KH Muchtar Buchary dan Kehadiran Muhammadiyah di Surakarta

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 15 November 2018 12:34 WIB

MUHAMMADIYAH.ID,SURAKARTA -  Diketahui Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912 di Yogyakarta. Namun, gerak organisasi ini kala itu masih dibatasi oleh Pemerintah Hindia Belanda, dan hanya di wilayah Kesultanan Yogyakarta. Meski demikian, hal tersebut tidak menghalangi semangat KH Ahmad Dahlan untuk mengembangkan dakwah berkemajuannya ke daerah lain, salah satunya ke Solo. Jejaknya dalam berdakwah (tabligh) di Solo dimulai pada tahun 1917 melalui kelompok Pengajian SATV (Sidiq, Amanah, Tabligh, Vatanah).

Muhammad Ali, Pengamat Sejarah Muhammadiyah Solo mengungkapkan bahwa jejak Ahmad Dahlan di Solo tidak bisa dilepaskan dari peran penguasaan keilmuannya.

“KH Dahlan datang ke Solo berkat undangan Mohammad Misbach untuk mengisi kajian di SATV,” tutur Ali ketika ditemui pada Rabu (14/11).

Selain kajian, kepopuleran KH Ahmad Dahlan di Solo juga disebabkan perannya ketika membantu pamannya tatkala ditantang debat oleh Kiyai dari Mamba’ul Ulum.

Meski demikian, jejak intelektual KHAhmad Dahlan di Solo bisa ditemukan pada sosok Muchtar Buchari (1899-1926, ketua pertama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Solo (dulu masih bernama Muhammadiyah Cabang Surakarta).

Ali menceritakan, peninggalan monumental KH Ahmad Dahlan di Solo salah satunya ialah keberhasilannya dalam melakukan transfer ilmu kepada ‘Punggawa Awal’ Muhammadiyah Solo tersebut.

“Ia diangkat menjadi ketua Muhammadiyah Solo  baru berumur berkisar 19-20 tahun. Pengangkatan Muchtar Buchary menjadi keputusan yang berani, mengingat usianya yang relatif masih muda untuk diamanahi menjadi pemimpin,” tutur Ali.

Muchtar Buchary juga dikenal sebagai mubaligh yang produktif. “Manivestasi keintelektualan antara sang guru (Ahmad Dahlan) dengan Muchtar Buchary ada perbedaan yang mendasar, yaitu kegemaran Muchtar Buchary dalam menulis,” terangnya.

Fakta ini menepis anggapan bahwa para mubaligh Muhammadiyah hanya bisa menelurkan keilmuannya dalam bentuk tindakan atau amalan saja.

“Buku yang ditulis Muchtar Buchary antara lain yakni novel yang berjudul Muslimah, Tafsir Al Ma’un serta beliau termasuk orang Muhammadiyah pertama yang menulis buku Tasawuf Cekan, dan ada tulisan naskah-naskah singkat yang beliau tulis,” ujar Ali menjelaskan.

Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Suarakarta ini menguraikan, isi novel Muslimah yang ditulis oleh Muchtar Buchary, dalam analisanya merupakan seorang modernis tulen. Karena salah satu pembahasan dalam novel tersebut ada pembahasan tentang  gender.

Kepopuleran Muchtar Buchary di Muhammadiyah di masa itu sudah kelihatan, seperti yang disebutkan oleh Abu Bakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup Wahid Hasim. Disana disebutkan bahwa tiga tokoh Muhammadiyah yang akan bersinar sepeningal KH Ahmad Dahlan, salah satunya adalah Kiyai Muchtar Buchary. (a'n/andi)

Shared:
Shared:
1