KOKAM DIY Tingkatkan Referensi Literasi dengan Menerbitkan Buku

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 28 Oktober 2018 12:32 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Meneguhkan identitas dengan mengali dan mengenal sejarah melalui literasi. Komando Kesiapsiagaan Angakatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melaunching buku “Kokam Kesatuan Muhammadiyah di Zaman Bergerak,” pada Sabtu (27/10) di Kantor Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Jl. Kusumanegara, Yogyakarta.

Launching tersebut merupakan yang kedua, setelah yang pertama di Brebes pada September lalu. Iwan Setiawan, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) DIY, sekaligus penulis buku menjelaskan latar belakang lahirnya buku Kokam disebabkan minimnya sumber literasi yang secara khusus membahas kesejarahan Kokam.

“Kokam sekarang yang memiliki jumlah anggota melimpah, masih minim referensi literasi,” tuturnya.

Ketua PWPM DIY sekaligus Komandan Kokam DIY ini menambahkan, buku yang ia tulis semata didasari atas rasa cintanya terhadap Kokam.

Sementara Afnan Hadikusumo, Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah (PP TSPM) dalam sambutannya mengapresiasi atas di launchingnya buku ini. Ia menambahkan karya seperti ini harus bisa ditularkan ke yang lain, menginggat budaya literasi di Indonesia yang rendah.

“Rendahnya minat baca masyarakat menyebabkan hoax mudah tersebar,” ucap Afnan.

Pada sesi bedah buku, menghadirkan Kokam senior DIY, Akhid W Rahmanto dan Ghifari Yuristihadi ketua PD PM Kota Yogyakarta.

Akhid W Rahmanto menjelaskan, “lahirnya Kokam tidak lepas dari gejolak politik kala itu. Sehingga diakui atau tidak, lahirnya Kokam merupakan keterpaksaan dari sejarah.” Ia menambhakan garis koordinasi Kokam tidak selalu dibawah komando Pemuda Muhammadiyah, akan tetapi diwaktu genting dan mendesak, komando Kokam bisa diambil alih oleh Muhammadiyah.

Sementara Ghifari menyebutkan, tahun lahirnya Kokam merupakan runtutan babak perjuangan bangsa yang dinamis. Dimana pada kisaran tahun 60-an, bangsa ini dilanda disintegritas sesama anak bangsa yang ditandai dengan tumpahnya Gerakan 30 September (G 30S) 1965.

“Moment hadirnya buku ini tepat, karena Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sedang berada di posisi puncak kebanggaan terhadap Kokam. Bahkan bukan hanya AMM, tapi juga para senior Kokam memilikii rasa yang sama, karena langkah strategis yang dijalankan Kokam saat ini memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai pendahulunya,” pungkasnya. (A’n)

Shared:
Shared:
1