Cerita Badri, Pelukis Wajah KH Dahlan dan Nyai Walidah Asal Pasuruan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 19 November 2018 16:24 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA- Salah satu rangkaian acara dalam resepsi milad Muhammadiyah ke 106 yang digelar di Puro Mangkunegaran Surakarta pada Ahad (18/11) malam yakni dilaunchingnya foto resmi KH Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dan disaksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Di balik foto resmi KH Dahlan dan Nyai Walidah terdapat sosok Badri, pelukis asal Grati Kabupaten Pasuruan yang dipercayai oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk melukis pendiri organisasi terbesar di Indonesia tersebut.

Badri bercerita, untuk foto KH Dahlan Ia lukis pada 2 tahun yang lalu, saat diminta oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Sedangkan untuk foto Nyai Dahlan, ia diminta untuk melukis hanya dalam waktu satu minggu sebelum resepsi milad Muhammadiyah ke 106 tahun di gelar.

Badri yang juga merupakan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Grati dan anggota Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pasuruan ini merasa bangga dapat dipercaya untuk melukis dua tokoh pahlawan tersebut.

“Saya merasa bangga dapat dipercaya untuk melukis dua tokoh yang sangat saya kagumi ini,” imbuh Badri ketika ditemui pada Sabtu (17/11).

Badri mengakui, untuk melukis dua tokoh tersebut tidak lah mudah.

“Harus ada pencitraan bahwa yang saya lukis ini adalah tokoh. Kita tidak sekadar menggambar tokoh pada umumnya, tapi harus ada kesan, dan karakter. Kebetulan karena kita sendiri orang Muhammadiyah, jadi pemahaman tentang beliau-beliau ini lumayan, itu cukup menjadi modal untuk berimajinasi bahwa tokoh itu seperti apa,” tutur Badri.

Selain itu, Badri juga bercerita ada perjuangan dan peran istrinya yang turut membantu menyempurkan lukisan Nyai Dahlan tersebut.

“Saat saya beli framenya di Malang itu naik motor boncengan dengan istri. Jadi istri yang mangku frame yang beratnya hampir 15 kilogram tersebut, perjalanan dari Malang ke Pasuruan yang menghabiskan waktu kurang lebih dua jam,” ulas Badri.

Di balik perjuangan tersebut, Badri merasa mendapat penghargaan dan rasa bangga yang tak ternilai.

“Apa yang saya lakukan dengan istri tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan KH Dahlan dan Nyai Dahlan pada masa itu,” pungkas Badri. (adam)

 
Shared:
Shared:
1