Hari Pangan Dunia dan Cerita Pilu Petani Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 16 Oktober 2018 16:27 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Hari pangan sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober menurut Ahmad Romadhoni, anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan PusatMuhammadiyahmasih menyisakan cerita pilu bagi kesejahteraan petani di Indonesia.

Padahal, pertambahan pangan akan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan penduduk akan mengikuti deret ukur. Artinya, pertumbuhan pangan akan terus berkejaran dengan pertumbuhan penduduk. Jika produksi pangan tidak dilakukan akselerasi, maka akan berdampak pada berkurangnya ketersediaan pangan.

Berangkat dari fakta tersebut petani memiliki posisi yang vital dalam keberlangsungan peradaban manusia.

“Akan tetapi kesejahteraan mereka (red;petani) masih mengenaskan,” ucap Dhoniketika dimintai keterangannya pada selasa (16/10).

Melihat Indonesia kedepan, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada (UGM) ini memperkirakan pada tahun 2050, penduduk Indonesia sudah mencapai 400 juta jiwa. Angka tersebut  akan memunculkan ketimpangan antar produsen pangan dan konsumen.

“Karena untuk sekarang ini, tidak lebih dari 5% generasi muda yang kembali bertani,’” jelasnya.

Enggannya generasi muda kembali bertani karena terkait minimnya kesejahteraan yang akan mereka dapatkan ketika bertani. Terlebih, kemitraan yang dibangun oleh pemerintah lebih identik dengan kemitraan yang dibangun dengan perusahaan.

“Harusnya kemitraan tersebut lebih banyak diarahkan kepada petani,” tambahnya.

Maka, pemerintah perlu hadir memberikan dorongan terhadap pemuda untuk kembali bertani. Yaitu melalui kebijakan yang memiliki keberpihakan pada kesejahteraan petani.

Selain itu, Pemerintah harus bisa membuka jalan untuk menyambungkan antara petani dengan konsumen.

“Peran aktif dan pokok yang bisa diambil oleh pemerintah diantaranya adalah mejembatani petani dari hulu sampai hilir,” ungkap Dhoni.

Sehingga, petani sebagai produsen dalam melakukan penjualan hasil produksi tidak melewati rantai distribusi pasar yang panjang, sehingga harga hasil pertanian terkatrol naik.

“Jika harga naik, kesejahteraan baik,” jelas Dhoni.

Bukan hanya persoalan Sumber Daya Manusia (SDM), dalam penyediaan pangan memilki kaitan erat dengan pembangunan. Adanya pembangunan yang tidak sesuai rencana tata ruang, berdampak pada semakin menyempitnya lahan produktif pertanian beralih menjadi bangunan.

Hal tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dari satu pihak, melainkan juga dibutuhkan kesadaran dan kerjsasma berbagai pihak.

“Sebagai solusi, petani perlu untuk membentuk team work, atau jama’ah tani,”pungkas Dhoni. (A’n)

Shared:
Shared:
1