Rendahnya Budaya Literasi Berdampak pada Produktivitas Bangsa

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 09 Desember 2017 14:02 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA- Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Ini berujung pada rendahnya pertumbuhan dan akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan yang ditandai oleh rendahnya pendapatan per kapita.

Dikatakan David Effendi, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, literasi rendah juga berkontribusi secara signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial ekonomi.

“Jadi, literasi itu tidak cukup hanya dijelaskan dengan kegiatan memberantas buta huruf dan hanya aktifitas mengajak masyarakat membaca buku tetapi adalahy gerakan kebudayaan untuk memajukan kehidupan dan penghidupan. Jadi, literasi haruslah didorong untuk menumbuhkan daya kreatif, daya tahan, dan daya saing suatu bangsa Indonesia. Inilah makna literasi yang mengarah pada upaya sungguh-sungguh untuk menentukan takdir sendiri,” ungkap David dalam acara Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) Penggiat Literasi Muhammadiyah pada Jumat (9/12) di Gedung Induk Siti Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Menurut Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) sampai 2015 pembaca surat kabar hanya 13,1%, sementara penonton televisi mencapai 91,5%. Rendahnya minat membaca ini antara lain terjadi sejak kemerdekaan akibat dihapuskannya secara bertahap buku bacaan wajib di sekolah.

“Dulu di era sebelum kemerdekaan pelajar AMS (sekolah setara SMA untuk pribumi di zaman pendudukan Belanda) diwajibkan membaca 25 judul buku dan pelajar HBS (sekolah setara SMA untuk anak Eropa dan bangsawan pribumi) sebanyak 15 judul buku,” ungkap David yang juga merupakan inisiator acara Kopdarnas Penggiat Literasi Muhammadiyah.

Oleh karenanya, Muhammadiyah harus turut terlibat di dalam upaya membangun daya literasi bangsa ini dengan berbagai upaya yang memungkinkan, karena ini yang akan mengantarkan negeri ini menjadi benar-benar berkemajuan dari capaian pengetahuan yang tinggi.

“Sumber daya Muhammadiyah sangat memungkinkan untuk menjadi bagian dari solusi atas keterpurukan literasi di Indonesia mengingat infrastruktur amal usaha yang tersebar merata dan jejaring yang bekerja dengan baik,” ucap David.

Ada ribuan sekolah, pesantren, masjid, dan perpustakaan pendidikan tinggi yang akan menopang kerja literasi. “Atas motivasni inilah konsolidasi ini dilakukan untuk menyambut perhelatan literasi yang lebih dahsyat di tahun 2018,” ungkap David.

Sebagai sumbangsih Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu, kegiatan ini berbentuk pertemuan konsolidasi antar pegiat literasi, stakeholder, dan lembaga baik yang bernaung di Muhammadiyah, Ortom, pegiat independent, yang berurusan dengan literasi.

Untuk menggembirakan kegiatan ini dirangkai dengan seminar nasional bertema “gerakan literasi untuk bangsa berkemajuan” dengan narasumber nasional dan berkompeten, diantaranya Kepala perpustakaan nasional, M Syarif Bondo, tokoh Pendidikan inspiratif Bidan Suraida (pendiri sekolah Tapal Batas), Nirwan Arsuka (presiden Pustaka Bergerak Indonesia), dan perwakilan kantor pos yang memiliki program mendorong gerakan literasi.

Kembali dijelaskan David, kegiatan ini dimaksudkan antara lain, pertama, mencari format mengelola wahana literasi dan kampanye membaca di lingkungan Muhammdiyah maupun umum, kedua, mensinergikan beragam kekuatan media di lingkungan Muhammadiyah dengan frame gerakan literasi, dan, ketiga, mendorong beragam komunitas literasi di linkungan Muhammadiyah tumbuh sebagai alternatif untuk memperkuatgerakan dakwah berkemajuan untuk Indonesia berkemajuan

Kegiatan yang diikuti 400 peserta terdiri dari beberapa unsur, antara lain, pengurus Maejelis Pustaka dan Informasi se-Indonesia sebagai penggerak dan koordinator menumbuhkan komunitas, juga MPI Kabupaten dan Kota,   individu yang bergerak di bidang literasi, pengelola perpustakaan di lingkungan AUM, komunitas literasi di Muhammadiyah, pengelola perpustakaan PTM/PTA, serta Pengurus Taman Pustaka Muhammadiyah/Aisyiyah/Ortom. (adam)

 

Shared:
Shared:
1