Muhammadiyah Tingkatkan Kualitas dan Mutu PTM di Era Revolusi Industri 4.0

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 27 Agustus 2018 12:11 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan diskusi buku “Higher Education in the Era of the Fourth Industrial Revolution” pada Sabtu (25/8) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kegiatan ini, diikuti oleh para tenaga pendidik dan kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).  Adapun narasumber dalam diksusi tersebut adalah Moh. Mudzakir, mahasiswa S3 Universitas Sains Malaysia dan Ali Ghufron Mukti, Direktur Jenderal Sumber Daya IPTEK dan Dikti Kemenristekdikti RI.

Muhammad Sayuti, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dalam pengantar diskusi mengatakan, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini, PTM berupaya untuk merapikan kembali tata kelola, manajerial, giat belajar dalam menangani perubahan, serta berupaya untuk mengubah mental dosen sebagai aktor utama dalam pendidikan tinggi.

“Diskusi ini dirancang agar peserta mampu memperbaharui pandangan yang nanti berimplikasi terhadap pengelolaan kampus. Hasil diskusi ini, akan dibawa ke rakornas bidang akademik di Banjarmasin waktu mendatang,” ujar Sayuti.

Mudzakir dalam mengisi diskusi itu mengatakan, revolusi industri 4.0 ini menjadi tantangan tersendiri untuk PTM. PTM harus mampu beradaptasi dan berusaha untuk berkembang. Jika tidak, menurut Mudzakir, PTM akan jauh tertinggal.

“Kita harus bisa mengupayakan agar adanya revolusi industri ini mampu menjadi satu kesatuan yang melahirkan teknologi baru, lebih jauh lagi untuk memajukan PTM. Maka, kita harus menganggap hal itu sebagai hal yang krusial, juga harus berpikir fleksibel untuk kemudian mampu menciptakan suatu hal besar yang baru,” jelasnya.

Kemudian Ali Ghufron Mukti menyampaikan, dalam menyikapi revolusi industri 4.0 ini, berarti Indonesia sedang berkembang menjadi negara yang lebih kompetitif di bidang apapun. Termasuk halnya dalam ranah perguruan tinggi, menurut Ali, pemanfaatan teknologi akan menjadi peluang untuk PT, sekaligus menjadi tantangan.

“Tentu harus ada inovasi dan kreativitas, misalnya kita harus punya program studi yang mengajarkan kreativitas yang berbasis kemandirian. Dalam hal ini dosen wajib mengawasi dan memberi arahan, namun tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Hal ini untuk melatih kemandirian mahasiswa dalam berkembang,” ujar Ali.

Ali menambahkan, dalam menghadapi revolusi industri 4.0, mahasiswa harus memiliki kreativitas, pikiran kritis, komunikasi dan kolaborasi.

“Kita harus bekerjasama atau kolaborasi, ini bisa jadi modal sosial yang mahal. Menciptakan kemajuan, akan lebih bagus jika dilakukan bersama-sama, saling membahu,” katanya. (nisa)

Shared:
Shared:
1