Mengimplementasikan Semangat Bermuhammadiyah Melalui Tindakan Sosial

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 18 Desember 2018 13:03 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Pupuk semangat warga persayrikatan, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Beji, Tulung, Klaten lakukan Rihlah (Perjalanan) ke Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro No.23, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (18/12).

Umar Singih, Ketua Bidang Pendidikan Kader PRM Beji, menuturan, kunjungan tersebut dilakukan untuk menambah dan melecut semangat bermuhammadiyah warga PRM Beji yang hanya memiliki semangat dan cinta terhadap Muhammadiyah, tanpa megetahui secara real keadaan kepengurusan Muhammadiyah.

“Supaya mereka tidak fanatik buta terhadap yang mereka cintai, selain itu kunjungan ini diharapkan bisa memberi dampak wawasan berMuhammadiyah bagi warga Muhammadiyah PRM Beji,” imbuhnya.

Rihlah dilakukan sebagai upaya PRM untuk membuka dan menciptakan paradigma baru bagi warga Muhammadiyah dalam mengimplementasikan kemuhammadiyahan terhadap tindakan sosial mereka.

Dalam kesempatan tersebut, rombongan yang berjumlah 80 peserta diterima oleh Ananto Isworo, Sekretaris Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

Ananto dalam paparanya menyampaikan bahwa, Muhammadiyah hadir bukan hanya mengurusi persoalan akhirat saja. Ia beralasan, karena urusan dunia juga akan mempengaruhi urusan akhirat. Hal tersebut dilakukan dengan memfungsikan amal usahanya supaya bisa memberi kemanfaatan kepada semua lapisan masyarakat, meskipun bukan warga Muhammadiyah.

“Salah satunya kita harus kembali memfungsikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah khsusu saja, tapi menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat,” ungkapnya

Ia mencontohkan gerakan sedekah sampah yang menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan, dan menjadikan generasi muda sebagai pengerak didalamnya. “Masjid bukan hanya miliki kita, tapi juga milik generasi nanti. Maka, diperlukan usaha untuk melestarikan keberadaannya dengan membuat gerakan yang banyak melibatkan anak muda,” urainya.

Pilihan gerakan berbasis lingkungan dengan mengumpulkan sampah menjadi pilihan Ananto karena selain turut menjaga ekosistem alam, juga bisa memiliki dampak pada sektor ekonomi.

“Karena konsep kita sedekah. Maka, hasil dari pengumpulan sampah kita gunakan untuk membantu orang miskin, menyantuni janda tua yang memiliki kesulitan ekonomi. Dan juga dari sedekah sampah ini menjadi ladang bagi orang miskin yang ingin bersedekah tapi tidak memiliki finansial yang mumpuni,” tuturpria asal Banyuwangi ini.

Membuat gerakan penyadaran di masyarakat memang bukan soal yang mudah, akan tetapi dengan tekad dan percaya dengan janji Allah semua akan bisa. Ia memberikan kunci sukses dalam gerakkan sosial.

“Yaitu, usol artinya adanya ide, mikol artinya mau bergerak, dan ucol artinya lepas, karena seorang pembaharu harus berani dan siap dilepas atau dikucilkan masyarakat,” tutup Ananto. (A'n)

Shared:
Shared:
1