Kajian I’tikaf UMM Bahas Ramadhan sebagai Bulan Qur’an

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 12 Agustus 2012 10:27 WIB

 

Malang- Pengajian I’tikaf Ramadhan 1433H Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan nara sumber Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Dadang Kahmad, di aula masjid AR Fahruddin, Kamis (9/11). Pengajian kelompok putra ini diikuti tak kurang 450 dosen dan karyawan UMM.

Dadang mengaku terkesan dengan forum pengajian yang dijadikan tradisi di UMM. Sebab, forum tersebut bisa menjadi sarana menyatukan hati segenap civitas akademika yang telah bekerja keras dalam rutinitas sehari-hari. “Ini sangat positif bagi kehidupan keberagamaan kita maupun kehidupan sehari-hari di universitas,” katanya.

Dalam ceramahnya, Dadang membawakan tema hakekat Ramadhan sebagai syahrul Quran. “Bulan istimewa ini dinyatakan sebuah perintah berpuasa melalui Al-Quran, serta bulan lahirnya Al-Quran, yakni pada malam yang diyakini sebagai malam turunnya lailatul qadar,” kata Dadang tentang keistimewaan bulan Ramadhan.

Al-Quran yang kita pegang saat ini merupakan naskah otentik sesuai naskah asli yang dipegang oleh Rosulullah maupun yang dibaca para tabi’in.

Namun, suatu malam Rosul pernah bersedih sangat mendalam karena baru saja menerima wahyu bahwa umatnya akan celaka karena membaca Al-Quran tetapi tidak pernah memikirkannya. “Kesedihan Rosul didasari pada pemahaman ayat Ali Imran 190-191, dengan membayangkan umatnya hanya menjadikan Al-Quran sebagai bahan bacaan saja, tidak dipahami isinya, tidak diambil pelajaran darinya. Umat memang membaca Al-Quran tetapi telah mengabaikannya,” kata Dadang serius.

Namun demikian, bagi Dadang, membaca Al-Quran tetap sangat penting agar kita terhindar dari kesesatan jika mampu memahami isinya. “Seorang pilot saja, yang sudah hafal cara menerbangkan pesawat, masih diwajibkan membaca buku manual sebelum menerbangkan pesawat karena itu memang prosedur standar. Setiap hari kita naik pesawat tetapi setiap itu pula pramugari memeragakan cara penyelematan,” ujar Dadang memberi perumpamaan pengulang-ulangan membaca Al-Quran dengan memahaminya agar selamat dari perjalanan di dunia dan akhirat.

Dalam ayat tadi, ada yang disebut sebagai penyakit mahjuro . “Yakni, sikap cuek ketika Al-Quran dibacakan, tak mengindahkan halal haram walau dipercaya, tidak merujuk Al-Quran sebagai hukum dan prinsip agama dan rinciannya, tidak berupaya memahami apa yang diturunkan, tidak menjadikan obat sebagai penyakit jiwa,” urai Dadang. Agama bagi kaum mahjuro itu hanya ada di kognisi, tapi kepribadiannya tidak sesuai dengan pikirannya.

Dalam bentuk konkritnya, Al-Quran harus diterjemahkan dalam bentuk amalan yang nyata. “Berdiri tegaknya, gagahnya UMM ini tak lepas dari perpaduan antara tadzakkur dan tafakkur sesuai ajaran Quran. Ini merupakan perwujudan nyata, tak hanya membangun ilmu agama tetapi juga ilmu-ilmu lain,” tutur mantan Ketua PWM Jawa Barat ini.

Bulan Ramadhan juga merupakan bulan melatih kesabaran. Dadang menguraikan, kesabaran itu dimanifestasikan dengan sabar menjalani perintah Allah bagaimanapun sulitnya, sabar meninggalkan yang haram, dan sabar menghadapi keinginan yang tak terpenuhi. Untuk melatih kesabaran itu maka kita harus melakukan puasa dan solat.

Acara yang dipandu rektor, Dr Muhadjir Effendy, itu dilanjutkan dialog. Para peserta menunjukkan antusiasmenya untuk bertanya mengenai amalan-amalan selama Ramadhan, termasuk soal membaca Al-Quran dengan suara keras bahkan melalui pengeras suara. Usai pengajian, PIR juga diisi dengan diskusi berbagai topik menarik. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk membahas soal bid’ah dan sunnah selama puasa, puasa sebagai perisai kehidupan dan puasa dan kesehatan mental.(www.umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1