Hakikat Qurban dan Menebar Kebajikan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 22 Agustus 2018 23:43 WIB

Khutbah Idul Adha

HAKIKAT QURBAN DAN MENEBAR KEBAJIKAN

(Di Lapangan Koperbi Bank Indonesia, Jakarta,

10 Dzulhijjah 1439 H / 22 Agustus 2018 M)

Oleh DR H Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah) 

 

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan yang telah menganugerahkan banyak nikmat yang tak berbilang bagi seluruh hambanha, lebih-lebih nikmat iman bagi segenap kaum muslimin. Salawat dan salam tercurah untuk Nabi Muhammad, Rasul pembawa risalah Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Keselamatan semoga dilimpahkan pula bagi para sahabat, keluarga, dan umat muslim sampai akhir zaman.

Pagi hari ini segenap kaum muslimin di seluruh tanah air dan sejumlah negeri menunaikan shalat ‘Idul Adha 10 Dzuhlizah 1439 Hijriyah. Segenap kaum muslimin mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih  sebagai wujud penghambaan diri kepada Dzat Rabbil-‘Izzati. Semua bersimpuh diri menunaikan sunnah Nabi untuk meraih ridha dan karunia Ilahi.

Kaum Musilim Rahimakumullah

‘Idul Adha sering disebut ‘Idul Qurban, artinya Hari Raya Penyembelihan. Setiap muslim yang berkemampuan diharuskan menyembelih hewan qurban pada hari nahar tanggal 10 atau hari tasyrik tanggal 11,12 dan 13  bulan Dzulhijjah. Daging qurban itu dibagikan kepada yang memerlukan dan sebagian dibolehkan untuk diikonsumsi sendiri. Demikianlah sunnah Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Qurthubi diterima dari Ali bin Abu Thalib dan Muhammad bin Ka’ab. Pada hadis lain Nabi bersabda, yang artinya “Kami berqurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang.“ (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi).

Kata kurban (qurban) berasal dari bahasa Arab artinya sesuatu yang dekat  atau mendekatkan,  yakni dekat dan mendekatkan diri kepada Allah yang memerintahkan ibadah ini. Qurban sering disebut  udhhiyahatau dhahiyyahartinyahewan sembelihan, fisiknya hewan yang disembelih, tetapi hakikatnya ialah pengorbanan dan pengabdian diri sepenuh hati kepada Ilahi Rabbi.

Ibadah qurban dimulai oleh kedua putra Nabi Adam, Qabil dan Habil sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran. Dikisahkan: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa". (QS Al Maidah: 27).

Sejarah Qurban secara khusus dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shaaffaat: 102-107).

Mufasir Ibnu Katsir, Sayyid Quthub, Buya Hamka, Quraisy Shihab, dan ahli tafsir lainnya mengaitkan ibadah qurban dengan Surat Al-Kautsar sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS Al-Kautsar: 1-3).

Diriwayatkan, Nabi Muhammad terus dihina oleh kaum Quraisy, bahwa Rasul akhir zaman itu disebutkan akan mati dengan tidak meninggalkan keturunan  dan urusannya akan berakhir”. Maka turunlah Surat Al-Kaustar itu sebagai jawaban dan jaminan Allah, bahwa Nabi dan pengikutnya yang beriman akan memperoleh “Alkautsar” yaknj kenikmatan yang sangat banyak sebagai anugerah yang hakiki.

Ibnu Katsir menjelaskan, Al-Kautsar sebagaimana hadis Nabi diriwayatkan Imam Ahmad dari Anas bin Malik, ialah “sebuah sungai di surga yang Allah berikan dan padanya terdapat kebaikan yang banyak”. Kenikmatan di akhirat itu buah perbuatan baik di dunia. Karena betapa nikmat Allah itu banyak, mala selayaknya manusia beriman menunaikan shalat dan berqurban. Kata “wanhar” dalam ayat Al-Kautsar tersebut, sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas, ialah “menyembelih kambing (domba) dan semisalnya”, artinya berqurban.

