Haedar: Muhammadiyah Turut Hidupkan Nilai-Nilai Kebudayaan di Tubuh Bangsa Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 16 November 2017 12:54 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Muhammadiyah akan menggelar resepsi milad yang ke 105 pada Jum’at 17 November 2017 bertempat di Pagelaran Kraton Yogyakarta. Kehadiran Muhammadiyah di Yogyakarta sangat erat dengan Kraton bahkan hal ini sudah terjalin sejak KH. Ahmad Dahlan merintis Muhammadiyah.

“Nuansa budaya adalah salah satu hal yang dekat dengan kita semua untuk kehidupan berbangsa dan bernegara serta telah tertanam lama kepada bangsa ini dari Aceh hingga Papua,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara Konferensi Pers Milad Muhammadiyah 105 di Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta, Kamis (16/11).

Haedar melanjutkan kehadiran media sosial dan moderenisasi jika tidak ditanggapi hati-hati akan menyebabkan erosi budaya. Sedangkan sebagai salah satu contohnya di Indonesiayang lekat dengan budaya adalah simbol kebersamaan walau berbeda suku, agama, budaya, tetap harus gotong royong.

Permasalahannya, menurut Haedar, terkadang demi meraih spirit egoisme beberapa golongan, individu atau kelompok akan melupakan nilai-nilai kebersamaan yang telah membudaya di Indonesia. Dalam hal ini Muhammadiyah sejak awal punya spirit kebersamaan. Maka, Muhammadiyah juga turut menghidupkan nilai-nilai yang sudah membudaya pada bangsa Indonesia.

Haedar juga menyinggung soal beberapa kejadian beberapa tahun belakanganini yang sudah mulai membuat resah karena muncul istilah intoleransi, ancaman kebhinekaan, anti Pancasila, dan isu-isu perpecahan.

“Muhammadiyah tidak menutup mata dan mengakui hal-hal tersebut diatas dapat terjadi dalam berkehidupan dan bernegara. Sehingga tidak memungkiri bahwa bangsa besar seperti kita ini tidak mungkin tidak memiliki masalah,” jelas Haedar.

Haedar menegaskan bila tidak hati-hati dalam menyikapi permasalahan tersebut akan menciptakan suasana kontroversi dan terpecah belah dalam beberapa hal.

“Bila memang terjadi perbedaan maka yang perlu kita lakukan adalah duduk bersama dan didialogkan persoalannya. Jangan sampai nanti negara punya parameter ganda,” pungkas Haedar. (Syifa)

 

Shared:
Shared:
1