Santri Harus Berakhlak Mulia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 23 Oktober 2018 09:52 WIB

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, gempita merasa menjadi santri tampak menggema di tanah air hari-hari ini.

“Syukur kenyataan tersebut dapat menjadi pertanda baik akan adanya wujud keislaman yang lebih berkualitas dalam mewarnai Indonesia yang makin berada di jalan yang benar, baik, maju, dan sejiwa dengan nilai-nilai luhur Islam. Sekaligus karena pengaruh santri Indonesia menjadi negara dan bangsa yang bebas dari korupsi,  ajimumpung kekuasaan, kekerasan, kemaksiatan,  dan segala keburukan yang membuat citra negeri ini terpuruk,” tutur Haedar pada Selasa (23/10).

Mengapa demikian? Karena santri adalah perlambang kebajikan beragama atau berislam.

Sebagaimana diketahui secara umum bahwa santri julukan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren.

Santri bahkan telah menjadi kategori keagamaan untuk menunjuk muslim yang taat menjalankan agama Islam. Sering disimbolkan kaum putih sebagai perlambang bersih atau suci, lawannya abangan.

“Jadi betapa luhur status keislaman kaum santri,” tegas Haedar.

Karenanya kaum santri tentu akan menunjukkan sikap, turur kata, dan tindakan yang berakhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) sebagaimana diajarkan di pesantren tempat para santri dididik agama dengan sebaik-baiknya.

“Sebutlah akhlak jujur, amanah, menjaga lisan (hifdzul lisan), sopan santun, damai, tasamuh (toleran),  tawazun (seimbang), kata sejalan tindakan, dan segala perangai yang mulia serta menebar rahmat bagi orang lain dan lingkungannya,” papar Haedar.

Sebaliknya kaum santri menjauhi segala perilaku yang tercela atau al-akhlaq  al-madzmumah yang merugikan diri sendiri, orang lain,  dan lingkungannya. Santri tidak melakukan akhlak yang buruk seperti  kekerasan kepada siapapun dan apapun seperti menyiksa, membakar, dan berbuat onar atau anarkis di ruang publik atas nama perbuatan baik.

“Jika berbeda paham atau pandangan kaum santri tetap baik, damai, dan toleran sebagai wujud ukhuwah. Kalau beramar-ma'ruf maupun nahi munkar dilakukan dengan cara yang baik sebagaimana prinsip dakwah dengan cara yang bijaksana (bil-hikmah), dengan pelajaran yang baik (wa al-mauidhatul hasanah), dan dialogis (wa jadil-hum bi-llati hiya ahsan),” imbuh Haedar.

Diakhir Haedar menuturkan, jika kaum santri dapat menunjukkan uswah hasanah atau teladan yang baik maka umat dan bangsa akan menjadi khaira ummah.

“Sebaliknya manakala tidak mampu menunjukkan keteladanan akhlak mulia maka kesantrian menjadi jauh panggang dari api,” pungkas Haedar. (adam)

Shared:
Shared:
1