MPM Latih Kewirausahaan Bagi Buruh Migran di Kuala Lumpur

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 13 Juli 2012 16:50 WIB

Kuala Lumpur- Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia pada Ahad 1 Juli 2012 melaksanakan Pelatihan Kewirausahaan bagi Buruh Migran di Kualalumpur, Malaysia. Pelatihan diikuti sekitar 58 buruh migran, dan untuk percontohan pelatihan ditujukan bagi buruh migran asal Lamongan.

 

Pelatihan diisi oleh Tim Fasilitator dari MPM PP Muhammadiyah dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah  (PWA) Jawa Timur, yaitu Ketua MPM PP Muhammadiyah, Said Tuhuleley, Dr. M. Nurul Yamin, Ahmad Ma’ruf, M.Si., dan Neli. Materi utama pelatihan adalah Motivasi Berprestasi dan Berusaha Mandiri, Menemukan Peluang Usaha, Manajemen Organisasi Bisnis, dan Jejaring Usaha bersama Koperasi Aisyah.

 

Peserta menyambut gembira pelatihan dan mengikutinya dengan penuh gairah, sehingga tidak terasa waktu seharian penuh, mulai dari pukul 09.00 sampai 17.30, dirasakan belum cukup.

 

Pelatihan ini merupakan Tahap I dari rangkaian pelatihan dan pendampingan yang akan dilakukan MPM PP Muhammadiyah dan PCIM Malaysia. Untuk Tahap II, akan dilakukan Pelatihan Pertanian Terpadu di Lamongan bagi para buruh migran dan keluarga pada 28 Agustus 2012, bersamaan dengan libur kerja para buruh migran ke tanah air. Selain itu, pada saat yang sama dilakukan juga Pelatihan Kewirausahaan Lanjut bagi keluarga buruh migran, terutama perempuan, yang diarahkan bagi penumbuhan usaha produktif di Lamongan. Untuk Tahap III, akan dibentuk Koperasi Buruh Migran, baik di Kualalumpur maupun di Lamongan. Sedangkan Tahap IV adalah pendampingan rutin dari MPM PP Muhammadiyah bagi keluarga buruh migran di Lamongan dan PCIM Malaysia bagi buruh migran di Kualalumpur. Sementara itu PWA, khususnya bidang ekonomi, akan mendampingi keluarga buruh migran di Lamongan untuk pembentukan Koperasi dan Unit Usaha Produktif.

 

Dapat ditambahkan, warga Lamongan yang menjadi buruh migran di Malaysia berdasarkan hasil dialog sebelumnya beberapa bulan lalu menyatakan tidak selamanya ingin menjadi buruh di Malaysia. Pada suatu saat nanti jika sudah memiliki modalyang cukup ataupun karena kondisi lainnya akan kembali ke Indonesia, dan berkeinginan untuk menekuni usaha mandiri pada berbagai bidang yang menguntungkan.Para buruh migran tersebut juga merasa tingkat keterampilan dalam bidang usaha mandiri (wirausaha) masih sangat minim. Sekarang ini, mereka memiliki keterampilan yang sangat baik dalam bidang pertukangan (konstruksi) sehingga lebih pada posisi sebagai buruh dan bukan pengusaha.

Shared:
Shared:
1