Dunia Anomali

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 20 Desember 2018 08:48 WIB

 

Oleh: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Suatu saat di zaman Nabi. Beberapa orang datang menemui Rasulullah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang rajin shalat, puasa, dan mengeluarkan zakat, tapi ia juga sering berbuat jahat terhadap tetangganya.”. Nabi menjawab, “dia penghuni neraka”.  Sebaliknya terdapat seorang yang shalat, puasa, dan zakatnya biasa saja, tapi tidak pernah berbuat jahat terhadap tetangganya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Dia penghuni surga”.


Sungguh ironi. Bagaimana mungkin ada muslim yang rajin beribadah, menyuarakan tauhid, taat shalah wajib dan sunnah, puasa senin-kamis dan Dawud selain shaum wajib, gemar bagi-bagi rizki, hafal ayat-ayat Al-Quran, paham Islam dari A sampai Z, dan sehari-hari hidup dalam gemerlap ritual keislaman. Namun perangainya buruk kata dan ujaran, pemarah, penghujat, penyebar kebencian, serta bertindak onar dan keburukan terhadap sesama?

Sedangkan mereka yang beragama biasa saja menampilkan perangai yang luhur terhadap sesama? Kisah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim  itu tampak paradoks dan rasanya secara lahir sulit dipahami terjadi dalam diri seseorang yang taat beragama. Sosok-sosok yang di mata publik atau umat begitu berkemilau dalam atribut keagamaan, ujaran dan tindakannya jauh panggang dari api.
Di dunia yang fana ini segala perilaku anak cucu Adam hadir dalam ragam yang kompleks. Segala peristiwa terjadi dari yang dapat dipahami sampai mengandung sejuta rahasia. Allah Yang Maha Pencipta bahkan menyebut dunia sebagai penuh permainan atau al-mata al-ghurur. Maka paradoks pun bagian dari dunia bak panggung sandiwara itu. Para sosiolog menyebut dunia paradoks itu sebagai “anomali”, sesuatu yang menyimpang dari kelaziman.

Dramaturgi

Dunia anomali atau penyimpangan perilaku terjadi karena banyak kemungkinan. Dalam diri subjek, nilai-nilai yang baik sekadar menjadi norma verbal, tidak mengalami internalisasi. Artinya nilai-nilai baik itu tidak tertanam dalam jiwa dan pikiran untuk menghasilkan tindakan yang selaras. Sekadar berhenti di tingkat kognisi dan lisan belaka. Dalam teori Robert K Merton, nilai-nilai luhur tersebut berhenti sebagai sesuatu yang latent (terpendam) dan tidak manifest (nyata) yang mewujud dalam praktik hidup di dunia nyata. Bahasa umum menyebut sebagai “split of personality”, kepribadian yang terbelah dengan menampilkan perangai-perangai yang kontradiksi di dalam dirinya.

Perilaku yang anomali ibarat dramaturgi, sesuatu yang semu laksana permainan sandiwara di panggung. Dalam dramaturgi, ujar Erving Goffman dalam Presentation of Self in Everyday Life (1959), seseorang akan menampilkan presentasi diri di depan pentas (front stage) yang serba termanipulasi baik diri maupun segala asesorinya sehinga memuaskan penonton atau khalayak umum. Sementara di belakang panggung (back stage) semua drama di pentas itu diatur dan dimanipulasi sedemikian rupa, yang tentu saja publik tidak mengetahui perangai yang sesungguhnya. Di panggung yang penuh dekorasi itulah tempat pentas sandiwara beragam perilaku aktor yang penuh topeng dipertunjukkan. Penampilannya di atas pentas tentu beda dengan yang sesungguhnya, seperti hadis Nabi tentang sang muslim yang tampak shaleh di luar tetapi perangainya buruk. Khalayak selalu mengagumi dan terpukau dengan penampilan para aktor dalam layar dramaturgi karena mereka tidak tahu persis apa yang sesungguhnya dilakukan para aktor itu dalam keseharian. Perangai buruk dan merusaknya sering diterima secara buta oleh pengikutnya karena mereka tidak mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya, sehingga meski salah tetap dibela dalam balutan rabun kesararan kolektif yang akut.

Dalam ranah politik dramaturgi menjadi pemandangan umum yang dianggap lazim. Para elite memainkan banyak peran yang kontroversi di khalayak publik. Pagi hari A, siang hari B, sore hari H, malam hari K, besok hari menjadi XYZ. Mereka mencari legitimasi seputar inkonsistensi sikap politiknya pada adagium “politik seni dari banyak kemungkinan” atau “politik itu dinamis”. Aktor politik terbiasa berdramaturgi, apa yang ada di lisan lain pula dalam tindakan. Politik pun tidak jarang menjadi keras dan sarat muslihat, lain di depan lain di belakang. Politik lantas kehilangan nilai kejujuran, keterpercayaan, dan sikap kenegarwanan. Politisi yang baik dikalahkan oleh aktor-aktor kontroversial yang perkasa.

