Refleksi 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Mau Dibawa Ke Mana Kepulauan Anugerah Tuhan Ini ?

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 12 Agustus 2018 09:52 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan, dalam merayakan HUT ke 73 pada 17 Agustus 2018 beberapa hari ke depan, sungguh layak semua elite dan warga bangsa berefleksi secara mendalam tentang makna keindonesiaan.

“Seraya bertanya pada diri sendiri, hendak  diapakan dan dibawa ke mana kepulauan anugerah Tuhan ini oleh seluruh elite dan warga bangsa menuju cita-cita negara idaman, negeri Gemah Ripah Lohjinawi,”ucap Haedar dalam Pidato Kebangsaan menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 pada Ahad (12/8) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Haedar juga berpesan agar segenap elite dan warga bangsa wajib dituntut tanggungjawabnya dalam mewujudkann Indonesia menjadi negara-bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, maju, adil, dan makmur sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa.

“Lebih-lebih bagi para pemimpin bangsa selaku pemangku amanat utama bangsa dan negara,”tegas Haedar.

Haedar percaya bahwa masih banyak elite dan warga bangsa di Republik ini yang masih jernih hati, pikiran, dan tindakannya untuk membangun Indonesia yang berkemajuan dalam bingkai cita-cita luhur dan masa depan peradaban bangsa.

“Maka saatnya energi positif ruhaniah dan kecerdasan akal-budi bangsa Indonesia di tangan para pemimpin dan warga bangsa di seluruh persada tanah air digelorakan untuk menggoreskan tinta emas 73 tahun Indonesia Merdeka,”tutur Haedar.

Para pemimpin itu sejatinya memiliki kemuliaan posisi dan peran dalam membawa nasib umat dan bangsanya menuju tangga kemajuan. “Jangan biarkan nasib umat dan rakyat menjadi pertaruhan tak berguna dan tak bermakna di tengah kegaduhan politik yang disebar oleh para aktor yang haus kuasa dan tahta minus pertanggungjawaban moral politik nurani yang luhur,”ucap Haedar.

Ketika kontestasi politik makin memanas dengan segala hasrat dan kepentingan para elite serta pemimpin yang tumpah ke segala arah, sesungguhnya umat dan bangsa ini tengah menanti jaminan ubahan nasib hidupnya ke tangga terbaik di pundak para pemimpinnya.

“Para pemimpin bangsa mesti melipatgandakan pengorbanannya untuk rakyat di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Jangan sebaliknya, para pemimpin menyandera nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya karena hanya menuruti hasrat kuasanya yang melampaui takaran dan merugikan kepentingan bangsa dan negara,” imbuh Haedar.

Dalam kesempatan itu Haedar juga mengutip pesan Kyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammmadiyah dalam falsafahnya yang keenam berpesan: “Kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat, belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah”.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy, Rektor UMM, Fauzan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah se Indonesia, serta perwakilan rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). (adam)

Shared:
Shared:
1