Azyumardi Azra: Kembangkan Tasawuf Model Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 30 Juli 2012 09:42 WIB

Jakarta – Pendidikan Tinggi kita kebanyakan berdiri pada tahun 70-80an. Kondisi ini melahirkan masyarakat menengah di Negara ini. Karenanya, lembaga pendidikan memberikan kontribusi lahirnya kelas menengah.

 

Kelas menengah yang memiliki pendidikan ini menurut Cendikiawan Islam, Azyumardi Azra dalam Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah Kantor Jakarta di Aula RSIJ, Senin (30/7), memiliki daya dorong untuk melakukan perubahan.

 

Azyumardi menjelaskan, walaupun sebenarnya mereka sesungguhnya memiliki gaya hidup relative tinggi, namun setidaknya mereka telah menggerakan ekonomi kita. “Sehingga kehebatan ekonomi kita karena tingkat konsumsi masyarakat menengah yang meningkat, sehingga pemerintah tidur pun ekonomi tetap berjalan,” jelasnya.

 

Ada dakwah yang dibutuhkan oleh kelas menengah ini, yaitu mencari makna Islam yang mendalam. Yaitu model pengajian yang mengkaji hal-hal yang bersifat tasawuf. “Sayangnya Muhammadiyah tidak suka dengan tasawuf ini,” katanya. Padahal menurut Azyumardi, masyarakat menengah saat ini memerlukan hal-hal seperti itu, bukan hanya berbicara tentang halal-haram.

 

Karenanya Muhammadiyah memerlukan model pengembangan dakwah ke arah itu, walaupun kemudian melakukan modernisasi seperti yang dilakukan oleh Hamka. “Kalau Muhammadiyah tidak menggarap ini, maka masyarakat menengah akan terjebak pada Sudosufism, yaitu tasawuf palsu, bukan tasawuf beneran,” jelasnya. Tasawuf model ini dicirikan dengan praktek nangis, pake musik dan hal-hal yang menyimpang lainnya.

 

Muhammadiyah kata Azyumardi, memang perlu melakukan perubahan model pembaruan sufisme dengan melakukan penyariangan kontennya. “Hilangkan saja hal-hal yang bertentangan dengan Muhammadiyahnya, seperti khurafat, tahayul dan bid’ahnya,” harapnya.

 

Namun bagaimanapun, jika Muhammadiyah tidak menggarap ini maka kelas menengah kita akan kehilangan arah, padahal mereka memerlukan pencerahan keagamaan. Mereka memiliki pendidikan dan uang yang banyak, mau diapakan mereka maka tergantung materi apa yang mereka terima. “Karenanya Majelis Tarjih Muhammadiyah harus sudah mulai melirik ini, sebab ini sangat penting untuk digarap oleh Muhammadiyah,” pungkasnya.

 

Karena pentingnya hal tersebut, “saya saat  ini merekomendasikan tasawuf model Muhammadiyah. Namanya menurut saya Tasawuf Dahlani,” usulnya.

 

Reporter : Roni Tabroni

Shared:
Shared:
1