Berqurban dalam ritual ibadah ‘Idul Adha meniscayakan spirit berkorban dalam hidup dan melakukan kebaikan. Dalam beragama serta kehidupan berbangsa dan bernegara juga memerlukan pengorbanan lahir dan batin sebagai wujud dari ketulusan, pengabdian, dan ibadah semata karena Allah demi meraih ridha dan karunia-Nya. Dalam kehidupan di dunia tiada manusia bekerja dan meraih keberhasilan tanpa pengorbanan.

Dalam bahasa Indonsia berkembang makna “korban” sebagai satu napas dengan “qurban”. Berkorban artinya “menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya.”. Banyak orang berkata rela berkorban demi sesuatu yang dianggap luhur dan penting, sehingga apapun dilakukan meskipun terasa berat dan menuntut pengorbanan harta, kedudukan, dan bahkan nyawa.

Kata berkorban tidak jarang dipakai sebagai retorika, ketika seseorang menyatakan bersedia berkorban tanpa pamrih, tetapi sesungguhnya ada kepentingan di baliknya. Terbukti ketika pamrih itu tidak terjadi, yang bersangkutan tidak berbuat seperti yang semula diikrarkan. Sebagian orang-orang berjanji membela bangsa dan negara, tetapi sejatinya memperjuangkan kepentingan diri sendiri, kroni, dan kelompok atau golongannya sendiri.

Secara lahiriah setiap yang berkorban menyembelih hewan qurban dan membagikannya kepada sesama, tetapi sejatinya yang bersangkutan berqurban kepada Allah dengan berani mengorbankan sesuatu yang dimilikinya untuk sesuatu yang lebih utama, yakni semakin mendekatkan diri kepada Allah sekaligus berbuat kebajikan yang luhur atau ihsan kepada sesama.

Karenanya jangan merasa berat untuk berqurban hanya seekor hewan bagi yang berkemampuan. Kuatkan diri untuk merasa wajib berqurban. Dalam satu hadis Nabi bersabda yang artinya: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat Ied kami.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah). Nabi Ibrahim dan Siti Hajar bahkan rela mengorbankan putra tercintanya Ismail, yang diikuti oleh keikhlasan Ismail yang masih belia, demi menaati perintah Allah dan merengkuh ridhanya. Meskipun akhirnya kurban nyawa itu tidak terjadi, namun keluarga Nabiyullah itu teruji keikhlasan,  ketaatan, dan ketaqwaannyan kepada Sang Khaliq.

Sementara itu mungkin di antara sebagian kita masih merasa sayang untuk berkurban hanya seekor hewan, sebagaimana berkorban harta kekayaan lainnya, karena terlalu mencintai harta dan dunia melampaui takaran. Semoga kita kaum muslimin yang menunaikan shalat Idul Adha saat ini terhindar dari sikap demikian. Bagi yang kebetulan belum sempat berniat, masih terbuka waktu setelah kembali dari shalat ini untuk menunaikan ibadah qurban.

Kaum Musilim Rahimakumullah

Bersamaan dengan perayaan ‘Idul Adha, saudara-saudara muslim dari seluruh dunia saat ini tengah menunaikan ibadah haji di tanah suci. Mereka telah selesai menunaikan wukuf dan kini sedang mabit di Mina untuk jamarat. Dengan jiwa ‘Idul Adha, berkurban, dan berhaji tentu diharapkan setiap insan muslim dalam menjalani kehidupan semakin lebih baik dalam mewujudkan keshalihan dengan melakukan segala amal kebaikan dalam hidup.

Dengan berqurban maupun berhaji dan ibadah lain bagi yang menunaikannya, setiap muslim melakukan penjinakkan atau bahkan peluruhan terhadap penyakit egoisme dan cinta berlebihan terhadap segala hiasan dunia seperti harta dan tahta. Allah memberikan gambaran tentang watak manusia sebagai berikut:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran: 14).

