Haedar: Ajaran Ta’awun Sejiwa dan Seiring dengan Spirit Al-Ma’un

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 19 November 2018 09:44 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, SURAKARTA – Milad Muhammadiyah ke 106 tahun kali ini mengangkat tema “Ta’awun Untuk Negeri”. Dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, melalui tema tersebut Muhammadiyah membawa pesan utama kepada seluruh komponen bangsa termasuk pemerintah dan kekuatan politik nasional agar secara kolektif-kolegial mengerahkan segala daya dalam menggelorakan semangat, pemikiran, dan tindakan-tindakan nyata untuk saling menolong dan bekerjasama demi kebaikan, kemaslahatan, serta kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta.

“Menggelorakan  ta’awun untuk Negeri berarti menyuarakan pesan keruhanian Islam dalam mengembangkan sikap saling tolong-menolong atau bekerjasama untuk terwujudnya  kebaikan serta  kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Sebaliknya mencegah segala bentuk “kerjasama” (konspirasi) dalam hal dosa dan keburukan sebagaimana pesan Allah SWT dalam al-Quran surat Al-Ma’idah ayat kedua,” ucap Haedar dalam sambutan milad yang digelar pada Ahad (18/11) di Pura Mangkunegaran Surakarta.

Islam menjunjung tinggi nilai “ta’awun”, yakni tolong-menolong antar sesama manusia termasuk di dalamnya kerjasama, toleransi, kebersamaan, serta segala kebajikan yang membawa pada kemaslahatan hidup bersama.

“Sebaliknya Islam mengajarkan umatnya agar menjauhkan diri dari “kerjasama” (persekongkolan) yang membawa pada keburukan dan kemudharatan dalam kehidupan bersama,” imbuh Haedar.

Haedar menuturkan, dalam Muhammadiyah ajaran ta’awun sejiwa dan seiring dengan spirit Al-Ma’un sebagaimana menjadi salah satu ciri gerakan Islam ini sejak didirikannya oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan 106 tahun yang silam.

“Bahwa setiap muslim yang menganut Islam dia harus mewujudkan agamanya dalam membela dan memberdayakan kaum miskin, yatim, serta dhu’afa (kaum lemah) dan mustadh’afin (kaum tertindas, teraniaya). Sebaliknya termasuk dusta dalam beragama manakala dirinya tidak mau menolong kaum yang lemah dan dilemahkan. Apalah artinya beragama manakala tidak peduli dan tidak mau berbagi untuk mereka yang bernasib malang dalam kehidupannya,” ujar Haedar.

Ajaran Al-Ma’un dalam Muhammadiyah telah menjadi gerakan praksis sosial Islam yang bersifat membebaskan (emansipasi, liberasi), memberdayakan (empowerment), dan memajukan kehidupan umat dan bangsa.

“Gerakan Al-Ma’un bahkan secara kelembagaan melahirkan rumah sakit, klinik, pelayanan sosial, tanggap kebencanaan, pemberdayaan masyarakat, dan praksis Lazismu untuk seluruh anak negeri. Praksis Al-Ma’un saat ini pun melahirkan aksi kemanusiaan (humanitarian) untuk semua golongan umat manusia baik di dalam maupun di luar negeri dalam gerakan “Muhammadiyah For All”  atau “Muhammadiyah untuk Semua”. Suatu ajaran “ta’awun” yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan,” pungkas Haedar.

Shared:
Shared:
1