ISMUBA Sebagai Identitas Lembaga Pendidikan Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 26 September 2018 09:58 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Wakil Ketua Majelis  Dikdasmen PP Muhammadiyah Tasman Hamami mengatakan, Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) dan Bahasa Arab, atau ISMUBA, merupakan identitas sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dan hal ini sesuai amanat muktamar yang harus dilaksanakan.

Hal ini disampaikan Tasman dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Muhammadiyah Jenjang SMP yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada (Selasa, 25/9/18) di Yogyakarta.

Tasman melanjutkan bahwa Mejelis Dikdasmen memalui tim yang ia pimpin telah menulis buku-buku baru ISMUBA dan telah merumuskan kerangka acuan untuk menjadi rujukan bersama.

“Selanjutnya kita akan menggelar pelatihan berjenjang berupa Training of Trainer (TOT) khusus menegnai ISMUBA di mana pesertanya diharapkan akan meneruskan ke tingkat satuan pendidikan hingga ke guru. Para peserta akan diberikan pelathan bagaimana mengajar ISMUBA secara kreatif, inovatif  and menarik,” ujar Tasman yang juga Wakil Ketua PWM DIY membidangi pendidikan.

Tasman menambahkan bahwa seiring dengan berjalannya implementasi ISMUBA maka pihak Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah akan menunggu masukan dari guru-guru untuk selanjutnya dilakulan evaluasi untuk penyempurnaan.

Sementara itu Seketaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah Alpha Amirrachman, dalam paparannya mengenai keijakan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah berharap agar ISMUBA diejawantahkan bukan hanya dalam ranah kognitif, tapi juga afektif dan psikomotorik.

“Nilai-nilai Kemuhammadiyahan ini dapat diwujudkan  melalui kegiatan Hizbul Wathon, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Tapak Suci, karena kita menganut penddikan yang holistik-integratif. Kita berharap siswa-siswa kita bukan hanya menjadi cerdas dan pintar, tapi juga berkepribadian, berkarakter,  berakhlakul karimah dan berjiwa kepeloporan,” ujarnya.

Alpha berharap aspek akademis dan non-akademis ini dikemas sedemkian rupa menjadi identitas dan pembeda dengan sekolah yang lain.

“Sekolah-sekolah Muhammadiyah harus memberikan  added values, nilai lebih, yang ditawarkan kepada masyarakat. Kita bersaing bukan hanya dengan sekolah negeri namun juga dengan sekolah swasta yang lain. Kalau kita tidak punya identitas yang khas dan kuat, sekolah kita akan kalah dalam bersaing,” ujarnya.

Giat pelatihan ini diikuti oleh kepala-kepala sekolah SMP Muhammadiyah dari NTT, NTB, Bali dan seluruh provinsi di pulau Kalimantan. Selama empat hari mereka mengikuti sesi-sesi kebijakan pemerintah tterkait guru dan tenaga kependidika, kebijakan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Al Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab, Pemguatan Pendidikan Karakter, dan Manajemen, Supervisi, Kewirausahaan.

Shared:
Shared:
1