Komunitas Muslim ASEAN Deklarasikan AMCA di UMM

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 16 Juni 2012 10:53 WIB

 

Malang- Sejumlah perwakilan muslim dari berbagai negara di ASEAN, Kamis-Sabtu (14-16/6) berkumpul di kampus I Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka berasal dari Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Kamboja dan Filipina. Salah satu hasil kesepakatan konferensi itu adalah dideklarasikannya Association of Moslem Community in ASEAN (AMCA).

Direktur Pascasarjana UMM, Dr. Latipun, menyatakan deklarasi ini sebelumnya dirumuskan oleh sebuah tim yang merepresentasikan berbagai asal negara. Deklarasi AMCA, katanya, merupakan langkah awal memasuki era baru sejarah komunitas muslim se-ASEAN memasuki komunitas ASEAN 2015 nanti.

“Kita memulai babak baru dalam perkembangan sejarah umat Islam di ASEAN. Ini merupakan awal perjuangan Islam dengan cara-cara modern sesuai dengan tuntutan masyarakat modern,” kata Latipun yang ditunjuk sebagai Sekretaris Jendral AMCA.

Menurut deklarasi itu, AMCA memiliki tujuan; pertama, memperkuat pemahaman bersama, hubungan dan kerjasama  di antara sesama komunitas muslim ASEAN. Kedua, memperkuat landasan untuk muslim ASEAN yang makmur dan damai. Ketiga, memperkuat kemajuan sosial dan perkembangan budaya, mendorong kolaborasi dan kerjasama dalam berbagai kepentingan bersama, serta kelima, melahirkan dan memelihara kerjasama yang menguntungkan dengan organisasi internasional lain yang memiliki tujuan serupa.

Musa mengatakan konferensi ini cukup berhasil meski baru sekali diadakan. Baginya, yang penting adalah intensitas komunikasi pasca-konferensi pertama ini. “Selanjutnya kami akan lebih sering bertemu membicarakan banyak hal yang bersifat teknis. Sedangkan penyusunan aturan asosiasi nanti akan disiapkan oleh Sekjen terlebih dahulu,” kata Musa.
          Deklarasi dibacakan Prof. Madya Dr. Mohammad Zain Musa dari Kamboja. Musa mewakili 14 nama deklarator yang ikut menandatangani naskah Deklarasi di Malang itu. Sedangkan susunan pengurus disepakati, Latipun sebagai Sekjen, dan ditunjuk beberapa koordinator perwakilan negara. Mereka adalah Dr Ahsanul In'am (Indonesia), Nek Mah Bte Batri (Singapura), Prof Dr Datuk Wira Abdul Latief Abubakar (Malaysia), Abdul Hafiz Hile (Thailand) dan Prof Madya Mohammad Zain Musa (Kamboja).

Pertemuan tahun depan direncanakan akan berlangsung di Yala, Thailand. Dalam pertemuan itu nanti akan dibahas regulasi asosiasi dan tindak lanjut pertemuan Malang. “Sebelum menuju ke pertemuan kedua, kita akan menelusuri dulu anggota komunitas yang potensial dari Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, dan Laos. Sedangkan dari Timor Leste dan Filipina, Insya Allah segera bergabung,” kata Latipun.

Untuk memudahkan komunikasi diantara anggota komunitas, AMCA menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pertama. Sedangkan bahasa kedua adalah Inggris dan Arab. Diplihnya bahasa Melayu oleh AMCA karena diyakini bahasa ini relative dikuasai lebih banyak anggota komunitas. “Kami memperkirakan ada 300 juta orang yang menggunakan bahasa ini, termasuk Indonesia,” ungkap Latipun. Bahasa merupakan identitas bersama yang juga dianggap penting dalam asosiasi ini.

 Sementara itu konferensi yang dibagi menjadi beberapa subtema berlangsung lancar. Ini merupakan konferensi Internasional pertama yang bertema “Strengthening the Moslem Community in the South-East AsiaRegion toward ASEAN Community 2015”. Peserta konferensi terdiri dari berbagai perwakilan komunitas negara. Selain Indonesia, peserta berasal dari Malaysia, Kamboja, Singapura, Thailand dan Filipina. (www.umm.ac.id)(mac)

Shared:
Shared:
1