Bangkitkan Daya Tarik Wisatawan, Muhammadiyah Dirikan Rumah Keong Bagi Korban Gempa Lombok

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 09 Oktober 2018 12:07 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, LOMBOK Terinspirasi Rumah Domes atau Rumah Teletabis, di Sumberharjo, Prambanan, Sleman. Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah (Lasimu) membuat pilot project rumah keong (sisok) bagi warga terdampak Gempa Lombok.

Ditemui pada Jum’at (05/10), Sri Hidayati, Kooridnator Bidang Administrasi dan Keuangan berharap project ini nantinya bisa menjadi daya tarik wisata.

 “Harapannya semoga ke depan desa ini menjadi daya tarik sebagai salah satu tujuan wisata di Lombok,” ungkapnya.

Project tersebut direalisasikan untuk warga terdampak gempa di Dusun Montong Dao, Desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah. MDMC menarget akan ada sepuluh rumah keong yang akan dibangun secara bertahap dalam waktu sebulan, saat ini sedang menyelesaikan pembangunan satu rumah yang ditarget rampung selama tiga pekan, tambah Sri.

Material yang dipakai dalam membangun rumah sisok (red; keong) berbahan dasar karung yang berisi campuran semen, pasir dan kerangka besi, serta susunan kayu yang dikontruksi sedemikian rupa supaya kuat dalam menahan guncangan. Setelah karung yang telah terisi campuran tersebut, tim memberikan kawat ke seluruh lapisan karung dan kemudian diplester dengan menggunakan semen setebal lima cm pada area dalam dan luar rumah.

Rumah keong tiap unitnya nanti akan berukuran 8 x 8 meter, terdiri dari dua ruangan, ruang dapur, dan kamar mandi. Rumah tersebut bisa dihuni hingga lima orang. Sri menambahkan “Bentuk rumah ini telah diuji dan diprediksi tahan gempa.” Tambahnya.

Amrillah, Bidang Logistik MDMC Lombok menaksir biaya pembangunan tiap unit rumah sebesar Rp 23 juta. Selain rumah, MDMC Lombok Tengah juga merencanakan akan membangun museum gempa. Pembangunan museum ditujukan sebagai penanda atas terjadinya benana alam di wilayah tersebut.

Dalam prosesnya, pembangunan rumah keong terkendala dengan keengganan masyarakat dalam membangun rumah mereka. Mereka beranggapan jika telah menerima bantuan pembangunan rumah keong, nanti tidak menerima bantuan dari pemerintah. Padahal itu tidak benar.

“Perlu dilakukan sosialisasi dalam pembangunan rumah keong, dimulai satu rumah dulu, untuk contoh. Dan sekarang yang lain ingin dibangunkan sama,” tutup Amri. (A’n/up/rep)

Shared:
Shared:
1