Wasiat Kiai Dahlan untuk Dimakamkan di Karangkajen

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 14 November 2018 13:46 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – KH. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah dan tokoh pahlwan Indonesia lahir di Yogyakarta 1 Agustus 1868 dan meninggal pada 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Karangkajen Yogyakarta.

Makam Kyai Haji Ahmad Dahlan yang terletak di RT 41 RW 11, Kampung Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta ini memiliki cerita sendiri. Karena KH Dahlan, dalam kiprahnya lebih banyak dikenal dekat dengan Kauman.

“Ada banyak versi memang dari tradisi lisan bapak-bapak Muhammadiyah mapun sebenarnya adalah warga Kauman sendiri. Kenapa Kiai Dahlan dimakamkan di Karangkajen itu tidak lain adalah ikatan emosianal Kiai Dahlan dengan masyarakat Karangkajen,” ujar Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makasi, Sejarawan yang juga anggota Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Yogyakarta pada redaksi Muhammadiyah.id, Jum’at (9/10).

Ia melanjutkan justru ketika Kiai Dahlan berdakwah di luar Kauman khususnya di Karangkajen mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat, sehingga Kiai Dahlan merasa memiliki kedekatan khusus dengan warga Karangkajen.

“Jamaah Muhammadiyah Karangkajen yang kemudian mendukung dakwah Kiai Dahlan pertama kali, sehingga KH Dahlan merasa ada kedekatan, dan ingin ketika meninggal dimakamkan bersama jamaahnya di Karangkajen,” kata Ghifari yang juga penanggungjawab Muhammadiyah Heritage Tour PDPM Kota Yogyakarta.

Makam Kiai Dahlan berada dalam satu kotak, diantaranya, ada makam Kiai Badawi, Kiai Noor, Kiai Ibrahim, dan putrinya Aisyah Hilal.

Ghifari mengatakan, tidak ada alasan khusus kenapa makam Kiai Dahlan berada dalam satu kotak dengan makam lainnya.

“Bisa jadi hal terebut terjadi karena makamnya berdekatan, maka saat terjadi pemugaran makam akhirnya dijadikan satu,” terang Ghifari.

Ghifari juga menceritaan, soal nisan makam pernah menjadi persoalan dan perdebatan tersendiri. Ada masyarakat yang tidak setuju memasang nisan di makam Kiai Dahlan dengan alasan menjaga agar tidak ada kegiatan syirik disekitar makam Kiai Dahlan.

Menurutnya, itu bagian kecintaan warga Muhammadiyah dan ketakutan jangan sampai ada aktivitas syirik di makam Kiai Dahlan. Namun, kemudian Kiai Dahlan diangkat sebagai Pahlawan Nasional yang kemudian itu menjadi hal yang penting untuk dipasang nisan sebagai tanda.

Kisah tentang Nyai Walidah atau Nyai Dahlan yang dimakamkan di Kauman juga memiliki beberapa versi.

“Versi yang pertama pada saat itu sedang terjadi agresi militer pertama dimana kondisi keamanan untuk iring-iringan jenazah sedang tidak baik, sehingga diambillah keputusan untuk memakamkan Nyai Dahlan ditempat terdekat yakni di Kauman,” jelas dia.

Tetapi, lanjutnya, versi kedua menyebutkan apa kata dunia bila makam Nyai Dahlan juga terletak di Karangkajen sedangkan Kauman sebagai tempat kelahiran Muhammadiyah.

“Jadi ada sebagian masyarakat merasa masyarakat Kauman berkepentingan makam  Nyai Dahlan berada di Kauman. Mana yang lebih tepat diantara keduanya belum ada literatur pasti yang menyebutkan kebenarannya. Saya membaca ada situasi yang berbeda ketika Kiai Dahlan meninggal 1923 dan Nyai Dahlan meninggal 1946 masyarakat Kauman sudah merasa lebih memiliki Muhammadiyah, sehingga keberadaan makam Nyai Dahlan di Kauman menjadi sesuatu yang penting,” jelas dia.

Ia juga mengatakan bahwa keinginan para wisatawan untuk tau makam Kiai Dahlan sangatlah tinggi dan kebanyakan dari mereka takjub dengan makam yang sangat sederhana.

“Selain itu makam Karangkajen, menurut saya, adalah makam yang paling Syar’i di Yogyakarta. Seperti bentuk kijing yang tingginya tidak boleh lebih dari satu jengkal, tidak boleh ada aktivitas syirik, dan ada adab mengunjungi makam yang sesuai tuntunan Rasullullah SAW,” pungkasnya. (syifa)

Shared:
Shared:
1