Dihadapan PCIM Taiwan Rektor UMY Sampaikan Gerakan Senyap Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 02 Desember 2018 11:35 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, TAIWAN - Muhammadiyah Taiwan berhasil mempertemukan dua cucu tokoh besar gerakan Islam di Indonesia. Gunawan Budiyanto, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang merupakan cucu tokoh besar Ki Bagus Hadikusumo dipertemukan oleh cucu Buya Hamka yakni Ahmad Syauqy, yang juga merupakan Ketua Pimpinan Cabang Isitimewa Muhammadiyah Taiwan.

Dalam pertemuan itu Gunawan memaparkan strategi kepemimpinan Muhammadiyah merupakan gaya kepemimpinan yang berkemajuan dengan menenkankan pada pengentasan kemiskinan.

“Tafsir Al-Maun dalam pendekatan Muhammadiyah tidak hanya dimaknai dalam sektor ekonomi saja, tetapi Muhammadiyah juga memaknai kemisikinan dalm hal literasi. Kemiskinan terhadap informasi dan berita hoax, menjadi interpretasi baru yang perlu dipahami oleh metode kepemimpinan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Taiwan,” tutur Gunawan pada Ahad (2/12).

Gunawan juga menjelaskan empat pilar gerakan Muhammadiyah pasca muktamar Makassar. Pilar pendidikan, kesehatan, hukum, dan ekonomi. Sehingga banyak kalangan dan ahli yang kagum dengan gerakan Muhammadiyah.

“Hal ini pula yang membuat Muhammadiyah menjadi unik dan berbeda dengan organisasi lain,” ucap Gunawan.

Di perspektif lain, Gunawan juga memaparkan bagaimana politik Muhammadiyah adalah politik untuk mencapai tujuan mulia.

“Politik jangan hanya dimaknai sebagai perebutan kekuasaan,” tegas Gunawan.

Muhammadiyah sebagai bottom-up institution akan menjadi idealitas organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Kekuatan aset dana amal usaha menjadi kekuatan besar Muhammadiyah sebagai sebuah “gerakan senyap” untuk berdakwah dan memberi kepada komunitas.

“Itu sebabnya, teori organisasi modern sudah saat nya direvisi dengan karya nyata Muhammadiyah,” jelas Gunawan.

 Dalam kesempatan itu, Gunawan juga menawarkan gagasan perubahan peta dakwah Muhammadiyah di era digital 4.0. Adanya disrupsi tatanan sosial masyarakat saat ini mengharuskan Muhammadiyah untuk menata ulang peta dakwah.

“Pesatnya perkembangan teknologi mengakibatkan rasa simpati dan empati sosial yang terdisrupsi oleh sosial media,” terang Gunawan.

Reuni cucu tokoh besar Islam Indonesia ini merupakan bagian dari acara upgrading PCIM dan PCIA Taiwan yang juga dihadiri oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjanah Djohantini, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar.

Sumber: Ardian

Shared:
Shared:
1