Meneladani Akhlak Mulia Nabi Ibrahim AS

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 22 Agustus 2018 09:25 WIB

MENELADANI AKHLAK MULIA NABI IBRAHIM AS

(Untuk Menyongsong Pemimpin Bangsa Kedepan)

Oleh: Busyro Muqoddas (Ketua PP Muhammadiyah)

Disampaikan dalam Khutbah Idul Adha 1439 H di Universitas Muhammadiyah Malang

Assalaamu’alaikum wr wb

 

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَه بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُذْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا* أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَ الرَّسُوْلُ اللهِ * أَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَ رَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَه بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ * أَمَّا بَعْدُ* فَيَا عِبَادَ اللهِ * أُوصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَ اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

 

أللهُ أَكْبَرُ أللهُ أَكْبَرُ أللهُ أَكْبَرُ لا إلَه إِلِّا اللهُ أللهُ أَكْبَرُ أللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat Yang Dirahmati Allah.

Pertama-tama, marilah kita senantiasa bersyukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang senantiasa menganugerahkan nikmat-Nya kepada kitadan bangsa kita.  Begitu besar  dan tak terbatas nikmat itusehingga manusia tidak akan mampu   menghitungnya. Maka marilah kita tingkatkan kualitas  kesyukuran kita dengan cara menyempurnakan kualitas ketaatan, kedisiplinan dan keikhlasan beribadah kita ke hadirat Allah SWT seraya merenungi peringatan  Allah SWT di dalam Al-Quran, surat Ibrahim ayat 7:

 

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Alhamdulillah , pada hari ini, tanggal : 10  Dzulhijjah 1439 Hijriyyah  bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 2018, umat Islam se dunia merayakan  hari raya Qurban. Kita merayakannya dalam arti menjalankan perintah syari’ah Islam dengan menegakkan solat dua raka’at di lapangan. Dalam hari ini pula dan 3 (tiga) hari kedepan ( hari tasyriq ), umat Islam yang sedang dianugerahi kecukupan rezeki, diwajibkan untuk menyembelih hewan kurban. Dua amalan ini merupakan amaliah dari perintah Allah di dalam Al-Qur’an surat Al Kautsar yang artinya :

Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat kepadamu yang banyak. Maka dirikanlah solat karena Tuhanmu dan ber- korbanlah “.

 Dalam kesempatan singkat yang mulia  ini mari kita menggali tentang “apa hikmah dan makna” dibalik perintah solat dan berkurban terhadap Nabi Ibrahim untuk “menyembelih” Ismail anaknya sendiri. Mari kita telaah beberapa ayat dari kitab suci terakhir yaitu Al-Qur’an al Karim.

                1. Dikisahkan dalam  Al-Qur’an tentang permohonan Nabi Ibrahim untuk memperoleh anak yang soleh sebagaimana tersebut di dalam surat As                       Saffat (ayat :100)  :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya : “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang soleh “.

2. Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim  sebagaimana disebutkan dalam surat yang sama pada ayat ke 101 :

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Artinya : “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang sangat sabar (Ismail).”

3. Kegembiraan Nabi Ibrahim atas anaknya (Ismail) adalah lambang kecintaan otentik seorang “Bapak terhadap Anak” . Namun Allah swt menguji iman dan ketaatan Nabi Ibrahim dengan turunnya perintah Allah untuk menyembelih Ismail. DiperintahkanNYA di dalam surat yang sama  dalam ayat (102) :

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya : “ Maka tatkala anak itu sudah sampai ( pada umur sanggup) berusaha bersama-sama dengan Ibrahim, berkatalah Ibrahim : ‘ Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa akan menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ismail menjawab : ‘ wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah ) kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “.

4. Ketika Nabi Ibrahim hampir saja melaksanakan perintah Allah itu, maka dengan Ke-Maha KekuasaanNya, Allah Yang Maha Rahman (Pengasih) dan Maha Rahim (Penyayang) membalas ketaatan, kesabaran dan kecintaan Nabi Ibrahim terhadap Allah dengan mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar. ( Surat As Saffat, ayat : 107 )

Saudaraku Kaum Muslimin Muslimat yang dirahmati Allah.

Mutiara Hikmah dan makna  dari kisah  Nabi Ibrahim dan Ismail di atas adalah  suatu pelajaran melalui ayat-ayat metaforik  (tamsil) bagaimana “metoda/cara” Allah memberikan pendidikan  kepada umat manusia untuk mensyukuri (dengan ama dan cara  yang benar ) atas nikmat yang telah dianugarahkan kepada semua hambaNya. Di antara butir-butir Mutiara Hikmahnya adalah :