Pada ayat lain Allah berfirman yang mengandung peringatan yang artinya: “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

Bahwa musuh terbesar manusia adalah diri sendiri yang mencinta ego dan kesenangan dunia melebihi kewajaran, sehingga mengidap penyakit ta’bid ‘an al-nafs (diperbudak diri) dan ta’bid ‘an al-dunya (membudakkan diri pada dunia). Sejarah manusia sesungguhnya dimulai dari pertarungan hidup menaklukkan segala hasrat dan kepentingan diri dan angkara dunia di tengah relasi orang lain dan lingkungannya. Qabil putra Adam tega membunuh saudaranya Habil demi kepentingan diriya. Fir’aun sewenang-wenang memperlakukan orang lain,  bahkan karena kecongkakannya Raja Ramses itu menyatakan diri sebagai “tuhan yang maha tinggi”. Qarun yang konglomerat selain pelit juga rakus menghisap orang lemah dan menguasai kekayaan publik secara semena-mena. Sementara Hammam di zaman kekuasaan Bani Israel itu menunjukkan karakter sebagai pejabat korup dan menyalahgunakan kekuasaannya demi kepentingan dirinya, sehingga jabatannya tidak menyejahterakan rakyatnya.

Pada titik dialektik antara hasrat dan kendali diri di tengah hegemoni hasrat duniawi itulah sesungguhnya Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar melalui peristiwa Qurban mengajarkan mozaik ruhaniah yang berharga. Bahwa setiap insan beriman akan naik tangga ke puncak keutamaan tertinggi jika sukses menalukkan diri dan dunianya demi sesuatu yang lebih luhur dan hakiki. Mana mungkin ketiga insan kekasih Tuhan itu rela hati berkorban nyawa Ismail, jika mereka masih terbelenggu oleh ego diri dengan segala kepentingannya yang ragawi. Mereka adalah insan  yang terbebaskan dan tercerahkan dari hasrat egoisme yang naif, kemudian menjelma menjadi para altruis yang selalu peduli dan berbagi bagi kepentingan orang banyak.

Ketika bangsa ini masih dililit problem kesenjangan sosial dengan seglintir orang atau kelompok kecil menguasai bagian terbesar kekayaan negeri. Tatkala korupsi, konflik sosial, dan perilaku ajimumpung masih menjadi pemandangan umum. Sesungguhnya sumber utamanya karena ketamakan ego untuk memiliki apa saja dengan hasrat rakus. Mereka hanya mengabdi pada libido ketamakan yang tak berkesudahan, tak peduli bila harus merugikan kehidupan sesama dan lingkungan semesta.

Ketika manusia cinta diri dan dunia secara berlebihan, mereka tak pernah puas diri meraih kedigdayaan dunia hingga ajal memisahkannya (QS At-Takatsur: 1-2). Tidak kenal tua maupun muda, bahkan siapapun, makanala cinta kuasa dan dunia sudah menyala-nyala dalam diri manusia, maka segala cara ditempuh dan dihalalkan. Mereka secara lahiriah tampak perkasa di hadapan orang lain, tetapi sejatinya menjadi orang lemah karena menjadi budak dunia. Nabi Muhammad mengingatkan bahwa melawan hawa nafsu sebagai jihad akbar. Perang menaklukan diri melebihi perang Badr dan Uhud.

Kaum Musilim Rahimakumullah

Secara fisik ibadah qurban ialah berkorban materi atau seekor hewan. Lebih dari itu secara ruhani berqurban hakikatnya melawan hawa nafsu menuju tangga taqwa. Allah  berfirman dalam Al-Quran:

 

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.“ (QS Al-Hajj: 37).

