MPI PP Muhammadiyah Bekerjasama dengan GNI Gelar Pelatihan Pendeteksi Berita Hoax

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 26 November 2018 14:04 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA -- Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Google News Inisiatif (GNI) menggelar pelatihan cara mengidentifikasi informasi hoax bagi utusan PWM dan amal usaha Muhammadiyah se-Indonesia di Aula PP Muhammadiyah Jalan Menteng Raya No. 62 Jakarta, pada tanggal 25 hingga 26 November 2018.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad menegaskan, bahwa para kader Muhammadiyah harus lebih pandai dalam memilih berita yang benar. Paling tidak lanjut Dadang, harus dicek dulu kebenaran berita yang banyak beredar melalui medsos, karena Muhammadiyah hadir untuk kemaslahatan umat.

 "Karenanya kader Muhammadiyah harus pandai memilah berita yang diterima dan yang beredar di dunia maya," tandasnya.

Tambahnya, akhir-akhir ini, pihaknya menemukan sejumlah berita meresahkan di media sosial. Tak jarang, kata Dadang, berita hoax tersebut berpotensi menimbulkan konflik sosial. Alhasil, tindakan pencegahan dengan cara kreatif semacam ini perlu dilakukan.

Pelatihan ini merupakan rangkaian Google News Initiative Training Network, yang dilakukan AJI bersama Internews dan Google.

Trainer Google Inistive Training, Afwan Purwanto menyebutkan, ciri pertama dalam melihat berita tersebut hoax apa tidak yakni, berita tidak nyambung antara judul, isi berita, dan foto.

“Judul berita biasanya dibuat bombastis, berlebih-lebihan tapi setelah dibaca isinya tidak ada cerita yang sesuai dengan judul. Begitu juga foto tidak ada kaitannnya dengan berita,” jelasnya.

Cara kedua, sambung dia, mengambil dari sebuah berita tetapi konteks peristiwa dihilangkan kemudian ditambahi narasi dengan tujuan tertentu yang bersifat opini. Hasilnya antara berita di atas dengan narasi di bawahnya tidak pas.

Ketiga, berita dengan konten manipulatif. Menurut Afwan, cirinya ada kalimat menakuti dengan azab, siksaan, menyuruh sebarkan berita itu kalau tidak mendapat bencana.

"Jika membaca berita dengan tiga ciri tadi di medsos, langsung saja dihapus dan jangan disebarkan," tandas Afwan. Sebab berita hoax, kata dia, sengaja disebar oleh para pemburu trafik websitenya. Semakin banyak orang penasaran dengan berita itu semakin banyak orang meng-klik berita makin untung dia karena mendapat iklan.

Afwan menerangkan, orang menyukai berita hoax jika informasi yang diterima itu sesuai dengan opini atau sikapnya.

"Berita bohong bisa disukai karena sesuai dengan pendapatnya," tuturnya. Karena itu, perlu diimbangi bersikap kritis terhadap meskipun sesuai dengan opini kita tapi jika tidak logis jangan langsung dibenarkan.

Cara menangkal hoax adalah menjalankan prinsip verifikasi. Menurut dia, verifikasi terhadap informasi yang beredar adalah hal penting dalam jurnalisme.

"Salah satu instrumen dalam mencari kebenaran adalah verifikasi," katanya

Hoax bisa terjadi, kata Afwan, karena misinformasi atau disinformasi. "Misinformasi adalah sebuah informasi yang salah, namun orang yang menyebarkan percaya informasi itu benar. Sedangkan disinformasi adalah informasi salah tapi sengaja disebarkan dengan tujuan tertentu," pungkasnya.

Sumber: RI

Shared:
Shared:
1