  1. Pentingnya pemahaman yang mendalam tentang rasa syukur atas nikmat yang terus menerus dilimpahkan Allah kepada umat manusia. Sikap syukur diwujudkan dengan menegakkan kewajiban solat- yang hakekatnya- adalah menjadi pemenuhan nutrisi - ruhaniyah untuk kesehatan mental, jiwa, nalar  umat Islam dan bangsa Indonesia. Hakekat solat adalah sebagai metoda unggulan untuk mencegah berbagai laku kemungkaran. Juga dengan berkorban atas harta yang kita milik yang hakekatnya adalah bersumber dan berasal dari Allah . Berkorban tidak berhenti dan sebatas berkorban berupa hewan kurban pada hari Idl Quran dan tiga hari berikutnya. Namun pada hakekatnya justru kita dididik Allah untuk memiliki karakter dan sifat menolong sesama insan lintas agama,keyakinan, suku, budaya dan asal kebangsaan tanpa membedakan perbedaan status sosial ekonomi dan kekayaan maupun jabatan. Yaitu tolong menolong dalam prinsip dan bingkai kebenaran dan ketaqwaan.
  2. Jika pemahaman ini kita tarik kedalam konteks kenyataan yang faktual dimana di Negeri ber Pancasila dan UUD 1945 ini masih ditandai dengan praktek tuna moral, maka dipersoalan inilah kita wajib berkorban untuk misi penyelematan bangsa dan negara. Rakyat masih dipertontonkan praktek   korupsi (merampok harta rakyat yang dikuasai negara) yang ditandai dengan semakin kuasanya “peternak-peternak koruptor” mendominasi jabatan kenegaraan. Juga tuna moral  dalam bentuk aksi-aksi teror terkutuk yang semakin produktif dan sistemik serta merata yang juga menjadi “proyek dari peternak-peternak teroris”.  Bahkan contoh-contoh tuna moral lainnya berupa praktek “demokrasi liberal  transaksional” dalam bentuk praktek suap dalam sejumlah besar pilkada dan pemilu  yang lalu. Demoralisasi sistemik ini sudah berhasil mengakibatkan bencana sosial,politik dan ekonomi. Yaitu berupa kesenjangan ekonomi dan ketidak-adilan sosial secara meluas. Yang menanggung derita terberat adalah rakyat.
  3. Nabi Ibrahim (simbol Generasi Tua) adalah sosok pemimpin umat dan pemimpin bangsa  yang sangat menghargai “cara dialog” dengan “generasi muda” yang disimbulkan oleh/melalui Ismail. Ibrahim memberi contoh “regenerasi dan kaderisasi terhadap kaum muda ( generasi milenial dalam pengertian kekinian). Dan sekaligus Ismail adalah pemberi lambang contoh “generasi muda yang tegar,taat dan kritis”, bukan generasi pengekor dan taklid politik.   Inilah  karakter dan  watak ajaran Islam sebagai agama sempurna dan rahmatan lil’alamien yang menekankan pentingnya “kejujuran/kesabaran/ketaatan dan kecintaan segala sesuatu dikembalikan kepada “puncak-puncak  ketaatan/kecintaan/kepasrahan”. Dan puncak itu adalah  Allah swt yang kepadaNya umat manusia  akan dikembalikan untuk mempertanggjawabkan semua amalnya. Amal itu mencakup amaliah pribadi maupun yang terkait dengan peran keluarga sekaligus dalam kaitan dengan tugas, kewajiban, kepekaan sosial,politik,keadilan ekonomi dan tanggung jawab kenegaraan . Inilah substansi dan hakekat doktrin  “Tauhid Sosial”. Yaitudoktrin Islam yang mengajarkan  dan menekankan amaliah dan kesadaran bahwa nilai-nilai dan spirit keberanian, kejujuran, kesetiaan serta amar ma’ruf nahi munkar dibidang sosial politik, hukum, ekonomi, dan budaya, yang selalu dijiwai dengan “prinsip kemanusiaan  universal dan memburu Ridza Allah swt” . Prinsip ini akan mampu membimbing kita semua bersikap menjauh bahkan  memisahkan secara tegas dengan dan dari nafsu syahwat politik pragmatis-hedonistik pemburu kekuasaan semata. Sebaliknya menyadarkan kita untuk memperbaikinya (amaliah insaniyah-ihsaniyah) sebagai wujud  komitmen umat Islam berkorban dalam ruang-ruang publik kebangsaan dan kenegaraan agar terbebas dari cengkeraman “kekuatan minoritas  ekploitatif”.
  4. Ibrahim adalah contoh lambang Pemimpin yang Rela dan Tulus Berkorban atas egonya. Maknanya dalam kekinian di negeri Pancasila ini adalah , ketika sikap munafik, pembohong, culas, sulit dipercaya, kepura-puraan didepan publik  yang sangat kelewat batas yang menghasilkan sistem dan praktek korupsi. Bukan sebatas pada korupsi atas sumber daya alam yang  begitu dahsyat nilai kuantitas dan kualitas – ekonomi dan perekonomiannya, tetapi umat/rakyat dan bangsa sudah dipaksa menerima praktek korupsi lainnya. Apa itu ? Yaitu  “korupsi  demokrasi” ( pilkada pemilu yang berbasis praktek suap, termasuk menyuap  pemilih ),  bahkan “korupsi konstitusi” ( undang-undang/perppu/ berita acara pemeriksaan aparat penegak hukum/ tuntutan jaksa/ putusan hakim, termasuk hakim Mahkamah Konstitusi hingga pada derajad peraturan-peraqturaan  daerah) yang sengaja dikorup untuk memenuhi pesanan kekuatan modal . Ketiga jenis korupsi ini sesungguhnya sudah leluasa berpraktek selama 50 tahun . Akibatnya jelas : (1) Kesenjangan ekonomi/ketidakadilan sosial yang meluas, (2)  Sistem politik yang tidak bermartabat dan anti Pancasila- UUD 1945, (3) Kemiskinan kuantitatif- kualitatif multi-dimensional sebagai akar radikalisme.  (4) Meluasnya pola dan praktik hidup  pragmatis, permisif-hedonis (5) 1% kekuatan minoritas menguasai 55 % harta negara dan ke (6) Kualitas pemimpin dan sistem kepemimpinan yang  tidak jelas arahnya.
  5. Menggali kandungan kualitas akhlak mulia Nabi Ibrahim sebagai Bapak Tauhid adalah mejadi kebutuhan dan kewajiban bahkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa yang berbasis pada kekuatan multicultural. Bukan saja sebatas pada kekuatan umat lintas agama, budaya, etnis, profesi,  namun juga kekuatan negara yang bertumpu pada Para Pemangku Kewajiban Negara tingkat pusat hingga daerah, para politisi, pebisnis professional, TNI/POLRI dan seluruh aparat penegak hukum, hingga mahasiswa, dosen, perguruan tinggi, ormas-ormas agama, penggiat sosial dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).  Semua unsur-unsur anak kandung bangsa di atas, sudah saatnya secara lebih serius, jujur, dan terbuka menunjukkan  kepada rakyat untuk (1) Mengorbankan nafsu dan syahwat materialisme-hedonis maupun fanatisme kelompok yang hanya diikat dengan kepentingan ekonomis sesaat yang ringkih secara moral  .(2) Menentukan agenda dan aksi amaliah insaniyah-ihsaniyah bersama untuk membangun kekuatan  akar rumput yang guyub, saling melindungi dan menolong diatas nilai-nilai ketulus-ikhlasan sebagaimana teladan Nabi Ibrahim. (3) Memelopori terwujudnya kepemimpinan bangsa yang Cerdas, Jujur dan Amanah dan berkemampuan mewujudkan perubahan kearah implementasi nilai-nilai Pancasila, Mukadimah UUD th 1945 dan Keadilan Sosial.

