Kunjungi Kanisius, Dahnil: Gotong Royong Sangat Diperlukan dalam Menggarap Toleransi Otentik

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 18 November 2017 17:23 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -  Bertempat di ruang rapat Kolose Kanisius Putra, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak bersama Presiden Alumni Kolose De Britto Haji Datok dan beberapa tokoh di jajaran Kanisius seperti Rektor Kanisius Romo J Heru dan Kepala Sekolah Kanisius Romo Eduard Calistus menggelar dialog terbatas mengenai sikap Kanisius dan Pemuda Muhammadiyah terkait efek negatif yang dikhawatirkan terjadi atas aksi walk out Ananda Sukarlan terhadap gubernur Jakarta Anies Baswedan pada Jumat (17/11).

Romo Heru, mengapresiasi sikap objektif dan keterbukaan Muhammadiyah menanggapi masalah walk out Ananda Sukarlan. Ia, sebagaimana Romo Eduard dan lainnya dari Kanisius menyayangkan aksi Ananda Sukarlan yang dianggapnya menyalahi etiket, sekalipun tetap menghargai sikap Ananda sebagai, ‘pernyataan individu’ yang harus dihargai namun sama sekali tidak mewakili Kanisius sebagai komunitas dan lembaga. Sementara itu, Haji Datok menyatakan bangga dengan respon cepat dan elegan oleh Pemuda Muhammadiyah.

Dalam hal ini Dahnil menyayangkan aksi-aksi tidak sehat yang akhir-akhir ini sering terjadi dan nampaknya mengerucut terhadap aksi adu domba yang kontraproduktif. Ia menengarai, berbagai aksi reaktif dari Ananda Sukarlan maupun pihak yang tidak sependapat terhadap aksi tersebut adalah sisa-sisa kefanatikan pemilihan gubernur Jakarta yang menjadikan kedua pendukung dari pihak yang kalah maupun yang menang sebagai pihak yang perlu dibela atau dicela habis-habisan.

Dahnil berharap Muhammadiyah tetap pada jalurnya untuk bersikap secara adil dalam amar ma’ruf nahi munkar dan berharap umat Islam tidak mudah terpancing terhadap aksi-aksi yang akibatnya adalah menghambat kemaslahatan bersama.

“Silaturahmi diperlukan untuk menyambung persaudaraan meski kita berbeda. Toleransi rusak karena agenda politik. Kanisius hampir menjadi korban,” tegasnya.

Dahnil menegaskan bahwa Pemuda Muhammadiyah akan terus berjuang untuk merawat ‘Toleransi Otentik’, yakni toleransi yang murni sebagai aksi sosial tanpa motif-motif pragmatik maupun kepentingan tertentu. Untuk merawat Toleransi Otentik tersebut, Pemuda Muhammadiyah bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Kanisius seperti pada advokasi dan pendampingan Petani Karawang yang berhasil memenangkan petani Karawang mendapatkan hak-haknya kembali.

“Gotong royong sangat diperlukan dalam menggarap Toleransi Otentik”, pungkasnya. (affandi)

 

Shared:
Shared:
1