Gerakan Pencerahan Majelis Tabligh ‘Aisyiyah Jateng

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 08 Oktober 2018 10:31 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SEMARANG – Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah (Jateng) menyelenggarakan konsolidasi organisasi pada hari Ahad (7/10) bertempat di Ruang Sindoro Balai Latihan SLB Semarang . Kegiatan yang diikuti oleh 92 peserta terdiri dari 22 anggota Majelis Tabligh PWA Jateng, 35 Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Se-Jawa Tengah, dan 35 Ketua Divisi Pembinaan Keluarga dari masing-masing pimpinan Daerah.

Konsolidasi organisasi ini juga dihadiri oleh Ketua Koordinator Majelis Tabligh PWA Jateng Gunarsih dan dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Tabligh PWA Jateng  Lintal Muna.

Lintal Muna menyampaikan bahwa Majelis Tabligh menjadi pionir, menjadi ruh, dan corong ‘Aisyiyah. “Oleh karena itu Majelis Tabligh ‘Aisyiyah harus hidup, mencerahkan serta berkemajuan sehingga membuat warga masyarakat aman, nyaman dan menyenangkan serta selalu ada inovatif dan progress,” kata dia.

Berikut ini hasil keputusan dari Konsolidasi Organisasi Majelis Tabligh Se-Jawa Tengah : (1) Diharapkan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Majelis Tabligh yang belum mengadakan Pelatihan Mubalighat untuk segera  mengagendakan. (2) Pembekalan Mubalighat setiap empat bulan sekali. (3)Diharapkan setiap pertemuan Majelis Tabligh semuanya memakai seragam Majelis Tabligh. (4) Tahun 2019 akan dilaksanakan Lomba Pidato antar PDA Se-Jawa Tengah. (5) Setiap Akhir Tahun Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Majelis Tabligh diharapkan memberikan laporan data empat divisi.

Majelis Tabligh PWA Jateng juga meluncurkan  buku Ketua corps Mubalighat PWA Jateng Ngamilah, yakni buku Risalah Dakwah Kontemporer .

Dalam sambutannya Ngamilah menyampaikan tentang kegelisahannya bahwa banyak orang yang berkecimpung di bidang dakwah terutama penyuluh agama kadang-kadang  meleset dari pedoman Al Qur’an dan Sunnah.

“Karena banyaknya tantangan dari dalam diri dan dari internal pendakwah, penyuluh banyak yang tidak bisa mengendalikan syahwatnya, merasa paling benar dan radikal. Hal-hal inilah yang mengusik hati saya sehingga terdorong untuk menulis buku ini,” pungkasnya. (syifa)

Sumber : Noer (PWM Jateng)

Shared:
Shared:
1