Qurban dan Bencana

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 12 Agustus 2018 08:54 WIB

Beragama secara otentik tidak hanya sekedar menjalankan ibadah seperti salat, puasa, qurban atau ibadah lainnya belaka, tetapi juga mencakup pelaksanaan komitmen sosial dalam wujud perkhidmatan kepada sesama, kepedulian terhadap penderitaan orang lain serta keterlibatan dalam upaya mengatasi problem sosial dan kemanusiaan. Etika Islam tidak mengajarkan pelarian subyektif kesadaran dengan meninggalkan dunia. Justeru sebaliknya Islam memerintahkan keterlibatan total dalam kehidupan dunia sebagai panggung tempat beramal guna menunjukkan otentisitas keberagamaan. Oleh karena itu kegagalan dalam mewujudkan komitmen sosial tersebut sama artinya dengan mendustakan agama itu sendiri. Ini sangat jelas ditegaskan dalam surat al-Maun (surat no. 7) dalam al-Quran:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلاَ يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7

Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan  enggan (menolong dengan) barang berguna [QS. al-Maun (107): 1-7].

Pada bagian lain dari al-Quran, surat al-Balad (surat no. 90), perwujudan komitmen soaial ini ditegaskan pula,

فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16) ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ (17) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (18

Artinya: Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan [QS. al-Balad (90): 11-18].

Dalam hadis Nabi saw diriwayatkan,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

[رواه مسلم]

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesengsaraan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesengsaraan hari kiamat, dan barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesukaran, maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi(aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong sesamanya … … … [HR Muslim].

Berdasarkan atas ayat-ayat dan hadis di atas, tidak diragukan lagi bahwa melaksanakan komitmen sosial berupa membantu sesama terutama orang yang sedang mengalami kesulitan karena tertimpa musibah adalah suatu kewajiban kolektif (fardu kifayah) umat yang tidak tertimpa musibah. Bukan kebetulan bahwa beberapa hari yang lalu (tanggal 26 Oktober 2010) terjadi erupsi (letusan Gunung Merapi) di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sehari sebelumnya (tanggal 25 Oktober 2010) terjadi pula gempa bumi dan tsunami di Kepulalauan Mentawai. Juga tidak lama sebelumnya terjadi banjir bandang di Wasior (Papua Barat). Akumulasi dari keseluruhan peristiwa alam ini menimbulkan musibah dan bencana besar bagi bangsa Indonesia, di mana banyak jatuh korban dan menyebabkan sejumlah orang kehilangan sanak keluarga, tempat tinggal, dan mata pencaharian karena hancur akibat bencana. Dari sudut pandang agama, usaha untuk membangun kembali harapan hidup mereka yang kehidupannya telah hancur akibat bencana adalah wajib hukumnya sesuai dengan tujuan syariah hifz an-nafs dan sesuai pula dengan semangat firman Allah,

 مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَّمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

[المائدة: 32]

Artinya“… Barangsiapa yang membunuh satu jiwa, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruh manusia. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya …” [QS. al-Maidah (5): 32].

Pada waktu bersamaan, kaum Muslimin juga akan melaksanakan satu macam ibadah bersamaan dengan akan hadirnya Idul Adha, yaitu ibadah qurban yang dituntunkan dalam ajaran Islam, sebagaimana tertera dalam hadis Nabi saw,

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ سُفْيَانَ قَالَ شَهِدْتُ الأَضْحَى مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ بِالنَّاسِ نَظَرَ إِلَى غَنَمٍ قَدْ ذُبِحَتْ فَقَالَ: مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيَذْبَحْ شَاةً مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَبَحَ فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللهِ

[رواه مسلم]

ArtinyaDari Jundab Ibn Sufyan (diwartakan bahwa) ia berkata: Saya salat Iduladha bersama Rasulullah saw. Ketika beliau telah selesai mengerjakan salat bersama masyarakat, ia melihat seekor kambing yang sudah disembelih, maka beliau bersabda: barangsiapa menyembelih kambing sebelum salat, maka hendaklah ia menyembelih kambing lain sebagai gantinya, dan barang siapa tidak menyembelihnya sebelum salat, maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah [HR Muslim].

Hukum melaksanakan qurban sesudah salat Iduldha dalam ketentuan fikih adalah sunat.

Menghadapi dua macam keadaan sekarang, yaitu kondisi bencana letusan gunung Merapi, tsunami Mentawai dan sebelumnya banjir bandang Wasior di mana warga umat yang tidak tertimpa musibah memikul kewajiban kolektif untuk memberikan bantuan pada satu sisi, dan momen Iduladha di mana disunatkan melakukan ibadah qurban berupa menyembelih hewan pada sisi lain, maka dengan memperhatikan kembali Fatwa Pengalihan Dana Qurban sehubungan dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami Aceh yang dikeluarkan tanggal 25 Zulkaidah 1425 H bertepatan dengan 1 Januari 2005 M, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menfatwakan sebagai berikut:

  1. Mereka yang mampu untuk memberikan bantuan kepada mereka yang terkena musibah gempa bumi / tsunami, letusan Gunung Merapi dan banjir secara memadai dan sekaligus dalam waktu yang sama dapat melaksanakan ibadah qurban, kedua macam amal ini dapat dilaksanakan secara bersama.
  2. Mereka yang karena keterbatasan kemampuan sehingga harus memilih salah satu di antara dua macam amal tersebut, hendaknya mendahulukan memberi bantuan dalam rangka menyelamatkan kehidupan mereka yang tertimpa musibah daripada melaksanakan ibadah qurban sesuai dengan kaidah al-ahamm fa al-muhimm (yang lebih penting didahulukan atas yang penting).
  3. Jika dana telah diserahkan kepada Panitia Qurban dan belum dibelikan hewan qurban, hendaknya Panitia meminta kerelaan calon orang yang berqurban (shahibul-qurban) untuk mengalihkan dananya kepada bantuan penyelamatan mereka yang tertimpa musibah gempa bumi / tsunami, letusan gunung Merapi dan banjir. Namun jika calon shahibul qurban tidak merelakan, dana itu tetap sebagai dana ibadah qurban.
  4. Khusus kepada warga Muhammadiyah dihimbau untuk membangkitkan kepekaan dan melakukan penggalangan bantuan bagi korban musibah dimaksud sebagai implentasi Fikih Almaun.

Sumber: tarjih.or.id

Shared:
Shared:
1