Kyai Hisyam: Membangun Manusia Indonesia Melalui Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 02 Desember 2018 11:12 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, REDAKSI – Memasuki usia ke-106 tahun, Muhammadiyah semakin matang dalam melaksanakan salah satu tujuan umum Republik Indonesia di dalam Preambule Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi “memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Merujuk pada data Majelis Diklitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tahun 2018 dan Kemenristekdikti Tahun 2018, Muhammadiyah terhitung telah memiliki sekurang-kurangnya 173 Perguruan Tinggi yang tersebar dari wilayah mayoritas muslim Banda Aceh di ujung barat sampai wilayah mayoritas non muslim Sorong di ujung timur Indonesia. Jumlah tersebut lebih banyak daripada jumlah Perguruan Tinggi Negeri yang baru mencapai 122 PTN.

Dibalik keberhasilan Muhammadiyah mengamalkan secara nyata tujuan umum Pembukaan UUD 1945 itu, berdiri sosok seorang murid Kyai Haji Ahmad Dahlan yang telah meletakkan pondasi bagi Muhammadiyah dalam melakukan pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui bidang pendidikan, yakni Kyai Hisyam bin Haji Hoesni.

Membangun Muhammadiyah, Membangun Bangsa

Pembangunan amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan sosial tidak dapat dipadatkan sebagai semangat kemanusiaan Kyai Dahlan semata, tanpa melihat pada kecermatannya untuk membaca tantangan zaman yang saat itu sedang dihadapi kaum muslimin: politik etis dan pemurtadan. Dua pendulum zaman itulah yang membuat Kyai Dahlan bergegas mengamalkan teologi al-Ma’un melalui segala hal yang dapat dimanfaatkan.

Abdurrachman Surjomihardjo dalam Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930 (2008) menyatakan bahwa Kyai Dahlan terkenal toleran dengan mereka yang beragama lain dan berpikiran berbeda, bahkan Kyai Dahlan tanpa merasa malu untuk meniru apa yang dilakukan oleh para penginjil Missie dan Zending dalam mendirikan sekolah, rumah yatim-piatu, rumah sakit, klinik, organisasi wanita, maupun kepanduan kendati menerima suara sumbang dari kaum tradisional.

Kyai Dahlan juga menerima resiko dituduh sebagai ‘Kyai Palsu’ atau bahkan ‘Kyai Kristen’ oleh sebagian pihak tradisionalis ketika memelopori berdirinya sekolah Islam dengan sistem sekolah dan metode pedagogis Belanda, demikian Syarifuddin Jurdi dalam Muhammadiyah Dalam Dinamika Politik Indonesia 1966-2006 (2010).

Fakta tersebut sekaligus menampik tuduhan bahwa Kyai Dahlan merupakan sosok muslim modernis yang kaku sebagaimana usahanya dalam membawa tema pemurnian agama yang dianggap banyak pihak memusuhi tradisi dan inovasi (bid’ah) secara jumud. Bagi Kyai Dahlan, usaha membangun berbagai amal usaha yang bergerak di bidang sosial, lebih jauh adalah sebuah gerakan dakwah yang bersifat strategis dan laten.

Fokus Kyai Dahlan dalam membangun pelayanan sosial-kemanusiaan terutama pendidikan dapat dikatakan beruntung karena sejak masa paling awal mendirikan Muhammadiyah, Kyai Dahlan ditemani oleh salah seorang muridnya yang terkenal cermat, teliti dan akuntabel putra seorang wedana kelahiran Kauman, 10 November 1883 bernama Hisyam bin Haji Hoesni.

Sejarah mencatat bahwa Kyai Hisyam turut menemani perjuangan Kyai Dahlan dalam meraih legalitas pendirian organisasi Muhammadiyah dari pemerintah Hindia Belanda. Bersama H. Abdul Ghani, H.M. Syudja’, H.M. Fachruddin dan H.M. Tamimy, Kyai Hisyam ditunjuk oleh Kyai Dahlan untuk menjadi anggota Boedi Oetomo sebagai langkah paling awal dalam meraih dukungan formal pendirian Muhammadiyah, demikian Syarifuddin Jurdi (2010).

Susan Abeyesakere dalam Jakarta: A History (1989) mengungkapkan ketika Belanda menerapkan kebijakan Politik Etis dalam bidang pendidikan pada abad ke-18 yang sebenarnya dicanangkan sebagai penyedia tenaga kerja terdidik, ternyata membawa arah ke dalam pergerakan revolusi dan nasionalisme pribumi, meskipun Harry A. Poeze secara tegas menyatakan bahwa maksud dari kebijakan Politik Etis adalah menyiapkan dan menyediakan pemerintahan yang berfisik lokal dengan jiwa para kolonial.

