Dakwah Kelas Menengah Perlu Profesionalisme

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 30 Juli 2012 11:33 WIB

Jakarta – Kalau bicara dakwah Muhammadiyah, maka sesungguhnya banyak da’I Muhammadiyah dan dan Aisyiyah yang masuk ke kelas menengah dan atas, namun persoalannya tidak terekspose. “Kita banyak dakwah masuk ke bank-bank, perkatoran tinggi dan sebagainya, tetapi tidak ada yang mengekspose,” katanya Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Prof. Dr. Masyithoh Ch. M.Ag. dalam Pengkajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kantor Jakarta.

 

Muhammadiyah dan Aisyiyah menurut Masyithoh, sudah selalu melakukan dakwah dengan pendekatan wawasan dan kebutuhan masyarakat menengah atas, bahkan banyak da’I yang khusus datang ke tempat-tempat orang menengah. Jadi menurutnya, bukan berarti Muhammadiyah selama ini tidak dakwah ke kalangan menengah, tetapi mungkin sedikit yang tahu.

 

Bahkan menurut Masyithoh, proses dakwah memang harus dilakukan memalui tahapan yang sangat sabar. Jika di sana ada tradisi tertentu, kalau bisa kita ikuti saja, nanti secara bertahap mereka akan paham. “Misalnya mereka yang biasa barjanji, kita terjemahkan, supaya mereka tahu apa sebenarnya isi Barjanji itu. Bahkan banyak yang tidak tahu apa sebenarnya isi Barjanji, setelah tahu baru mereka ikut ke kita,” jelasnya.

 

Oleh karena itu Muhammadiyah perlu melakukan pendekatan yang baik, baik figure, contoh dan metode sangat penting untuk dakwah pada masyarakat menengah ini. “Setiap da’I harus memiliki kompetensi, yaitu kompetensi profesionalisme,” ungkapnya. Sehingga dengan kompetensi, dakwah Muhammadiyah tidak asbun bahkan bisa mengajak masyarakat menjadi kritis.

 

Pendekatan kritis ini menjadi penting, mengingat masyarakat menengah itu kata Masyithah bersifat kritis. Karenanya pendekatan dakwah jangan sampai emosi atau menjadi tidak rasional. Maka menurutnya proses dakwah juga harus bersifat dialogis.

 

Strategis dakwah ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah perlu memperhatikan metode komunikasi yang baik. Sebab komunikasi yang salah akan menyebabkan pesan dakwah tidak sampai secara baik. Maka dalam konteks kelas menengah, menurut Masyithah, kita perlu menggunakan bahasa mereka dengan baik.

 

Selain itu, Muhammadiyah juga harus mengangkat berbagai persoalan-persoalan aktual seperti persoalan marginal, kekerasan dalam keluarga, kemiskinan, korupsi dan lain sebagainya. “Namun dalam pelaksanaannya, kita juga perlu menggunakan teknologi sebagai media berdakwah,” ungkapnya.

 

Aktivis perempuan, Wanda Hamidah menambahkan, strategi dakwah juga harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sebab saat ini masyarakat menengah begitu ketergantungan terhadap berbagai teknologi baru. Baik promosi atau berdikusi dan berbagi, setiap orang saat ini adanya di media sosial atau blackbaerry massanger.

 

“Selain itu, saat ini makan-makan bagi masyarakat menengah bukan hanya untuk mengisi perut saja, tetapi menjadi gaya hidup,” kata Wanda. Gaya hidup ini didukung oleh keberadaan materi dan berbagai fasilitas. Namun sesungguhnya kelas menengah itu kata Wanda, sangat rapuh karena bisa terjebak pada hal-hal yang instand.

 

“Banyak yang mengejar citra dan trend, tetapi semua itu hanya bohong atau kepura-puraan,” katanya. Sehingga apa yang dilakukan mereka adalah mengejar prestise, tidak cukup dengan harga yang menengah, bahkan banyak yang membelinya sangat mahal sekali.

 

Kondisi ini meninggalkan Pekerjaan RUmah, stategi dakwah secara apa? Maka menurut Wanda, perlu kiranya dakwah menggunakan media sosial, memberikan materi-materi yang dibutuhkan mereka. “Materi itu harus menjawab kegalauan masyarakat mereka,” jelasnya. Walaupun sesungguhnya materi-materi itu merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja, namun menurut mereka itu luar biasa.

 

Masyarakat menengah seperti ini sesungguhnya sangat membutuhkan kehadiran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. “Sebab mereka kekurangan materi keagamaan, walaupun sebenarnya mereka terkadang menginginkan siraman rohani secara berkala. Dan kalau mereka dirangkul, mereka bisa dengan mudah memberikan kontribusi dan kerjasama dengan kita,” jelasnya.

 

Reporter : Roni Tabroni

Shared:
Shared:
1