Islam Perlu Dorongan Untuk Mengejar Prestasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 30 Juli 2012 09:37 WIB

Jakarta – Sampai sekarang tidak ada penelitian khusus terkait dengan psikologi menengah Islam khususnya di Indonesia. Namun demikian sedikitnya ada dua parameter utama untuk berbicara individu kelas menengah, yaitu pertama dunia kerja, kedua dunia pendidikan.

 

“Mereka adalah masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, dan mereka mampu mandiri karena memiliki kegiatan peribadi, tidak tergantung kepada orang lain,” Kata Psikolog UIN Syahid Jakarta RezaIndragiri Amriel dalam acara Pengkajian Ramadhan Muhammadiyah di Aula RSIJ Cempakaputih, Senin (30/7).

 

Di dunia kerja, kata Reza, ketiak dilakukan penelitian tentang need for achievement, maka orang Protestan memiliki dorongan berprestasi yang lebih tinggi. Saking kuatnya, mereka melakukan apa saja untuk mengejar prestasi itu. “Maka pada aspek ini ummat Islam harus mengakui mereka yang memiliki dorongan untuk berprestasi sangat tingggi,” katanya.

 

Orang Protestan, menurut Reza, dapat memiliki dorongan untuk berprestasi sangat tinggi karena mereka melakukan adopsi nilai-nilai prestasi versi protestan. Padahal nilai-nilai itu juga ada di Islam. Namun realita yang ada di Islam sangat berbalik dengan apa yang ada dalam ajarannya, seperti pekerja keras, ambisius, mengejar prestasi. Namun hal ini diamalkan oleh orang Protestan, bukan oleh orang Islam.

 

Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi pada orang Protestan? Sebab ternyata nilai-nilai etis justru didoktrinkan kepada keturunan mereka sejak anak-anak. Sehingga ketika mereka dewasa kemudian memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai kebutuhan untuk berprestasi itu.

 

Bagi bangsa kita, hasil penelitian, bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dapat uang, bisa hidup cukup, maka selesai masalah. Sedangkan dorongan untuk mencapai prestasi dalam dunia kerja, itu hampir tidak ada.

 

Reporter: Roni Tabroni

Shared:
Shared:
1