Satu sisi Kyai Dahlan harus menghadapi tantangan laten pendidikan, pada sisi yang lain Kyai Dahlan juga menemukan fakta gerakan pemurtadan yang masif dilakukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada kisaran 1870 hingga 1920-an. Dua tantangan ini yang melatarbelakangi lahirnya Muhammadiyah sebagai Gerakan Amar Makruf Nahi Munkar dan Tajdid (pembaruan).

Setelah Muhammadiyah berhasil dideklarasikan pada bulan November 1912, Kyai Hisyam yang merupakan seorang pengusaha Batik dan abdi dalem keraton Yogyakarta itu kemudian menjadi anggota redaksi Majalah Suara Muhammadiyah bersama Kyai Dahlan, R.H. Djalil, M. Siradj, Soemodirdjo, Djojosugito dan R.H. Hadjid, di bawah pimpinan H. Fachruddin, demikian dalam Muhammadiyah 100 Tahun Menyinari Negeri (2013).

Pada Rapat Anggota Muhammadiyah 17 Juli 1920 di Gedung Pengurus Utama (Hoofdbestuur) Muhammadiyah Kauman, Yogyakarta, Kyai Dahlan membentuk empat departemen pertama di Muhammadiyah beserta pemangku amanahnya, yakni Bagian Tabligh yang diketuai oleh Haji Fachruddin, Bagian Taman Pustaka dengan Haji Mochtar, Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem dengan Haji Syujak dan Bagian Sekolahan dengan Kyai Hisyam.

Setelah mendapatkan tugas sebagai Kepala Bagian Sekolahan dalam Rapat Anggota Muhammadiyah tersebut Kyai Hisyam berbicara di depan seluruh sidang menyampaikan tujuannya.

“Saya akan membawa kawan-kawan kita pengurus bagian sekolahan berusaha memajukan pendidikan dan pengajaran sampai dapat menegakkan gedung universiteit Muhammadiyah yang megah untuk mencetak sarjana-sarjana Islam dan maha-maha guru Muhammadiyah guna kepentingan umat Islam pada umumnya dan Muhammadiyah pada khususnya.”

Sekolah Muhammadiyah Di Bawah Kyai Hisyam

Pada tahun pertama berdirinya Muhammadiyah hingga satu dekade awal, Muhammadiyah telah memiliki puluhan sekolah. Ketika Kyai Hisyam memegang Bagian Sekolahan, pertumbuhan sekolah Muhammadiyah mencapai berpuluh kali lipat.

Dalam usahanya mewujudkan ikrar yang telah dibacakan di depan pengurus Muhammadiyah, Kyai Hisyam dibantu oleh Sosrosoegondo dan Djojosoegito mulai membangun sekolah Muhammadiyah sesuai dengan pembacaan Kyai Dahlan terhadap tantangan jaman. Muhammadiyah membuka sekolah dasar tiga tahun (volkschool) desa dengan persyaratan dan kurikulum sebagaimana volkschool gubernemen. Setelah itu Muhammadiyah membuka vervolgschool.

Ketika Belanda membuka standaardschool enam tahun, maka Muhammadiyah menirunya pula. Termasuk menyamai usaha para misionari Katolik pada sekolah Al Kitab Hollands Indlandse School met de Bijbel dengan sekolah Al Quran Hollands Inlandse School met de Qur’an milik Muhammadiyah. Muhammadiyah berusaha menyediakan sekolah modern alternatif yang terbebas dari bahaya laten kolonialisme Belanda. Menariknya bahasa pengantar yang digunakan pada sekolah Muhammadiyah tersebut adalah bahasa Belanda. Hal ini berbeda dengan kebanyakan Sekolah Ongko Loro (kelas dua) yang disediakan oleh Belanda untuk warga desa dengan memakai pengantar bahasa daerah setempat.

12 tahun menjabat Bagian Sekolahan, Mawardi (1977) mencatat bahwa di akhir masa kepemimpinan Kyai Hisyam di Bagian Sekolahan pada 1932, Muhammadiyah terhitung telah memiliki 103 Volkschool, 47 Standaardschool, 69 HIS dan 25 Schakelschool.

Setelah berhasil meletakkan batu pijakan bagi pengembangan sekolah Muhammadiyah di Bagian Sekolahan, Kyai Hisyam terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah ke-3 pada 1932-1936. Atas prestasinya tersebut, Kyai Hisyam mendapat penghargaan Bintang Jasa dari Kerajaan Belanda bernama Ridder van Oranje Nassau. Tiga bulan menjelang deklarasi kemerdekaan Indonesia, Kyai Hisyam menghadap ke rahmatullah. (Afandi)

Shared:
Shared:
1