Bertemu Sultan, PP Muhammadiyah Berdialog Masalah Kebangsaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 28 April 2011 21:54 WIB

Yogyakarta- Pukul 10.00WIB ketua umum Din Syamsuddin didampingi sekretaris umum PP Muhamadiyah dan ketua umum PP ‘Aisyiyah, serta jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah lainnya, disambut Sri Sultan Hamengkubuwana X di Gedong Jene, kompleks Keraton Yogyakarta, Selasa (26/04/2011).

Dalam diskusi yang berlangsung sekitar satu setengah ja tersebut, Din Syamsuddin dan Sri Sultan HB X menyepakati pentingnya kewaspadaan yang harus ditingkatakan, ditengah banyaknya kasus-kasus penculikan dan fenomena cuci otak yang ditengengarai sebagai gerakan ingin melepaskan diri dari NKRI. “Muhammadiyah sebagai ormas Islam mempunyai peran besar dalam mebentuk pribadi karakter yang kuat agar dapat memagari dan tidak mudah untuk digoyahkan, termasuk melalui doktrin dengan media cuci otak,” ungkap orang nomor satu di Jogja ini. Selama ini menurut Sultan, apa yang dilakukan kelompok tersebut sudah diluar ajaran Islam dengan menghalalkan mencuri uang di keluarganya hingga melacurkan diri demi dana yang nantinya untuk tujuan kelompok.  Senada dengan Sultan, Din Syamsuddin mengungkapkan, masalah mengenai kelompok penculik dan pencuci otak tersebut akan dibahas dalam rapat PP Muhamadiyah yang nantinya akan membentuk semacam komisi yang akan concern dalam menanggulangi dan membentengi masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah.

Lebih lanjut menurut Din, peran Negara dalam masalah cuci otak ini juga harus ditingkatkan, jangan sampai Negara terkesan lepas tangan dan membiarkan kasus ini berlarut-larut, karena sebenarnya kasus doktrin yang disinyalir adalah gerakan NII ini adalah kasus yang sudah cukup lama.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri adik Sri Sultan HB X, GBPH Joyokusumo ini, juga membahas  masalah RUUK DIY yang sampai hari ini masih dalam penggodokan di DPR pusat. Muhamadiyah melalui Din Syamsuddin menyatakan konsistensinya dalam mendukung RUUK DIY yang dinilai sebagai kekuatan budaya masyarakat Yogyakarta dalam mempertahankan eksistensinya. Sejarah Yogyakarta dalam menggabungkan NKRI dinilai sebagai pijakan dalam dukungan RUUK DIY disaping sejarah Muhammadiyah yang juga pada awalnya tumbuh di lingkungan keraton Yogyakarta.

Shared:
Shared:
1