Hadiri Konferensi Pemuka Agama Dunia di Bologna, Mu’ti Sampaikan Pesan Perdamaian Antar Umat Beragama

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 18 Oktober 2018 08:51 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BOLOGNA – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menghadiri konferensi internasional Bridges of Peaces, Religions and Cultures in Dialogue yang diselenggarakan oleh Community of San’tEgidio Archdiocese of Bologna pada Selasa (16/10).Acara yang dihadiri 300 peserta ini juga dihadiri langsung Walikota Castel Maggiore.

Dalam paparannya Mu’ti menyampaikan bahwa saat ini dunia dari aspek ekonomi tengah memiliki kesenjangan yang sangat serius antara kelompok orang yang berkuasa secara ekonomi dan mereka yang miskin.

“Dapat diamati bagaimana orang-orang elit yang berkelompok kecil namun dengan aset dan harta miliknya setara dengan jutaan orang miskin, kelompok ini tidak hanya begitu dominan dan berpengaruh, mereka juga memiliki kekuatan uang untuk mengarahkan dunia. Kesenjangan ini adalah salah satu sumber ketidakamanan, dan untuk beberapa kasus telah mengakibatkan konflik sosial,” terang Mu’ti.

Selain itu, Mu’tti juga menuturkan secara politik, ada ketegangan berkelanjutan antara negara dan fraksi-fraksi politik. Di banyak negara orang yang tidak bersalah adalah korban perang proksi.

“Orang-orang ini menjadi pengungsi di banyak negara dan bahkan tunawisma di negara asal mereka masing-masing,” tutur Mu’ti.

 Dalam situasi ini, menurut Mu’ti masyarakat dunia memerlukan jembatan penghubung antar individu dan organisasi.

“Jembatan adalah sarana yang menghubungkan dua atau lebih tempat terpisah. Dalam arti yang lebih luas, membangun jembatan dapat berarti mengurangi kesenjangan, melibatkan pemisahan, menafsirkan bahasa, menghubungkan yang terpisah, dan sejenisnya. Kita dapat membangun jembatan melalui memberi, berbagi, mendengarkan, memahami, menerima, mengakomodasi, dan mengadvokasi satu sama lain untuk mengurangi atau mempersempit celah, menghilangkan kesalahpahaman dan miskomunikasi, dan untuk menciptakan kedamaian dan harmoni. Pembangun jembatan adalah aktor perdamaian yang mendedikasikan diri untuk meredakan konflik, membangun perdamaian, dan mengembangkan dunia yang adil,” tukas Mu’ti.

Dalam situasi saat ini, orang Yahudi, Kristen, dan Muslim menghadapi tantangan serius. Alih-alih menjadi pembangun perdamaian, ada persepsi bahwa ketiga agama ini adalah agen konflik dan ketidakamanan, diantaranya konflik di banyak negara dan terorisme dunia terkait dengan kelompok ekstrim dalam agama-agama ini. 

“Ada kelompok-kelompok yang dengan sengaja menggunakan, menyalahgunakan, dan melecehkan agama sebagai legitimasi teologis untuk melancarkan kekerasan dan terorisme. Persepsi ini sepenuhnya salah. Tidak ada agama yang mnegajarkan kekerasan. Sebagian besar konflik yang melibatkan orang Yahudi, Kristen, dan Muslim disebabkan oleh faktor non-teologis dan agama. Mereka terutama dipicu oleh faktor politik yang berorientasi pada ekonomi dan kekuasaan,” jelas Mu’ti.

Diakhir, Mu’ti juga mengimbau kepada pemimpin agama dunia baik dari kalangan Muslim, Kristen, dan Yahudi agar dapat menjadi jembatan dalam mengatasi tantangan internal mereka, melepaskan diri dengan kendala historis dan teologis, dan mengaktualisasikan ajaran umum dari agama-agama Ibrahim ini.

Shared:
Shared:
1