Dramaturgi memasuki babak baru dalam dunia media sosial. Media daring saat ini menjadi arena dramaturgi paling heboh, dari ujaran sampai etalase aksi di layar maya. Perebutan kepentingan politik sampai tafsir keagamaan bertebaran masif sesuai selera masing-masing di dunia digital itu. Hoax menjadi santapan sehari-hari tanpa daya kritis. Kewarasan publik diporak-porandakan oleh logika-logika sumbu pendek yang menghasut, menekan, menghujat, serta menebar aura marah dan permusuhan yang berubah menjadi budaya baru bangsa ini. Sosok-sosok keras dan narsis menjadi idola baru di tengah kultur publik yang mengalami pembodohan masif.

Sikap elite dan orientasi pandangan keagamaan mengalami politisasi yang tak terbendung di media sosial, sehingga pesan-pesan agama yang mengemuka makin kerdil dan menghilangkan sukma beragama yang mencerahkan. Produksi ujaran yang keras, sadis, jorok, dan tak patut secara moral menjadi menu sehari-hari di  media daring dengan daya jelajah interaksi dan frekuensi yang melintasi nyaris tidak pernah berhenti hanya untuk satu detik pun. Akibatnya ruang sosial masyarakat berubah drastis dari kultur paguyuban yang alamiah ke patembayatan yang paling instrumental dan sarat kepentingan material sekaligus transaksional. Manusia “Zaman Now” sepenuhnya menjadi —meminjam istilah Alvin Toffler (1970)— the modular man atau insan modular yang paling sempurna di jagat raya saat ini!

Spiritualisasi Ihsan

Bagaimana agar beragama menampilkan konsistensi antara kata dan tindakan yang mencerahkan? Umar bin Khattab sangat dikenal keras, tegas, dan perkasa baik sebagai pribadi maupun selaku Amirul Mukminin. Tapi dia pernah berpesan, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”. Umar yang gagah dan digdaya dalam karakter tokoh hebat, terbukti sebagai sosok moralis yang menjunjungtinggi kebajikan. Meski untuk suatu prasangka dalam hubungan antar insan.

Dalam berpolitik Amirul Mukminin juga dikenal menjujungtinggi etika. Ketika anaknya yang memang hebat, yakni Abdullah bin Umar masuk dalam enam anggota formatur untuk pemilihan khalifah sesudahnya. Umar mensyaratkan Abdullah dibolehkan memiliki hak pilih tetapi dilarang untuk dipilih, sehingga tidak punya peluang sama sekali untuk menjadi khalifah. Umar jauh dari politik dinasti, sebagi bukti dari sikap etik dan kenegarwanan yang autentik. Islam bukan berhenti di lisan dan pengetahuan tetapi benar-benar dipahami, dihayati, dan dipraktikkannya dalam tindakan berpolitik yang mencerdaskan dan mencerahkan.

Jika ingin Islam itu mewujud dalam tindakan nyata serta mencerahkan diri dan lingkungannya maka penting adanya proses spiritualisasi ihsan dalam beragama. Islam tidak digelorakan dalam semarak ritual ibadah serbaverbal dan berhenti pada ranah syariat, tetapi mesti menghunjam dalam kesdaran imani yang membuahkan kebajikan perilaku yang melampaui. Keislaman bukan berhenti dalam atribut pakaian serba putih yang tampak disakralkan dari luar, ritual-ritual ibadah seremonial, kefasihan berdalil kitab suci, serta sederat formalitas syariat luar. Islam justru harus dijadikan model perilaku aktual (mode for action) yang serba bajik sebagaimana rujukan Akhlaq Nabi dan para sajabat  mulia yang membuktikan kata sejalan tindakan. Itulah akhlak uswah hasanah.

Rasulullah pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak mengantarkan manusia masuk surga, beliau menjawab: “Taqwallahi wa husnul khuluq”, yakni bertakwa kepada Allah dan berakhlak yang mulia (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim dari Abu Hurairah). Nabi akhir zaman bahkan memperingatkan dalam salah satu hadis yang artinya, “Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam.” (HR Bukhari). Betapa penting dan menentukan ajaran tentang akhlaq mulia atau al-akhlaq al-karimah dalam Islam, yang berwujud budi luhur dalam ujaran, sikap, dan perbutan.

Menghadapi dunia anomali diperlukan model perilaku berbasis spirituslisasi ihsan yang menanamkan perilaku aktual yang jujur, amanah, welas asih, konsisten, dan luhur budi di bumi nyata. Orientasi pandangan keagamaan penting digeser dari serbadogma ke tindakan nyata yang menyuburkan orientasi humanis. Istilah Hassan Hanafi mengubah alam pikir keislaman dari serbalangit ke bumi. Orientasi tauhid pun niscaya dibumikan dari teosentrisme ke antroposentrisme agar tauhid meminjam pandangan Asghar Ali Anginerr— berfungsi sebagai teologi yang membebaskan kehidupan. Bukan teologi di menara gading, yang tidak menyentuh bumi kemanusiaan, bahkan membiarkan anomali menjadi normal dalam baju kebesaran keagamaan yang angkuh namun lapuk laksana kasur tua!

Tulisan ini telah dimuat pada Harian Republika 9 Desember 2018

Shared:
Shared:
1