Mahasiswa Muhammadiyah Asal Papua Ini Wakili Indonesia dalam YSEALI di Amerika

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 20 Desember 2017 12:47 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG – Inisiasi dan kuatnya jiwa kepemimpinan membuat Ardian Syah Ngaba memiliki banyak pengalaman berharga selama menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sejumlah beasiswa dan pengalaman internasional telah mampu diraih mahasiswa asal Kota Sorong, Provinsi Papua Barat ini.

Di antara pengalaman berharga tersebut yaitu terlibat dalam program Learning Express (LEx) hasil kerjasama UMM dengan Singapore Polytechnic dan menjadi perwakilan Indonesia pada Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang berlangsung di Amerika Serikat (AS). Tak heran, pengalaman multikultural Ngaba memang menarik dicermati.

Di Papua, Ngaba tinggal selama 18 tahun sebagai minoritas. Ngaba mengaku sangat sulit baginya untuk membuktikan bahwa minoritas juga memiliki hak yang sama di negeri multikultural seperti Indonesia. Bahkan, keputusannya untuk hijrah ke Jawa selepas SMA ternyata bukan tanpa perjuangan.

“Setelah pindah ke Jawa, eh ternyata saya harus struggle dengan stigma bahwa orang Papua harus kasar, keras, dan tidak terlalu pintar di kelas. Walaupun, saya memang tidak terlalu pintar di kelas,” jelas pemuda berusia 23 tahun iniseperti dikutip dalam halaman umy.ac.id pada Rabu (20/12).

Belajar memahami dan terus membangun kepercayaan diri atas pengalaman pribadi dengan kehidupan minoritas, Ngaba tergerak untuk membangun wadah untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Hal itulah yang ia lakukan pada program YSEALI di AS. 

“Jadi waktu kemarin presentasi itu, saya membuat plan project yang berhubungan dengan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap budaya dan suku yang ada di Indonesia sendiri. Lebih ke arah mengedukasi masyarakat bahwa Indonesia itu kaya dengan kebudayaannya, namun media kurang mengeksploitasinya,” kata mahasiswa Teknik Sipil UMM ini.

Selama menjalani rangkaian kegiatan YSEALI, ia belajar banyak hal tentang politik, masyarakat, feminisme, dan pluralisme. “Waktu kemarin di Amerika itu, saya merasa terintimidasi. Persoalannya bukan karena minortas lagi, tetapi saya merasa bahwa sangat banyak orang di luar sana yang sangat peduli terhadap negaranya, terutama pemuda ASEAN,” jelas Ngaba.(humas UMM)

 

Shared:
Shared:
1