Haedar Sampaikan Komitmen Muhammadiyah dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 04 Desember 2017 10:12 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MEDAN - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir  mengatakan, dalam memainkan peran kebangsaannya, Muhammadiyah memiliki spirit Islam yang rahmatan lil ‘alamin.  Karena itu Muhammadiyah merumuskan deklarasi Negara Pancasila Darul Ahdi Wa Syahadah, bahwa negara NKRI yang dasarnya Pancasila merupakan konsesnsus nasional yang tidak mungkin diubah lagi oleh siapapun.

“Meskipun Muhammadiyah tidak pernah dengan lantang mengatakan cinta NKRI harga mati, bukan berarti  nasionalisme Muhammadiyah bisa diragukan. Tanpa banyak kata Muhammadiyah membuat komitmen-komitmen itu dan dan mengikatnya dalam konsep Darul Ahdi wa Syahadah,”  ucap Haedar ketika menyampaikan Tabligh Akbar  Resepsi Milad Muhammadiyah  ke-105 M di Garuda Plaza Hotel  Medan, Sabtu (2/12).

Karena itu, kata Haedar, kalau ada isu-isu yang mengatakan NKRI dalam ancaman, itu sebenarnya cuma politik, Karena hampir mayoritas di negeri ini, apapun agama, suku dan golongannya tak ada yang ingin meruntuhkan NKRI.

“Kalaupun ada itu hanya segelintir gerakan-gerakan separatisme yang cuma kecil dan muncul dari kelompok-kelompok yang ingin sekadar eksis dalam percaturan politik,” ujar Haedar.

Dalam momentum milad kali ini, Haedar mengajak segenap warga Muhammadiyah untuk mensyukuri  apa yang telah dicapai selama ini. Syukur kepada Allah SWT atas anugerah-Nya kepada Muhammadiyah untuk terus berbuat amal kebajikan untuk pencerahan ummat dan bangsa, tuturnya.

Haedar juga mengungkapkan data dan fakta mutakhir penyebaran Muhammadiyah di negeri ini. Sekarang, kata Haedar, Muhammadiyah berada pada sekitar 85 persen daerah, yakni 480 daerah di tanah air, ada 3.223 cabang di tingkat kecamatan, dan ada 8.107 Ranting di seluruh Indonesia.

Di bidang pendidikan, Muhammadiyah sudah memiliki lebih dari 23.000 TKAB/PAUD yang dikelola oleh ‘Aisyiyah. Untuk sekolah tingkat dasar dan menengah ada sekitar 12 ribuan. Sedangkan untuk Perguruan Tinggi ada 174 Perguruan Tinggi.Di antara semua itu ada 10 yang sudah memiliki Fakultas Kedokteran, termasuk UMSU. Lima yang sudah terakreditasi institusi A yang setara dengan PTN-PTN ternama di Indonesia.

“Dan yang lebih menarik 13 diantaranya dikelola oleh Aisyiyah, satu diantaranya sudah Universitas yang megah di Yogyakarta. Universitas ini merupakan satu-satunya universitas yang dikelola oleh organisai perempuan di muka bumi,dan sekarang satu lagi sedang dirintis di Bandung,” sebutnya.

Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki 557 Rumah Sakit dan Poli Klinik, termasuk yang dikelola Aisyiyah.

Terkait hal tersebut, lanjut Haedar, sesungguhnya kalau mementingkan diri sendiri, Muhammadiyah sudah selesai. Artinya, kalau Muhammadiyah mengurus diri sendiri dan tutup mata terhadap persoalan ummat serta bangsa, maka sesungguhnya Muhammadiyah  tidak punya beban.

“Karena secara konstitusional, seperti tugas pendidikan, tugas kesejahteraan, tugas memajukan dan mengentaskan mereka yang miskin dan terlantar merupakan tugas negara, representasinya merupakan tugas pemerintah,” tandasnya.

Dengan peran sejarah yang cukup panjang mengelola lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan di republik ini, Haedar melihat apa yang dilakukan Muhammadiyah sesungguhnya itu cuma sebentuk fardu kifayah dalam konteks kebangsaan. Tetapi dalam konteks dakwah Muhammadiyah mengganggapnya sebagai kewajiban dan panggilan amal shaleh.

“Coba bayangkan, bagaimana Muhammadiyah membangun sejumlah lembaga pendidikan di daerah-daerah yang dimana sebenarnya muslim adalah warga minoritas, seperti di NTT dan Papua. Muhammadiyah ingin berbagi kebajikan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, ketika mereka sangat memerlukan,” ungkapnya.

Haedar menegaskan, Muhammadiyah memiliki pandangan bahwa bangsa ini membutuhkan kebersamaan. “Makanya kita memilih ‘Merekat Kebersamaan’ sebagai tema milad kita tahun ini,” tuturnya.

Begitu juga ketika bangsa ini dililit berbagai persoalan yang sesungguhnya merupakan tanggungjawab negara atau pemerintah untuk menyelesaikannya, seperti konflik dan kisruah akibat pilkada, lagi-lagi Muhammadiyah juga tidak bisa diam dan bersikap apatis. Karena memang, kata Haedar, Muhammadiyah sangat menyadari bahwa dirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi bangsa dan negara ini.

“Kita ada panggilan untuk menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin, lebih lebih Muhammadiyah juga ikut mendirikan negara ini,” ungkapnya.

Dari semua fakta tersebut, Haedar menegaskan bahwa sprit kebangsaan yang dimiliki Muhammadiyah itu tulus, ikhlas dan jujur. Dan kejujuran dalam berbangsa itu, kata Haedar, tidak ubahnya seperti kita hidup berumahtangga, dimana cinta keluarga itu harus didasari oleh amar ma’ruf nahyi munkar yang seimbang.

Menurutnya, kalau amar ma’ruf terus tanpa nahyi munkar itu tidak baik, dimana implikasinya seketika ada problem besar bisa menjadi ancaman dalam kehidupan rumah tangga atau kehidupan berbangsa dan bernegara. 

“Jadi kalu disatu sisi Muhammadiyah memberikan dukungan dan di sisi lain melontarkan kritikan, koreksi dan catatan, maka sesungguhnya itu merupan bentuk kasih sayang Muhammadiyah kepada negara yang ikut dilahirkannya, bukan karena yang lain,” pungkas Haedar. (adam)

 

Shared:
Shared:
1