Saudaraku Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah.

Sebagai penutup khutbah, marilah kita siapkan diri kita dengan lebih sungguh-sungguh untuk meluruskan arah kehidupan diri dan keluarga kita sekaligus kehidupan berbangsa. Yaitu menjadi keluarga dan keluarga bangsa yang lebih berani bersikap jujur untuk mempertahankan nilai-nilai relijius, tolong-menolong dalam kebenaran dan keadilan serta kemanusiaan. Sebagai keluarga besar umat Islam dan perintis serta pendiri negeri ini, kita diberi kemampuan spiritual, mental dan politik untuk meneladani jiwa dan akhlak Nabi Ibrahim As.

Umat Islam  wajib secara syar’i dan secara konstitusional untuk mengawasi jalannya tata kelola sumber perekonomian nasional maupun di kawasan Jawa Timur ini  (sumber daya alam, APBD,infra struktur dll)  dengan penuh jiwa pengorbanan yang ikhlas karena Allah, dan  sebagaimana pengamalan nyata Amanat  UUD 1945 Pasal 33 (ayat:3) :  “bahwa kekayaan alam semesta dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia (sendiri)”. Bukan untuk dipersembahkan kepada rakyat dan bangsa asing. Jika salah urus dan ingkar amanat, maka jangan lupa peringatan langsung dari Allah di dalam ayatNya :

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya :

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkat dari langit dan bumi,tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. ( Al Qur’an, surat Al A’raaf : 96).

Akhirnya, marilah kita bermohon kehadirat Allah SWT untuk kebahagiaan kita bersama, masyarakat, bangsa dan negara kita:                                          

Ya Tuhanku, anugerailah aku hikmah dan pertemukanlah dengan orang-orang soleh. Jadikanlah aku sebagai buah bibir ( pewaris kebaikan ) bagi generasi penerusku,dan jadikanlah aku pewaris surgaMu yang penuh kenikmatan.(Ibrahim 83-85)

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai (sasaran) fitnah dari orang-orang yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari orang-orang kafir. (Q.10 : 85-86).

Ya Tuhan kami,jauhkanlah kami dari azab neraka jahanam karena sesungguhnya azab itu sebagai kebinasaan yang kekal dan seburuk-buruk tempat tinggal.(Q.25: 65-66)    

Ya  Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan agar aku dapat melakukan amal sholeh yang Engkau ridzoi, serta berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak keturunanku. Sungguh aku bertobat kepadaMu dan aku termasuk hamba yang berserah diri.(Q. 46: 15)

Wassalaamu’alaikum WR WB

Shared:
Shared:
1