orang tua tidak memudahkan anak-anaknya untuk mengalami pernikahan pada usia dini. Dari segi kesehatan, misalnya, orang tua perlu dipahamkan tentang bahwa anak-anak yang masih di bawah umur belum cukup kuat untuk menanggung beban di rumah tangga nanti, baik dari sisi psikologis maupun organ reproduksinya. Oleh karenanya, kesempatan peringatan Hari Ibu 22 Desember ini kita merefleksikan perjuangan perempuan Indonesia untuk meraih kemajuan perempuan dan kemerdekaan.

Pada saat ini tanggal 22 Desemberdinamakan sebagai Hari Ibu, yang seakan-akan sama seperti Mother’s Day di negara-negara lain. Padahal, konteksnya sangat berbeda, yakni munculnya kesadaran bergerak, berorganisasi di tengah kaum perempuan Tanah Air.  Menjadi ibu memang luar biasa, sangat mulia. Namun, dalam konteks 22 Desemberini, seharusnya tidak semata-mata diarahkan pada seremonial yang sifatnya (ranah) domestik. Kita mesti mengetahui dan tidak melupakan bahwa ada peristiwa yang bersejarah, Kongres Perempuan Pertama, pada 22 Desember 1928. Dalam Kongres Perempuan ke-25, Presiden Sukarno melalui dekrit menetapkan bahwa setiap tanggal 22 Desemberdiperingati sebagai Hari Ibu.Maka, ‘Aisyiyah mendorong kalau memperingati Hari Ibu sebaiknya memperingati tonggak sejarah pergerakan perempuan nasional tidak saja sebagai ritual seremonial; tetapi bagaimana kaum perempuan juga ikut di dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa ini; bagaimana memperjuangkan agar kaum perempuan mendapatkan keadilan, bagaimana menjaga martabat perempuan; bagaimana agar perempuan bersatu untuk kepentingan semuanya, tidak untuk kepentingan sendiri-sendiri. Jadi ke  arah  aktualisasi memajukan perempuan secara substantif yakni yang membawa pada pencerahan kehidupan yang bersifat inklusif dan melintasi. Aktualisasi gerakan perempuan yang mencerahkan seperti itulah masih sangat relevan dengan konteks perjuangan perempuan pada zaman sekarang. 

Karena itu, ‘Aisyiyah hadir sebagai gerakan perempuan berkemajuan dulu, kini, dan ke depan. Persoalan-persoalan keadilan gender, perjuangan untuk perempuan, untuk anak-anak, dan sebagainya, itu memang menjadi bagian dari nafas dakwah ‘Aisyiyah yang mengambil inspirasi dari nilai-nilai ajaran Islam. Salah satunya Al-Quran surah an-Nahl ayat 97, yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Demikianlah, dengan memahami pesan Allah yang berwawasan adil tanpa diskriminasi itu, maka menjadi bagian dari nilai-nilai spiritual perempuan Islam untuk menggerakkan perempuan Indonesia agar semakin berkemajuan.

Kini bangsa Indonesia tengah berada dalam era pasca reformasi yang semakin liberal dalam kehidupan politik, ekonomi, dan budaya. Proses demokratisasi yang serba terbuka dan membawa implikasi pada pragmatisme politik seperti politik uang, transaksional, dan lain-lain. Kehidupan ekonomi yang semakin banyak masalah dan tantangan di tengah kapitalisme global yang sangat agresif. Sedangkan kehidupan sosial-budaya yang juga serba terbuka atau bebas terutama dengan kehadiran media  sosial, meluasnya pola hidup konsumtif, korupsi yang makin memprihatinkan dan sebagainya.  Dalam kaitan ini diperlukan peranan gerakan-gerakan sosial khususnya dari gerakan perempuan untuk menjadi kekuatan moral yang dapat berfungsi sebagai pencerah kehidupan yang menyebarkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, akhlak mulia, dan keadaban publik.

Dalam kehidupan keindonesiaan juga di tengah tahun politik terdapat kecenderungan gesekan antargolongan yang dapat mengancam kebersamaan sebagai bangsa yang majemuk. Karenanya diperlukan kekuatan sosial yang dapat menjadi peredam dan pembawa misi damai sehingga kontstasi politik dan perbedaan kepentingan antarkelompok tetap berlangsung elegan, berkeadaban, dan menjujungtinggi kepentingan bangsa dan negara. Dalam kaitan itu ‘Aisyiyah sesuai dengan misi Islam berkemajuan dan berorientasi rahmatan lil’alamin berkomitmen kuat untuk menjadi kekuatan perempuan Islam yang menggelorakan “ta’awun untuk negeri” dalam berbagai lini kehidupan.

Pada saat ini masih banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dihadapi perempuan Indonesia. Masalah kemiskinan, ketenagakerjaan, kekerasan, pernikahan anak, dan sebagainya.  Sementara itu dihadapan terbentang tantangan perempuan dalam dunia kepemimpinan publik, profesionalisme, pendidikan, bisnis, dan berbagai peluang di tengah kehidupan modern dan global. . Dalam menghadapi masalah dan tantangan yang kompleks tersebut sungguh diperlukan gerakan perempuan berkemajuan yang mampu tampil sebagai problem-solver sekaligus menjadi aktor perubahan dan kemajuan.

Dalam konteks keindonesiaan saat ini maupun ke depan, ‘Aisyiyah mengajak pemerintah dan semua komponen bangsa di pusat dan daerah untuk bersama-sama terus memupuk kesadaran kolektif untuk memajukan perempuan sebagaimana laki-laki sebagai insan-mulia (fi ahsani taqwim) dalam mengemban fungsi-fungsi kehidupan yang membawa pada perikehidupan yang utama, adil, dan berkeadaban tanpa diskriminasi. Penting untuk dikembangkan secara intensif  komunikasi, sinergi, dan kerjasama seluruh pihak dalam mendorong dan mengembangkan peran organisasi-organisasi perempuan di  negeri ini maupun dengan dunia internasional dalam membangun keunggulan bangsa di tengah persaingan global. Bersamaan dengan itu disusun dan diaktualisasikan peran-peran strategis gerakan dan organisasi perempuan Indonesia dalam pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, ketenagakerjaan, pengelolaan sumberdaya alam dan kingkungan hidup, sumberdaya manusia, aktivitas politik dan bisnis yang sehat, dan memecahkan masalah-masalah bangsa meraih keungggulan. ‘Asisyiyah sebagai gerakan perempuan Muhammadiyah senantiasa terbuka dan berkomitmen kuat bersama seluruh komponen bangsa dalam membangun perikehidupan kebangsaan yang bermakna menuju Indonesia Berkemajuan.

  • Makalah ini disampaikan pada Peringatan Hari Ibu tahun 2018 oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tanggal 22 Desember 2018
Shared:
Shared:
1