Pada suatu hadits disebutkan bahwa Zaid Ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka bertanya: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka bertanya lagi: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

Karenanya setiap muslim yang berqurban mengandung makna ruhani dirinya menanam dan menebar benih kebaikan selain untuk dirinya tetapi untuk sesama umat manusia. Tanamkan jiwa peduli, berbagi, dan beramal kebajikan lebih-lebih untuk orang-orang yang membutuhkan. Termasuk bagi saudara-saudara sebangsa di NTB maupun di tempat lain yang tengah ditimpa musibah. Kembangkan solidaritas sosial yang memupuk persaudaraan, toleransi, perdamaian, dan kebersamaan yang tulus sebagai sesama anak bangsa.

Kembangkan kebiasaangemar menolong, berbagi rizki, melapangkan jalan orang yang kesulitan, mengentaskan mereka yang lemah, membela orang yang terrzalimi, suka meminta dan memberi maaf, mengedepankan kepentingan orang banyak, dan berbagai kebaikan sosial yang utama. Sebaliknya hindarkan diri dari segala bentuk kerakusan yang merugikan orang lain dan menimbulkan kerusakan hidup seperti korupsi, gratifikasi, eksploitasi alam, monopoli, oligopoli, kejahatan kerah putih, politik uang, serta segala tindakan amoral dan asosial.

Islam mengajarkan persaudaraan sesama dan menjauhi segala perbuatan nista. Dalam kehidupan sehari-hari sikap sosial yang luhur dan mulia harus terus ditumbuhkan ketika egoisme cenderung merebak dalam kehidupan bangsa. Jika ketimpangan sosial masih tinggi dan segelintir orang menguasai kekayaan negeri tanpa rasa sungkan, hal itu menunjukkan luruhnya solidaritas sosial yang autentik dari kehidupan kolektif bangsa ini. Jauhi kekerasan, permusuhan, kebencian, dan saling menghinakan sesama anak bangsa agar keutuhan negeri tetap terjaga secara harmoni.

Pasca Idul Adha setiap muslim perlu merayakan solidaritas sosial sebagai budaya dan praksis sosial untuk membela kaum lemah, mengadvokasi kaum kaya agar mau berbagi,  dan menebar serbakebajikan dengan sesama yang bersifat melintasi. Budaya dan praksis solidaritas sosial juga disebarluaskan melalui harmonisasi sosial yang memupuk benih-benih toleransi, welas asih, damai, dan saling memajukan yang membawa pada kebajikan hidup kolektif yang luhur dan utama. Orientasi keagamaan dalam kehidupan sosial yang indah ini jangan mekar sesaat di kala ritual, tetapi mewujud dan menyebarluas sepanjang masa dalam kehidupan sebagai pantulan iman dan ihsan yang merahmati semesta alam.

Kaum Musilim Rahimakumullah

Di akhir khutbah ini marilah kita bermunajat kepada Allah agar pasca ‘Idul Adha kita kaum muslimin makin menjadi insan yang shaleh, yang mau berkorban dalam menunaikan kebajikan dan ketaqwaan.  Seraya dengan itu insan beriman harus berani menjauhi yang buruk dan munkar agar kehidupan dilimpahi berkah Allah. Hidup di dunia ini sejatinya fana yang harus diisi dengan iman, ilmu, dan amal shaleh yang membawa keselamatan di akhirat kelak nan abadi.

 Marilah kita terus menanam benih-benih kebaikan dalam hidup yang tidak terlalu lama ini, sehingga ketika menghadap Allah sudah berbekal amal shaleh dan menutup lembaran hidup ini dengan husnul khatimah. Kita tidak tahu kapan Allah mengambil ajal kita, karena hidup dan mati setiap insansepenuhnya di tangan Allah. Jangan menunda-nuda waktu untuk berbuat kebaikan termasuk dalam berqurban, karena kita sungguh tidak tahu ambang batas hidup ini. Jadikan kehidupan ini penuh arti dengan fondasi iman, Islam, dan ihsan yang bermuara taqwa guna meraih kebahagiaan di dunia akhirat dengan meraih surga jannatun na'im dalam rengkuhan ridha dan karunia Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Shared:
Shared:
1